Stress Management; Guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari pasti pernah mengalami hal atau peristiwa yang membuat mereka merasa tertekan, merasa terasingkan, dan merasa gagal dalam mengerjakan sesuatu. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa terjadi karena perilaku orang tersebut, ataupun akibat dari perilaku orang lain yang membuat orang tersebut harus menerima konsekuensinya. Walaupun memang dalam melakukan suatu hal kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan dan harus menerima konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan tersebut, banyak orang mengalami stres, baik dalam hal pekerjaan ataupun dalam bergaul dengan orang lain. Termasuk dalam dunia kerja. Stres sering dikeluhkan oleh para pekerja. Banyaknya masalah dalam lingkungan pekerjaan seperti bobot pekerjaan yang banyak, permasalahan dengan atasan, saingan dengan pekerja lain, dan deadline pekerjaan. Lebih lanjut lagi dalam artikel ini akan membahas mengenai definisi stres dari beberapa tokoh, kemudian wawancara dengan narasumber mengenai stres yang dialami guru anak berkebutuhan khusus, strategi menghadapi stres, dan hal-hal apa yang baik dilakukan untuk mengurangi stres.

Apa itu stres? Bagaimana kita tahu jika kita sedang stres? Kita mungkin pernah mengalami sakit kepala, sakit perut, sakit punggung, atau bahkan capek, gelisah dan depresi. Beberapa orang makan lebih banyak ketika stres, dan ada juga yang susah makan ketika stres. Stres memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Dari perspektif orang awam stres bisa dideskripsikan sebagai perasaan menekan, takut, ataupun gelisah. Stres pertama kali dijelaskan pada tahun 1930 oleh Hans Selye, ketika mengamati sedang mengamati pasien-pasiennya yang menderita berbagai penyakit. Semua penyakit tersebut menunjukkan gejala umum, seperti kelelahan, gangguan nafsu makan, masalah tidur, perubahan suasana hati, masalah pencernaan, dan konsentrasi berkurang. Stres mengacu pada respon fisiologis dan psikologis dalam perubahan atau gangguan yang signifikan atau tidak terduga dalam kehidupan seseorang. Stres juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor nyata atau faktor-faktor yang tidak nyata (Hahn, Payne & Lucas, 2011). Dalam definisi lain stres adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang mempersiapkan kita untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang mengancam atau berbahaya (McShane & Glinow, 2010).  Stress juga merupakan respon adaptif, dan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi, atau peristiwa yang menempatkan tuntutan khusus pada seseorang (Gibson, Ivancevich, Donnelly & Konopaske, 2009). Tidak ada definisi universal tentang stres. Definisi stres tergantung pada pendekatannya. Berikut adalah 3 pendekatan tentang stres menurut Soewondo (2013) yaitu:

Stres sebagai stimulus. Pendekatan in menggambarkan stres sebagai stimulus lingkungan yang dihadapi individu berupa satu keadaan yang mengganggu dan menjadi beban. Hal ini merupakan tuntutan yang mengancam seperti: badai, gempa, longsor, wabah, kematian keluarga, perceraian, dll. Semua hal tersebut merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan dapat menyebabkan ketegangan.

Stres sebagai respon. Pendekatan ini menganggp stres sebagai reaksi fisiologis dan psikologis terhadap stresor. Selye (dalam Soewondo, 2012) mendefinisikan stres sebagai ”respon non-spesifik dari tubuh terhadap setiap tuntutan”. Bila seseorang dihadapkan pada situasi yang dapat menimbulkan stres, terjadi stres respon, ada reaksi kimiawi dalam tubuh, hormon meningkat dan mengalir ke dalam darah, emosi meninggi dan ketegangan menambah.

Stres sebagai interaksi antara individu dan lingkungan. Stres dirumuskan sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representasi dari transaksi khas dan problematik antara seseorang dan lingkungan.

Stres terjadi terhadap siapa saja, dan dimana saja. Stres juga bisa terjadi di dunia pendidikan khususnya para guru. Kasus stres kerja di dunia pendidikan sendiri, menurut hasil studi Sugijanto (dalam Farestu, 2016), menunjukkan bahwa dari 326 responden guru, ia menemukan 5.51% guru yang benar-benar merasa stres dan 60% sampel guru mengatakan bahwa mereka mengalami stres kerja. Studi lain dari Arismunandar (dalam Farestu, 2016) menyimpulkan bahwa 30.27% dari 80.000 guru mengalami stres kerja berat, yang berarti jumlah guru yang mengalami stres kerja ada 24.000 orang. Dalam studi tersebut juga disimpulkan bahwa stres kerja menunurunkan kinerja guru dengan cepat, semakin tinggi tingkat stres yang dialami guru, maka kinerja dan produktivitas kerja guru semakin rendah. Dalam artikel ini akan membahas mengenai stres yang dialami Guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut Kustawan & Yani (dalam Farestu, 2016) anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak-anak secara umum, atau berbeda dengan rata-rata anak seusianya. Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang, menghambat, atau bahkan memiliki kelebihan dalam dirinya. Anak berkebutuhan khusus dibedakan menjadi dua, yaitu anak berkebutuhan permanen dan temporer. Anak berkebutuhan khusus permanen adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan yang disebabkan oleh faktor dalam dirinya, contohnya memiliki hambatan atau gangguan penglihatan, pendengaran, gangguan motorik, autis, hiperaktif dan sebagainya. Sedangkan anak berkebutuhan khusus temporer adalah anak yang memiliki hambatan dari luar diri mereka seperti anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, berasal dari daerah yang terisolasi, dan korban bencana. Menjadi guru yang membimbing Anak Berkebutuhan Khusus bukanlah hal yang mudah. Guru ABK tidak seperti guru-guru pada dasarnya seperti membimbing anak-anak yang normal. Menjadi guru ABK memiliki tantangan tersendiri. Di Indonesia, sudah banyak sekolah-sekolah yang secara khusus menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya di salah satu sekolah swasta di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Sekolah tersebut merupakan sekolah umum seperti sekolah biasanya, namun ada kelas-kelas khusus yang menangani anak berkebutuhan khusus. Untuk menangani anak berkebutuhan khusus biasanya dalam satu kelas memerlukan guru yang secara khusus mengajar dan membimbing anak-anak, dan asisten guru untuk mendampingi anak-anak di kelas, dan membantu proses belajar sehingga memudahkan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu anak-anak berkebutuhan khusus juga diberikan therapy yang biasanya melatih anak untuk menulis, berbicara, dll sehingga mempermudah anak-anak tersebut untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan luar. Dari hasi wawancara dengan narasumber yang merupakan salah satu guru di sekolah tersebut, menurut beliau menjadi guru anak berkebutuhan khusus harus memberikan layanan-layanan khusus untuk membimbing anak-anak tersebut. Dan menjadi guru anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah. Menurut narasumber, untuk menjadi guru ABK haruslah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menangani mereka, disamping itu sangat penting juga untuk bekerja sama dengan orang tua anak. Narasumber mengatakan bahwa hampir setiap detik, gerak-gerik mereka harus diperhatikan karena jika tidak maka anak tersebut bisa membuat ulah seperti ketika sedang memegang penghapus kemudian penghapus tersebut digigit dan dimasukan ke dalam mulut bahkan pernah ada anak yang memakan penghapus tersebut. Dalam hal ini orang tua anak biasanya menyalahkan guru karena dianggap tidak lalai. Menurut narasumber, guru ABK harus memenuhi tuntuntan pekerjaan dan menyeimbangkan dengan membimbing anak. Hal ini menurut narasumber menjadi pemicu timbulnya stres. Terkadang dalam membimbing anak berkebutuhan khusus membutuhkan emosi yang lebih, karena anak berkebutuhan khusus biasanya emosinya labil, sering menyerang tiba-tiba dan melakukan tindakan agresif yang tidak terkontrol lainnya. Terkadang karena stres, narasumber sering kehilangan kesabaran sehingga sering marah. Akan tetapi menurut narasumber, marah yang berlebihan kepada anak berkebutuhan khusus sangat tidak baik. Karena terkadang jika marah berlebihan, perilaku yang muncul pada anak berkebutuhan khusus semakin tidak terkontrol. Menurut narasumber, beliau biasanya hanya bisa bersabar dalam membimbing anak berkebutuhan khusus, karena mereka berbeda dengan anak lainnya. Walaupun beliau sering merasakan stres akan tetapi stres tersebut tidak boleh menjadi penghalang beliau mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Begitupun juga dengan orang lain, stres yang berkepanjangan dan tidak mendapatkan penanganan yang sesuai, lama-kelamaan stres akan memberat dan semakin parah dari hari ke hari. Ada berbagai macam strategi yang dilakukan oleh manusia untuk mengurangi stres. Aamodt (2007) menyarankan beberapa cara yang secara proaktif dapat mengurangi stres;

Exercise. Berolahraga tidak hanya membuat jantung kita kuat, tetapi juga dapat membantu mengurangi tingkat stres pada saat tertentu. Dari narasumber yang diwawancara, beliau mengurangi stres dengan berolahraga ringan seperti jalan kaki pada pagi hari sebelum berangkat kerja.

Laughter. Humor terbukti menjadi strategi yang dilakukan orang untuk mengurangi stres. Dengan tertawa secara tidak langsung kita meluapkan emosi negatif yang kita simpan. Menurut narasumber, beliau juga sering bercanda di waktu kosong ketika sedang bekerja.

Sleep. Beberapa penelitian menemukan bahwa kekurangan tidur memicu terjadinya perilaku seperti kurang konsentrasi hingga depresi. Narasumber mengatakan bahwa beliau menjaga proporsi tidurnya agak tidak kurang tidak berlebihan. Karena menurut beliau cara tersebut bisa untuk mengurangi stres.

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Farestu, E.G. (2016). Stres kerja pada karyawan yang menangani ABK di ”Sekolah Asrama

Autis-Hiperaktif Arogya Mitra Klaten”. Diakses dari http://digilib.uin-suka.ac.id/20865/1/11710001_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2016

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnelly, J.H., & Konopaske, R. (2009). Organizations:

Behavior, Structure, Processes (13th edition). New York: McGraw-Hill/Irwin.

Hahn, D.B., Payne, W.A., & Lucas, E.B., (2011). Focus on Health (10th edition). New

York: McGraw-Hill.

McShane, S.L., Glinow, M.A.V. (2010). Organizational Behavior (5th edition). New York:

McGraw-Hill/Irwin.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Depok: Universitas

Indonesia.

Advertisements

Upaya Mengurangi Tingkat Stres Karyawan dengan Manajemen Stres di Tempat Kerja

Berkembangnya bidang Industri saat ini, menyebabkan semakin kompleks permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dan tuntutan pekerjaanpun semakin meningkat (Mutiasari, 2010). Permasalahan di perkotaan banyak terjadi terutama kecelakaan, polusi udara dan kemacetan. Kemacetan dan polusi udara merupakan permasalahan bagi semua individu, tidak terkecuali karyawan. Kemacetan masih menjadi masalah yang belom terselesaikan di perkotaan. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa kemacetan belom bisa teratasi.  Stresor lingkungan perkotaan yang dialami warga kota tidak pernah berdiri sendiri, melainkan stresor gabungan (multiple stressor), misalnya kemacetan lalu lintas yang meliputi kebisingan dan kesesakan yang merupakan stresor utama, serta stressor lainnya seperti ancaman kriminalitas, suhu udara yang panas didalam kendaraan bisa membuat individu memunculkan emosi (Halim, 2008). Fenomena umum yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ialah road rage. Road rage adalah sindrom umum yang terjadi ketika pengendara menyerang pengendara lain sebagai kemarahan esktrem pada sebuah peristiwa kesalahpahaman dijalan atau lalu lintas kecil hal tersebut diakibatkan beban stres yang dialaminya baik di rumah, tempat kerja dan kemacetan (Halim, 2008). Selain itu, polusi udara yang timbul akibat kemacetan dan populasi jumlah kenderaan merupakan ambient stressor (stressor yang berhubungan dengan lingkungan) paling berbahaya yang ditemui di semua kota besar di dunia terutama di negara-negara berkembang, seperti Jakarta dengan tingkat polusi yang lebih tinggi akibat kurangnya kesadaran warga (Halim, 2008).

Anroga (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa stres adalah sebagai suatu tekanan psikis dan emosi pada seseorang. Aamodt (dalam Putri, 2008) menyatakan bawha Stres terbagi menjadi dua, yaitu eustress dan distress. Eustress sering disebut sebagai stress yang positif, karena stress yang dirubah menjadi energy positif dan menjadi motivasi. Tosi (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa distress sebagai stress yang negatif, karena individu memiliki kelemahan dalam mengatasi lingkungan penuh dengan stress dan rendahnya pertahanan terhadap stress. Menurut penelitian Baker (dalam Putri, 2008) stres kerja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, akibatnya karyawan cenderung sering dan mudah terkena penyakit, sehingga kurang konsentrasi dalam kinerjanya. Stress memiliki hubungan dengan kinerja seseorang. Stres pada tingkat rendah dan sedang, akan menghasilkan individu dalam melaksanakan tugas menjadi lebih baik , serta kinerja yang cepat. Stres pada tingkat yang tinggi dan tingkat sedang akan menghasilkan kinerja yang rendah. Reaksi stres dari waktu ke waktu akan merubah intensitas stres dan dapat berpengaruh negatif pada kinerja (Putri, 2008). Faktor penting dalam stres dan kinerja adalah jenis pekerjaan dan kepribadian dari individu. Menurut Robbins (dalam Putri, 2008) situasi yang penuh dengan stres dapat membuat kinerja karyawan menjadi lebih menantang, namun ada pula kinerja karyawan diberikan dengan situasi yang penuh stres menjadi sering melakukan kesalahan. Menurut Sunyoto dan Burhanudin (2011), gejala dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu gejala fisiologis, gejala psikologis dan gejala perilaku. Gejala fisiologis disebabkan masalah stress pertama kali diteliti oleh ahli bidang ilmu kesehatan dan medis. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut stress dapat menciptakan perubahan dalam metabolism, meningkatkan detak jantung, tekanan darah dan memicu serangan jantung, serta tuntutan kerja yang berlebihan dapat menimbulkan stres, yaitu rentan terhadap penyakit saluran pernapasan dan fungsi kekebalan tubuh. Gejala psikologis ialah akibat stres dalam ketidakpuasaan terhadap pekerjaan. Gejala psikologis lain akibat stres dapat berupa kecemasan, kejenuhan, ketegangan, kesal, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang membutuhkan tuntutan berlebihan dan saling bertentangan, serta wewenang dan tanggung jawab yang tidak jelas, dapat menimbulkan stress atau ketidakpuasaan. Selain itu gejala stres yang alami ialah gejala perilaku yang cenderung mengalami perubahan produktivitas, perputaran karyawan, disamping perubahan meliputi kebiasaan makan, merokok, konsumsi alcohol, kegelisahan dan tidur tidak teratur. Selain itu menurut Iskandar (2010) kepadatan suatu ruang akan menimbulkan stres dalam dirinya.

Karyawan yang mengalami stres. di tempat kerja, biasanya mengalami burnout. Burnout (Mutiasari, 2010) merupakan gejala kelelahan emosional yang disebabkan oleh tingginya tuntutan pekerjaan, yang sering dialami invidiu yang bekerja pada situasi dimana ia harus melayani kebutuhan orang banyak. Burnout merupakan kelelahan fisik, mental dan emosional yang terjadi karena stressyang diderita dalam jangka waktu yang lama, di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi. Menurut Kreitner dan Kinicki (dalam Mutiasari, 2010) burnout adalah akibat dari stress yang berkepanjangan dan terjadi ketika seseorang mulai mempertanyakan nilai-nilai pribadinya. Secara teoritis penyebab munculnya burnout adalah faktor eksternal seperti perubahan iklim, trend maupun tuntutan, faktor atasan, manajemen, pekerjaan, penugasan maupun kebijakan. Karena itu burnout adalah penarikan diri sebagai reaksi atas stres (Mutiasari, 2010).

Stres berkepanjangan dapat mempengaruhi performa kerja karyawan di perusahaan. Produktifitas perusahaan akan menurun, karena stres yang dialami oleh karyawannya. Stres pada karyawan di perusahaan merupakan hal umum dan terjadi dimana-dimana. Perusahaan harus memiliki upaya untuk mengatasi stres yang dialami oleh karyawan-karyawannya untuk mempertahankan produktifitas perusahaan. Perusahaan dapat melakukan atau menerapkan manajemen stres. Tyle (dalam Aamodt, 2010) menyatakan bahwa manajemen stres untuk merubah perilaku menjadi lebih sehat sepenuhnya untuk merespon stres sebelum terjadi, saat terjadi dan setelah terjadi.. Menurut Baron dan GreenBrerg (dalam Andriani, 2012) strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi strategi penanganan invidiual, organisasional dan dukungan sosial.

Strategi penanganan invididual dalam tempat kerja dengan melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif. Artinya jika seorang karyawan merasa diri ada kenaikan ketegangan, karyawan tersebut seharusnya rehat sejenak (time out) terlebih dahulu. cara time out seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja dan pergi ke kamar kecil untuk membasuh muka atau berwudhu bagi orang islam dan sebagainya. Kemudian, melakukan relaksasi dan meditasi bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari libur kerja. Dengan melakukan reklasasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian karyawan yang melakukan rekalsasi dapat membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang menganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa. Selain melakukan meditasi, hal lain yang bisa dilakukan dengan cara melakukan diet dan fitnes. Hal tersebut dengan beberapa cara seperti mengurangi konsumsi dan makanan mengandung lemah, memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran dan melakukan olahraga seperti lari secara rutin (Baron & Greenbreg dalam Andriani, 2010). Strategi selanjutnya ialah strategi Penanganan organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional. Konflik dan ketidakjelasan lebih awal sebagai sebuah penekan individual utama, serta rencana dan pengembangan jalur karir dan menyediakan konseling secara tradisional, organisasi telah hanya menunjukkan kepentingan dalam karir, dan pengembangan kinerja mereka. Individu dibiarkan untuk memutuskan gerakan dan strategi karir.  Strategi dukungan sosial sangat dibutuhkan di dalam tempat kerja, terutama orang terdekat, seperti keluarga, teman kerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, serta dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh (Landy dalam Andriani, 2010). Dengan kata lain stres bisa diatasi oleh karyawan diperusahaan dengan menerapkan manajemen stress, hal tersebut bisa mengurangi tingkat stres yang dialami oleh karyawan ditempat kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Aamodt, M. G. (2010). Industrial or Organizational Psychology. Sixth Edition. United States of America.

Andriani, F. (2012). Skripsi. Analisis Tingkat Stres Kerja Karyawan non Manajerial pada PT Astrazeneca Indonesia. Skrispi tidak dipublikasikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok.

Halim, D. K. (2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan. Edisi Pertama. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Iskandar, Z. (2012). Psikologi Lingkungan Teori dan Konsep. Bandung: PT Refika Aditama.

Mutiasari. (2010). Strategi Mengatasi Burnout di Tempat Kerja. Diakses pada tanggal 21 maret 2017 melalui http://download.portalgaruda.org/article.php?article=313661&val=7575&title=STRATEGI%20%20MENGATASI%20%20BURNOUT%20DI%20TEMPAT%20%20KERJA

Putri, P. H. S. (2008). Skrispi. Hubungan Antara Stres Kerja dengan Resiko Kecelakaan Kerja pada Karyawan. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sunyoto, D., & Burhanudin. (2011). Perilaku Organisasional. Jakarta: PT Buku Seru.

Stress Management: Lembur Kerja menyebabkan Kematian

Salah satu tren positif yang terjadi belakangan ini adalah tingginya antusias sebagian masyarakat untuk bekerja. Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan kepuasan, tantangan, bahkan dapat pula menjadi gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah diketahui, desain dan organisasi kerja yang tidak memadai, seperti kecepatan dan beban kerja yang berlebihan, merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja.  Stres di tempat kerja merupakan hal yang hampir setiap hari dialami oleh para pekerja di kota besar. Masyarakat pekerja di kota-kota besar seperti Jakarta sebagian besar merupakan urbanis dan industrialis yang selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja yang semakin beragam dan kadang bertentangan satu dengan yang lain, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, kesehatan, dan masih banyak tantangan atau tekanan lainnya yang membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Stres di tempat kerja menjadi suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Davis dan Newstrom (2001) mengatakan apabila karyawan tidak memiliki stres maka tantangan kerja tidak ada dan akibatnya prestasi kerja juga rendah. Semakin tinggi stres karena tantangan kerja, maka akan mengakibatkan bertambahnya prestasi kerja, tetapi stres kerja juga berpotensi menurunkan prestasi. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi individu dalam lingkungan kerja. Setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai situasi stres. Pelaksanaan kerja tergantung dari beberapa stres, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa di dalam organisasi stres juga dapat dipengaruhi kinerja karyawan. Selain stres kerja, semangat kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi perusahaan terutama yang menyangkut kinerja karyawan.

Stres manajemen adalah suatu program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stress dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih baik dalam menangani stres dalam kehidupan (Schafer, 2000: 18). Stress Management, mengajarkan individu bagaimana untuk menilai peristiwa stress. Pengorganisasian lingkungan yang buruk dapat menjadi penyebab stres yang utama. Apabila lingkungan diorganisir dengan baik dan menyenangkan, kemudian dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Beberapa orang yang mengalami stres memerlukan lingkungan yang ramai untuk menanggulangi stres. Program stres manajemen mengajarkan individu bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatasi stres, dan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa program stres manajemendalam lingkup yang luas, mengajarkan berbagai teknik, sementara yang lain fokus pada teknik tertentu seperti meditasi. Didalam stres manajemen terdapat Meditation and Relaxation yang dapat digunakan untuk menanggulangi stress, merupakan sistem kontrol mental seseorang. Peneliti telah menemukan bahwa meditasi dan relaksasi membawa  manfaat bagi fisik  dan  psikologis.

Pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja. Namun perlu diketahui juga bahwa stres secara ilmiah tidak senantiasa merupakan kondisi yang negatif, yaitu sesuatu yang mengarah kepada timbulnya penyakit fisik maupun mental, serta perilaku yang tidak wajar. Stres juga merupakan kekuatan positif yang diperlukan untuk menghasilkan prestasi tinggi. Sampai titik tertentu, bekerja dengan tekanan batas waktu (deadline) dapat merupakan proses kreatif yang merangsang. Dalam dunia pekerjaan, sering timbul berbagai masalah sehubungan dengan stres dan kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya stres. Baik disadari maupun tidak disadari, pekerjaan seseorang menimbulkan stres pada dirinya. Hal ini pasti akan tampak dalam kurun waktu yang panjang, karena memang manusia setiap harinya berkecimpung di tempat kerja nya lebih dari sepertiga kali dari total waktu yang tersedia. Setyawati (2010) mengatakan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, beberapa pengaruh shift kerja terhadap tubuh yaitu; adanya pengaruh pada kualitas tidur, kapasitas bekerja pada malam hari kurang, shift kerja dapat mempengaruhi kapasitas mental, menyebabkan gangguan kejiwaan, serta dapat memicu gangguan pencernaan pada pekerja shift malam atau lembur. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi bila jumlah jam kerja menjadi berlebihan, ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas kerja, tetapi juga sering meningkatkan jumlah absensi dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja

Namun, stres di tempat kerja juga berhubungan dengan kesehatan karena dapat menimbulkan stres. Dari segi dunia, ternyata semangat bekerja keras ini menimbulkan dampak terhadap kesehatan seseorang. Bekerja terlalu keras dengan tambahan faktor lain seperti kurangnya istirahat atau tidur dan kurang  olahraga membuat tubuh menjadi kurang bugar dan lebih mudah sakit. Seperti kasus yang dikutip oleh Kompasiana, seorang karyawan perusahaan periklanan internasional di Beijing meninggal dunia karena diduga kelelahan. Li Yuan adalah seorang karyawan yang bekerja di bidang periklanan di China. Di usianya yang ke-24, Yuan diketahui meninggal pada bulan Mei 2013. Sebulan sebelumnya, Yuan diketahui seringkali bekerja terlalu keras dan tanpa henti. Dia seringkali bekerja lembur hingga pukul 11 malam di perusahaannya Ogilvy & Mather China. Sebuah survei yang digelar harian pemerintah, Global Times  menemukan fakta bahwa dua dari tiga responden mengatakan kondisi kesehatan mereka sangat buruk.

Hubungan antara masing-masing perubahan psikologis seorang individu tidak banyak diketahui secara mendetail, tetapi kebanyakan peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis (stressor) termasuk stres akibat pekerjaan merupakan faktor pemicu yang penting untuk timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan beberapa penyakit neuropsikiatris. Stressor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja (Harrianto, 2009). China memang memiliki angka yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Jepang, untuk jumlah karyawan yang meninggal akibat pekerjaan. Sekitar 600.000 karyawan di China meninggal akibat ‘kelelahan’ setiap tahunnya, seperti dilansir oleh The China Youth Daily. Kebanyakan penyebabnya berkaitan dengan stres, stroke, dan serangan jantung. Beberapa gejala yang dialami adalah insomnia, anoreksia, serta rasa sakit pada dada. Pada hari Senin pukul lima sore, Yuan tiba-tiba saja berdiri dan mengeluhkan sakit pada bagian dadanya. Setelahnya dia jatuh tak sadarkan diri. Yuan segera dilarikan ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Dokter menjelaskan bahwa dia meninggal akibat serangan jantung. Seperti yang dilansir oleh berita di Kompasiana, kurangnya tidur dialami oleh Yuan karena jam kerja yang tidak produktif, dan terlalu sering lembur hingga berhari-hari. Kesehatan dan stres dalam dalam diri Yuan sangat berpengaruh karena stres yang dialami dapat diketahui dari gaya hidup seseorang dan bagaimana seseorang menjalani hidup sehat yang tepat.

Salah satu hambatan yang berhubungan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah kelelahan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun. Para responden mengaku mereka sangat lelah dan tertekan karena pekerjaan mereka. Namun, mereka juga merasa cemas saat tak mendapatkan tekanan apa pun. Robbin (2002) mengatakan stres merupakan kondisi dinamis dimana seseorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan sesuai dengan harapan dari hasil yang ingin dia capai dalam kondisi penting dan tidak menentu.

Pengaruh sumber-sumber stres kerja terhadap kinerja karyawan yang menunjukkan bahwa individual stres berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan. Seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Berdasarkan kasus diatas, ia tidak memiliki manajemen stres dan mengelola stres dengan baik karena menimbulkan kematian. Stres dapat berujung kematian apabila individu tidak mengelola atau menanggulangi manajemen stress nya dengan baik. Oleh karena itu kita harus mengelola manajemen stres dengan baik, mengukur diri, dan menjaga kesehatan tentunya.

Daftar Pustaka

 Aamodt, M. G. (2010). Industrial / Organizational Psychology: An Applied Approach. Sixth

Edition. United States of America : Wadsworth Cengage Learning.

Davis, Keith dan Newstrom W,J. (2001). Perilaku Dalam Organisasi. Jilid Dua Edisi Ketujuh.

Ciracas-Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hardoko, E. (2013). Sebulan Lembur, Karyawan China Tewas di Kantor. Diakses dari

(http://internasional.kompas.com/read/2013/05/16/14194236/Sebulan.Lembur..Karyawan.China.Tewas.di.Kantor). Diakses pada hari Kamis, 16 Maret 2017.

Harrianto, R. (2009). Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC

Robbin, P.S. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. (2006). Human Adjustment. United Sstates of America: McGraw Hill.

Schafer, Walt. (2000). Stress Management For Wellness: Fourth Edition. United States of

 America: Wadsworth.

Setyawati, K. (2010). Selintas Tentang Kelelahan Kerja. Yogyakarta: Amara Books

Sofwan, R. (2013). Bugar Selalu di Tempat Kerja. Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer

Kelompok Gramedia.

Stress akibat Tuntutan Pekerjaan dan Dampaknya.

     Kehidupan sehari-hari individu tidak selamanya berjalan dengan baik pasti ada peristiwa yang menimbulkan rasa ketidaknyamanan dan tekanan. Tidak jarang hal tersebut membuat seorang individu mengalami stress. Hans Selye (dalam Kalat, 2009) mendefinisikan stress sebagai respon tubuh yang tidak spesifik untuk setiap tuntutan yang ada. Respon tersebut dapat berupa kesulitan konsentrasi, mudah marah,  merasa lelah dan lesu, dan lebih mudah jatuh sakit. Sedangkan, peristiwa atau situasi yang penuh dengan tekanan disebut Stressor (Wade & Tavris, 2008). Masalah pekerjaan, kemacetan, kecelakaan, konflik dengan teman semuanya dapat menjadi stressor dalam kehidupan individu.

    Hal yang menarik dari penyebab stress dalam kehidupan individu yaitu masalah pekerjaan. Masalah-masalah yang timbul dalam suatu pekerjaan tentunya sudah sering terjadi seperti konflik dengan sesama teman kerja, konflik dengan atasan, tuntutan pekerjaan yang tinggi dan lain sebagainya.  Selain itu, terdapat penelitian yang dilakukan Cooper (dalam Nugrahini, 2014) yang menunjukkan bahwa stres kerja banyak terjadi pada individu dengan latar belakang dibidang pelayanan, yaitu orang-orang yang bekerja pada bidang pelayanan kemanusiaan dan berkaitan erat dengan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, dapat tercermin dari tugas-tugas yang dilakukan oleh anggota kepolisian. Tugas dari anggota kepolisian yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

      Jika dilihat dari tugasnya, anggota kepolisian memiliki tugas dengan resiko bahaya yang tinggi dan juga beban dan tuntutan yang tinggi pula. Menjaga keamanan dan ketertiban merupakan hal yang tidak mudah dilakukan terlebih lagi semakin bertambahnya masyarakat. Selain itu, tidak sedikit pula tindak kriminal yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut merupakan tugas kepolisian untuk menangkap perilaku kriminal dan melindungi korban dari tindak kriminal tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut tidak jarang polisi memiliki tugas dengan target yang cukup berat. Dapat dibayangkan beban dan tanggung jawab yang harus ditanggung oleh seorang anggota kepolisian. Setiap harinya, mereka harus siap secara fiisk maupun psikologis. Hal ini sesuai dengan salah satu penyebab stress yaitu job demands. Job demands adalah aspek dari pekerjaan yang membutuhkan usaha fisik atau psikologis yang berkelanjutan (McShane&VonGlinow, 2010). Salah satu contoh job demands yaitu beban pekerjaan yang berlebihan.

    Hal di atas dibenarkan oleh anggota Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polres Tangerang Selatan mengenai hal apa yang sering menimbulkan stress pada anggota kepolisian. Berdasarkan wawancara yang saya lakukan, ia memaparkan bahwa hal yang paling menimbulkan stress yaitu tugas yang diberikan. “Terkadang satu orang anggota polisi tidak hanya mengani satu kasus bahkan ada yang mencapai 20 kasus mungkin juga bisa lebih” ungkapnya. Cordes dan Dougherty (dalam Aamodt, 2010) mengemukakan tedapat tiga karakteristik pekerjaan yang dapat menyebabkan stress. Pertama, Role Conflict yang muncul ketika harapan individu terhadap pekerjaan dan apa yang individu pikirkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Kedua, Role Ambiguity  yang muncul ketika tugas pekerjaan individu dan tindakan yang diharapkan tidak dijelaskan dengan jelas. Ketiga, Role Overload yang muncul ketika individu merasa tidak cukup kemampuan atau sumber-sumber di tempat kerja untuk menyelesaikan pekerjaan atau mempersepsikan bahwa tugas tidak dapat selesai pada waktu yang ditentukan. Jika dilihat dari kasus anggota kepolisian yang telah dijelaskan di atas, karakteristik pekerjaan yang menimbulkan stress yaitu role overload. Karena, ia juga menambahkan “Dalam satu bulan, kita sebagai penyidik harus melaporkan semua kasus tersebut sudah diproses sampai sejauh mana, dan terkadang kasus yang sedang ditangani pelakunya tidak ada atau masih buron”.

    Hal di atas juga sesuai dengan sumber stress yang dikemukakan oleh Cary Cooper (dalam Azzaniar, 2010) yaitu Work overload  atau beban kerja yang berlebihan yang biasanya terbagi dua, yaitu quantitative dan qualitative overload. Quantitative overload adalah ketika kerja fisik pegawai melebihi kemampuannya. Hal ini disebabkan karena pegawai harus menyelesaikan pekerjaan yang sangat banyak dalam waktu yang singkat. Qualitative overload terjadi ketika pekrejaan yang harus dilakukan oleh pegawai terlalu sulit dan kompleks. Kedua hal ini sesuai dengan tugas yang harus dilakukan anggota polisi yang telah digambarkan di atas.

     Cooper & Davison (dalam Ambasari, 2011) juga membagi penyebab stress pada pekerjaan menjadi dua, yaitu Group Stressor dan Individual Stressor. Group Stressor adalah penyebab stress yang berasal dari situasi maupun dari keadaan di dalam perusahaan. Sedangkan, Individual Stressor adalah penyebab stress yang berasal dari dalam diri individu. Berdasarkan wawancara yang saya lakukan, penyebab stress pada anggota kepolisian ini yaitu group stressor. Karena, ia mengatakan bahwa terkadang banyak pelaku kejahatan atau kriminal yang memiliki kerabat atau saudara di kepolisian yang memiliki pangkat lebih tinggi dari dirinya. Hal ini menyulitkan proses penanganan kasus dan menambah beban polisi itu sendiri. Ia harus melaporkan sejauh mana kasus tersebut di proses namun disisi lain ada tuntutan yang menghambat kasus tersebut diproses. Berdasarkan kondisi-kondisi yang telah digambarkan tersebut, dapat dikatakan bahwa pekerjaan polisi memiliki tingkat stress yang tinggi.

    Stress dalam pekerjaan dapat memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan dari kehidupan individu terutama keluarga. Seperti kasus pada tahun 2016 yang dikutip oleh Kompas, anggota Brimob (Brigade Mobil) Polda Metro Jaya, Brigadir ACK yang menembak mati istrinya yang kemudian pelaku melakukan upaya bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane (dalam Arisona, 2015) mengemukakan bahwa fenomena anggota kepolisian yang mengalami stress dan berakibat penyalahgunaan senjata api adalah akibat tekanan berat dalam pekerjaan. Stress kerja yang dialami oleh anggota kepolisian ternyata dapat berdampak sangat fatal baik bagi keluarga maupun bagi dirinya sendiri. Melihat fenomena tersebut, kriminolog Adrianus Meliala yang dikutip dari okezon.com mendorong agar setiap pimpinan di kepolisian mengetahui gejala kondisi psikologis anak buah masing-masing untuk menghindari berbagai kasus kekerasan yang dilakukan oleh anggota Polri. Akan tetapi, hal tersebut dihambat oleh keterbatasan dana jika secara kondisi psikologis anggota Polri harus di cek secara berkala.

        Selain berdampak pada psikologis seseorang, stress yang berkepanjangan juga dapat berdampak pada kesehatan orang tersebut. Hans Selye mengemukakan bahwa efek stress yang paling berbahaya dihasilkan dari sekresi yang berkepanjangan dari glucocorticoids (Carlson, 2010). Walaupun efek jangka pendek dari glucocorticoids ini penting, akan tetapi jika terlalu banyak akan berbahaya. Efeknya yaitu dapat meningkatkan tekanan darah, merusak jaringan otot, diabetes, dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

            Berikut ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat stress yang dialami. Hal yang pertama yang dapat dilakukan yaitu mendinginkan kepala. Cara yang paling cepat untuk mengatasi tekanan fisiologis dari stress adalah dengan menenangkan diri dan mengurangi rangsangan fisik tubuh melalui meditasi atau relaksasi (Wade&Tavris, 2008). Meditasi atau relaksasi ini dapat menurunkan tekanan darah dan hormone stress juga dapat mengembangkan tekanan emosional. Hal kedua yang dapat dilakukan yaitu dengan mendapatkan dukungan sosial, seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja. Karena, kesehatan kita tidak hanya pada apa yang terjadi di dalam tubuh dan pikiran kita, tetapi tergantung pada apa yang terjadi di dalam hubungan kita dengan orang lain (Wade&Tavris, 2008). Jadi, cobalah untuk mengatasi stress yang anda alami untuk mencegah dari dampak-dampak yang dihasilkan dari stress.

Daftar Referensi

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology.  6th Ed. Belmont: Wadsworth                  Cengage Learning

Ambarsari, R. (2011). Sumber-Sumber Stres Kerja yang Mempengaruhi Kinerja Salesman PT.                   Enseval Putera Megatrading Tbk Cang Jakarta II. Diakses pada tanggal 14 Maret 2017 dari

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/2989/1/RETNO%20AMBARSARI-FPS.PDF

Arisona, A.A. (2015). Perbedaan Tingkat Stres kerja antara Anggota Polri Fungsi Reserse dengan Satlantas di Salatiga. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017 dari

http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/8720/2/T1_802008607_Full%20text.pdf

Azzaniar, Q. (2010). Hubungan antara Prokastinasi dan Stres Kerja pada Pegawai Negeri Sipil. Diakses pada tanggal 14 Maret 2017 dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20617/3/Chapter%20II.pdf

Carlson, N.R. (2010). Physiology of Behavior. 10th  Ed. Boston: Pearson International Edition

Kalat, J.W. (2009). Biological Psychology. 10th Ed. Belmont: Wadsworth Cengage Learning

McShane, S.L., dan Von Glinow, M.A.  (2010). Organizational Behavior: Emerging Knowledge and Practice for The Real World. 5th Ed. New York: McGraw-Hill

Nugrahini, L. (2014). Hubungan antara Beban Kerja dengan Stres Kerja pada Anggota Polisi di Polresta Surakarta. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017 dari

http://eprints.ums.ac.id/37720/2/04%20BAB%20%20I.pdf

Virdhani, M. H. (2016). Kriminolog: Tingkat Stres Profesi Polisi Tinggi. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017 dari

http://news.okezone.com/read/2016/04/02/338/1351961/kriminolog-tingkat-stres-profesi-polisi-tinggi

Wade, C., & Tavris, C. (2007). Psikologi. 9th Ed. Jakarta: Erlangga

Langkah dan Cara Pengelolaan Stress Dalam Pekerjaan

Stres di tempat kerja merupakan hal yang dialami hampir setiap hari oleh para pekerja. Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2011) mendefinisakan stres sebagai respon adaptif yang dikelola oleh perbedaan individu, dimana konsekuensi dari tindakan, situasi, atau peristiwa yang menempatkan tuntutan khusus pada seseorang. Masyarakat yang merupakan pekerja urbanis maupun industrialis selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, dan berbagai macam tantangan lainnya sehingga membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin dapat dihindari oleh para pekerja.

Stres di tempat kerja merupakan suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan tekanan-tekanan yang berlangsung terus-menerus dan memiliki potensi menimbulkan stres bagi pekerja. Ada sebuah penelitian di Indonesia yang pernah dilakukan oleh sebuah lembaga manajemen di Jakarta pada tahun 2002 yang menemukan bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan, PHK, pemotongan gaji, dan keterpaksaan untuk bekerja pada bidang kerja yang tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki merupakan stressor utama pada saat itu. Gibson, Ivancevich, Donnelly, Konopaske (2009) menyebutkan bahwa stressor peristiwa atau situasi eksternal yang berpotensi membahayakan atau mengancam individu.

Soewondo (2012) membagi stressor menjadi tiga, yaitu stressor fisik, stressor sosial, stressor psikologis, dan stressor yang berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan seperti menikah, perceraian, meninggalnya seorang anggota keluarga, dan anak yang meninggalkan rumah. Ada juga beberapa faktor penyebab stres di tempat kerja yang disebutkan oleh Robbins dan Judge (2010), yaitu faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor pribadi. Kemudian, Aamodt (2010), menyebutkan beberapa faktor lain dari stres, yaitu minor frustration, forecasting, dan residual stress.

Contoh kasus yang saya gunakan adalah berita banyaknya karyawan yang kehilangan tidur, yang bersumber dari kompas.com, yang ditulis oleh Ayunda Pininta (2016). Menurut survei dari 3.200 karyawan yang dilakukan oleh CareerBuilder, setidaknya sekitar satu dari empat karyawan mengatakan, pikiran buruk tentang pekerjaan terjadi sedikitnya sekali dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Survei lain yang dilakukan sebelumnya, yang melibatkan lebih dari 1.400 karyawan di berbagai negara, bahkan menghasilkan angka yang lebih tinggi: tiga dari empat karyawan kehilangan tidur karena masalah pekerjaan. Peneliti menjelaskan, itu sangat mungkin terjadi karena pekerjaan kerap memberikan tekanan bagi karyawannya, sehingga karyawan sering terjebak dalam kondisi sulit tidur karena pikiran atau stres akan pekerjaan mereka. Kasus karyawan yang berhubungan dengan stres melompat 28 persen selama tiga tahun belakangan, menurut data dari penyedia program kesehatan karyawan Workplace Options, yang melihat data dari lebih dari 100.000 karyawan, dan memiliki kepentingan dalam membantu karyawan mengatasi stres tersebut. “Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres kerja adalah sumber utama stres bagi orang dewasa, khususnya di Amerika. Kasus tersebut telah meningkat secara progresif selama beberapa dekade terakhir,” menurut peneliti dari The American Institute of Stress. Salah satu alasan yang membuat kasus stres pada karyawan meningkat ialah penggunaan teknologi. Sehingga karyawan terhubung dengan pekerjaan lebih sering dari sebelumnya. “Jam kerja 9-5 kini berubah menjadi 24/7,” kata konsultan kerja Kristi Daniels dari Orange County. “Batas antara pekerjaan dan kehidupan menjadi kabur.” Selain itu, dalam beberapa kasus, seorang karyawan menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi. “Banyak perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, dan karyawan sendiri tidak tahu apakah atasan mereka berencana untuk mengisi posisi tersebut,” kata Rosemary Haefner, kepala sumber daya manusia di CareerBuilder. “Karena itu, beban kerja telah meningkat, namun tidak sejalan dengan kenaikan gaji.” “Karyawan yang mengambil tanggung jawab lebih, multi-tasking, harus membagi waktu mereka untuk banyak tugas yang berbeda, cenderung membuat karyawan lebih banyak membuat kesalahan, yang pada gilirannya menyebabkan lebih banyak stres,” kata AJ Marsden, seorang asisten profesor dan psikolog di Beacon College di Leesburg. Terlebih lagi, kesulitan tidur dapat membuat seseorang lebih sulit untuk mengelola stres, ujar psikoterapis Holly Parker, yang mengajar di Harvard untuk topik psikologi.

Berdasarkan berita diatas, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab stres dalam pekerjaan adalah faktor organisasi, dimana dalam kasusnya, konsultan kerja di Orange County menyatakan bahwa jam kerja yang biasanya dimulai pukul 9 pagi hingga 5 sore, berubah menjadi 24/7 yang berarti 24 jam sehari dalam seminggu dan menyebabkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan menjadi tidak stabil. Faktor lingkungan dalam stres pekerjaan pun ditemukan dalam berita diatas. Disebutkan bahwa ada karyawan yang menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi, ketika banyaknya perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, sehingga karyawan cenderung lebih banyak membuat kesalahan yang menyebabkan stres.

 

Jadi, langkah dan cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengelola stress dalam pekerjaan? 

Ada beberapa aspek dalam pengelolaan stress dengan pendekatan individual menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011), yaitu:

Sama halnya seperti makan, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur juga merupakan cara yang tidak efektif dalam pengelolaan stress. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7-8 jam tidur di malam hari. Adakalanya, seseorang memiliki waktu tidur yang sedikit sekali selama hari kerja dan mencoba untuk tidur dengan waktu yang lama selama akhir minggu, seperti 14 jam tidur sekali atau tidur sebentar di siang hari. Sangat direkomendasikan untuk setiap orang membudayakan kebiasaan tidur sehat agar mendapatkan istirahat yang cukup tanpa obat penenang dan perangsang.

  • Olahraga

Olahraga aerobik 3 kali seminggu selama 20 sampai 30 menit merupakan salah satu cara untuk mengelola stress secara efektif. Pertama, olahraga membutuhkan fokus pada pernafasan, dimana bernafas secara dalam-dalam merupakan kunci dalam pengelolaan stress. Kedua, olahraga dapat meringankan stres melalui pelepasan endorphin di dalam otak.

  • Nutrisi

Ketika seseorang sedang stres, mereka seringkali tidak makan atau makan secara buru-buru, dimana seharusnya ketika sedang stres, mereka harus makan teratur dengan nutrisi yang baik. Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit merupakan cara yang tidak efektif untuk mengatasi stres dan bahkan dapat mengarah kepada masalah kesehatan yang serius seperti obesitas, gangguan makan, diabetes, dan hipertensi.

  • Pendekatan pikiran-tubuh
  1. Terapi pijat yang biasanya melibatkan memegang, menekan, dan bergerak di titik stres tertentu pada tubuh untuk menghilangkan stres dari area tersebut.
  2. Akupuntur yang bertujuan untuk melepaskan aliran energi yang terhambat di dalam tubuh dan memperoleh keseimbangan kembali.
  3. Obat ayuverba yang merupakan ilmu kehidupan dan juga pendekatan holistic dalam pengelolaan stres yang menggabungkan yoga, herbal, makanan tertentu, pijatan, dan meditasi.

Mengelola waktu secara efektif juga dapat membantu untuk mengurangi stres dengan merasa lebih terkendali, memiliki rasa pencapaian dan rasa dari tujuan hidup menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011). Langkah pertama dalam pengelolaan waktu untuk mengurangi stres adalah menilai kebiasaan diri dengan cara menulis kembali hal apa saja yang dilakukan untuk menghabiskan waktu dan mengurangi penghabisan waktu dalam tugas yang kurang penting. Langkah kedua adalah menggunakan sebuah planner untuk mengelola waktu lebih efektif. Jadwalkan waktu bekerja, beristirahat dan waktu bebas. Langkah terakhir adalah menetapkan dan memprioritaskan tujuan. Menetapkan tujuan seminggu dalam setiap harinya dapat membantu untuk mengurangi stres. Apabila sesuatu yang tidak terduga mengganggu jadwal, ubahlah rencana dengan tidak membuang seluruh jadwal yang ada.

Pengelolaan stres dalam pekerjaan dapat dilakukan dengan pendekatan organisasi yang dinyatakan oleh Robbins dan Judge (2010). Feedback dari tujuan mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja pekerjaan sebenarnya yang hasilnya adalah kurangnya frustasi dan stres yang dirasakan oleh karyawan. Merancang ulang pekerjaan untuk memberi karyawan tanggung jawab lebih, pekerjaan yang lebih berarti, otonomi lebih, dan meningkatkan feedback dapat mengurangi stres karena faktor-faktor ini memberikan karyawan kendali aktifitas pekerjaan yang lebih baik dan kurangnya ketergantungan terhadap karyawan lainnya. Pemimpin juga harus meningkatkan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Dengan memberikan karyawan suara dalam keputusan yang secara langsung mempengaruhi kinerja pekerjaan mereka, pemimpin dapat meningkatkan kendali karyawan dan mengurangi peran stres. Langkah terakhir pengelolaan stres dalam pekerjaan dengan pendekatan organisasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan komunikasi formal organisasi dengan karyawan.

 

referensi:

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach, 6th edition. Belmont, CA: Wadsworth Cengage Learning.

Gibson, J.L, Ivancevich, J.M., Donnelly, J.H., Konopaske. R. (2009). Organizations: Behavior Structure, Processes, 13th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Hahn, D.B., Payne, W.A., Lucas, E.B. (2011). Focus on Health, 10th edition. New York, NY: McGraw-Hill.

Ivancevich, J.M., Konopaske. R., & Matteson. M.T. (2011). Organizational Behavior and Management, 9th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Pininta, A. (2016). Khawatirkan Pekerjaan, Banyak Karyawan Kehilangan Waktu Tidur. http://health.kompas.com/read/2016/03/14/200900323/Khawatirkan.Pekerjaan.Banyak.Karyawan.Kehilangan.Waktu.Tidur. Diakses Pada Tanggal 17 Maret 2017.

Robbins, S.P., Judge, T.A. (2010). Organizational Behavior: 14th edition. Prentice Hall: Pearson Education, inc.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia: LPSP3 UI.

WORK-LIFE BALANCE PADA WANITA YANG BEKERJA

Wanita yang bekerja merupakan hal yang sudah biasa di zaman sekarang ini.  Faktor pendidikan memiliki andil yang cukup besar terhadap meningkatnya partisipasi wanita dalam pasar kerja. Faktor ekonomi yaitu meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan faktor sosial yaitu adanya unsur prestige (gengsi) terutama bagi wanita yang berpendidikan tinggi serta menganggap bekerja merupakan salah satu pembuktian atau aktualisasi diri (Putri & Purwanti dalam Laela, 2015). Pada tahun 2000, tiga per lima wanita bekerja dan pada usia 25 sampai dengan 44 tahun sebanyak 75% wanita bekerja, 60% wanita bekerja dan memiliki anak di bawah usia 12 tahun, dan wanita yang akan bekerja di luar rumah selama kehidupan dewasa adalah 90% (Betz dalam Utami, 2011). Sementara, peningkatan jumlah tenaga kerja terjadi di Indonesia berdasarkan Survei Angkatan Kerja yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, menunjukkan bahwa pada tahun 2009 sebanyak 39,9 juta wanita bekerja dan pada tahun 2012 jumlah tersebut meningkat hingga mencapai 41,7 juta wanita yang bekerja (dalam Laela, 2015).

Individu yang bekerja sering mengalami stress baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar penelitian mengenai gender dan stress bertentangan. Banyak penelitian bahwa perempuan lebih stress dan dua kali lebih beresiko mengalami depresi dibandingkan laki-laki. Penelitian lain menyatakan bahwa gender bukanlah penyumbng stress. Saat ini, mungkin interpretasi terbaik dari penelitian mengenai seks dan stress menunjukkan bahwa wanita lebih sering mengalami stress dibandingkan pria (misalnya, pelecehan seksual, konflik antara kerja dan keluarga) dan laki-laki dan perempuan mungkin mempunyai perbedaan respon terhadap beberapa jenis stress. Salah satu sumber strees terjadi karena faktor personal yaitu masalah diluar pekerjaan seperti keluarga dan hubungan intim, perkawinan, perceraian, masalah kesehatan, masalah keuangan, dan membesarkan anak-anak. Sumber  stress yang biasanya terjadi pada pekerja yaitu menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaan (Aamodt, 2010). Asiedu-Appiah et al. (2013) berusaha untuk meneliti kebijakan dan praktek keseimbangan kehidupan kerja di lembaga perbankan di Ghana dan bagaimana praktek-praktek ini dapat membantu dalam mengelola tingkat stres, dan hasilnya menunjukkan bahwa tingkat keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan yang baik akan mengurangi stres kerja karyawan.

Wanita yang bekerja mempunyai peran dan tanggung jawab di dalam pekerjaannya serta di kehidupan pribadinya. Terlebih jika wanita yang bekerja tersebut telah menikah, tentunya memiliki sebuah tantangan tersendiri dibandingkan dengan wanita yang belum menikah. Hal tersebut karena wanita yang telah menikah dan bekerja memiliki tugas dan tanggung jawab yang lebih banyak sehingga cenderung mengalami kebimbangan antara perannya sebagai pekerja dan sebagai ibu rumah tangga (Utami, 2011). Tantangan yang mungkin muncul adalah konflik peran ganda yang menuntut waktu dan tenaga tambahan serta adanya persaingan dengan suami untuk pemenuhan kebutuhan (Prihandhany dalam Laela, 2015). Konflik peran terjadi ketika kepatuhan individu untuk sekumpulan harapan mengenai konflik pekerjaan dengan kepatuhan untuk sekumpulan harapan lain (Ivancevich, Konopaske, Matteson, 2008). Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life balance).

Work-life balance yaitu mengenai orang-orang yang memiliki kontrol atas kapan, dimana, dan bagaimana mereka bekerja. Hal itu dicapai ketika hak individu untuk hidup terpenuhi di dalam dan di luar pekerjaan yang diterima dan dihormati sebagai norma, untuk saling menguntungkan individu, bisnis dan masyarakat. Singkatnya, work-life balance merupakan kemampuan seorang untuk dapat meyeimbangkan antara pekerjaan dengan hal diluar pekerjaan (Klopping, 2011). Mereka yang mencapai keseimbangan ini cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi mengenai kepuasan dengan pekerjaan mereka dan kehidupan secara umum, serta menurunkan tingkat stres dan depresi (Rife dan Hall, 2015). Sebuah survei oleh Society of Manajemen Sumber Daya Manusia (SHRM) menunjukkan bahwa karyawan menilai keluarga merupakan prioritas yang paling penting, namun hal tersebut sulit dicapai karena kesibukan mereka. Banyak karyawan yang masih merasa gagal ketika mencoba untuk menyeimbangkan tuntutan kerja dan non-kerja (Rife dan Hall, 2015). Akan tetapi, work-life balance yang tidak tercapai akan berpengaruh terhadap kepuasan kerja atau hidup, komitmen terhadap organisasi, prestasi kerja, dan kesehatan (Paludi, 2014). Penelitian menunjukkan bahwa karyawan dengan konflik keluarga dan pekerjaan beberapa kali lebih mungkin untuk menderita mood, kecemasan, dan gangguan penyalahgunaan zat daripada karyawan tanpa konflik. Upaya organisasi untuk mengurangi konflik antara pekerjaan dan kehidupan  yang dirancang untuk membantu karyawan mengurangi tingkat stres mereka dan dengan demikian meningkatkan kesehatan mental dan fisik mereka(Aamodt, 2010)

Terdapat lima work-life balance yang paling umum yaitu waktu kerja yang fleksibel dan terbatas, pembagian kerja, telecommuting, cuti pribadi, dan dukungan perawatan anak. Pertama, waktu kerja yang fleksibel  dan terbatas merupakan cara penting untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja adalah membatasi jumlah jam yang karyawan untuk bekerja dan memberi mereka fleksibilitas dalam penjadwalan jam kerja. Kedua, dengan cara membagi posisi karir antara dua orang sehingga mereka mengalami lebih sedikit stres berdasarkan waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ketiga, Telecommuting yaitu mengurangi waktu dan stress bekerja dengan memenuhi kewajiban keluarga, seperti meninggalkan kantor sementara untuk menjemput anak di sekolah. Keempat, cuti pribadi yang biasanya ditawarkan oleh perusahaan seperti cuti bersalin, cuti ayah, cuti untuk merawat keluarga baru atau cuti untuk mengambil keuntungan dari pengalaman pribadi. Terakhir,  dukungan perawatan anak (McShane dan Von Glinow, 2010).

Terdapat beberapa penyebab terjadinya konflik antara pekerjaan dan kehidupan. Pertama, terciptanya organisasi global yang berarti dunia tidak pernah tidur. Kedua, teknologi komunikasi memungkinkan karyawan untuk melakukan pekerjaan di rumah, di mobil, atau  di pantai, namun bukan berarti mereka tidak ke kantor sama sekali. Ketiga, organisasi meminta karyawan agar menambah jam kerja. Terakhir, pasangan dual-karir yang sudah menikah sulit mencari waktu untuk keluarga, pasangan, anak-anak, orangtua, dan teman (Robbins dan Judge, 2011). Penelitian yang dilakukan Hogarth menunjukkan bahwa 47% dari karyawan menginginkan flexitime, 35% menginginkan jadwal kerja yang dipadatkan dalam satu minggu, 26% menginginkan bekerja paruh waktu, 25% menginginkan term-time working dan 16% menginginkan job share (dalam Wiridin, 2006).

Menurut Schabracq, Winnubst, dan Coope ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi work-life balance. Pertama karakteristik kepribadian, dimana individu yang memiliki secure attachment cenderung mengalami positive spillover dibandingkan individu yang memiliki insecure attachment. Kedua karakteristik keluarga, dimana konflik peran dan ambiguitas peran dalam keluarga dapat memengaruhi work-family conflict. Ketiga karakteristik pekerjaan, dimana jumlah jam kerja akan memengaruhi kepuasan seseorang akan keseimbangan dalam kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Terakhir sikap, dimana sentralitas terhadap suatu domain tertentu dalam kehidupan individu akan meningkatkan jumlah waktu dan usaha yang dihabiskan dalam domain tersebut (dalam Purwati, 2016).

Fisher, Buger, dan Smith mengatakan bahwa work-life balance memiliki empat dimensi pembentuk yaitu Work Interface With Personal Life, Personal Life Interfrence With Work, Personal Enhancement of Personal Life, Personal Enhancement of Work. Work Interface With Personal Life mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat mengganggu kehidupan pribadi individu. Personal Life Interfrence With Work mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi individu mengganggu pekerjaannya. Personal Enhancement of Personal Life mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi individu. Personal Enhancement of Work mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi seseorang dapat meningkatkan performa individu dalam dunia kerja (dalam Purwati, 2016). Obiageli et al. (2015) melakukan penelitian terhadap 262 pegawai bank komersial di negara bagian Lagos Nigeria, untuk menguji keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan dengan kinerja karyawan, dan hasilnya menunjukkan bahwa keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kinerja karyawan bank komersial. Balkan (2014) melakukan penelitian terhadap 232 mahasiswa dan doktoral pascasarjana di Universitas Ankara Turki, dengan menggunakan analisia korelasi dan analisis regresi, menunjukkan bahwa keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan yang buruk berdampak pada kinerja karyawan yang rendah dan kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan.  Dissanayaka dan Ali (2013) dalam penelitiannya terhadap 96 karyawan pabrik pakaian di Sri Lanka menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara keseimbangan kehidupan dan pekerjaan dengan kinerja karyawan. Implikasi penting dari temuan ini adalah bahwa ada kebutuhan secara sistematis untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan dan kerja karyawan guna mencapai kinerja yang lebih baik (dalam Utomo, Djastuti dan Mahfudz, 2016). Berdasarkan hasil ketiga penelitian yang dilakukan di Negara yang berbeda, dapat disimpulkan bahwa keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance) dapat memengaruhi kinerja karyawan.

Kesimpulannya, individu yang bekerja harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupannya terutama pekerja wanita. Wanita memiliki tanggung jawab untuk mengurusi keluarga. Ketika wanita itu bekerja mereka memiliki tanggung jawab yang lebih dibandigkan dengan pria. Wanita bekerja harus memiliki dua peran yaitu peran sebagai pekerja dan sebagai ibu rumah tangga. Kebanyakan wanita sulit untuk mencapai work-life balance. Jika work-life balance tercapai maka akan menurunkan tingkat stress, meningkatkan kinerja para karyawan, serta meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

DAFTAR REFERENSI

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology. (6th ed).Wadsworth: Cengage Learning

Darmawan, A.A.Y.P., Silviandari, I.A., Susilawati, I.R. (2015). Hubungan Burnout dengan Work-Life Balance pada Dosen Wanita. Diakses dari http://mediapsi.ub.ac.id/index.php/mediapsi/article/download/4/4

Djastuti, I., Mahfudz. & Utomo, C. (2016). Pengaruh Keseimbangan Kehidupan–Kerja  terhadap Stres Kerja yang Berimplikasi pada Kinerja Pegawai (Studi pada BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah). Diakses dari             http://eprints.undip.ac.id/50109/1/Format_Jurnal.pdf

Ivancevich, J.M., Konopaske, R. & Matteson M.T. (2008). Organizational Behior and Management. (9th ed). New York: McGraw-Hill/Irwin.

Klopping, L. (2011). Work-Life-Balance. Diakses dari         https://books.google.co.id/booksid=EV74zoLfs4oC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false

Laela, C.R. (2015). Pengaruh Relation-Oriented Leadership Behavior terhadap Work-Life Balance pada Wanita Pekerja. Diakses dari                                 http://lib.unnes.ac.id/21933/1/1511411145-s.pdf

McShane, S. & Von Glinow, M.A. (2010). Organizational Behavior: Emerging Knowledge and Practice for The Real World. ( 5th ed). New York: McGraw-Hill/Irwin.

Paludi, M.A. (2014). Women, Work, and Family : How Companies Thrive with a 21st-Century Multicultural Workface. California : Praeger

Purwati, P. T. (2016). Pengaruh Keseimbangan Kehidupan Kerja (Work-Life Balance) terhadap Beban Kerja (Work Load) Divisi Penjualan Di PT. Ulam Halim (MARIMAS) Cabang Sidoarjo. Diakses dari                                                                                                   http://etheses.uin-malang.ac.id/3693/1/12410070.pdf

Rife, A. A. & Hall, J. S. 2015. Society for Industrial and Organizational Psychology. Diakses dari http://www.siop.org/WhitePapers/WorkLifeBalance.pdf

Robbins, P. S. & Judge, T. A. (2010). Organizational Behavior. (14th ed). New Jersey: Pearson Education, Inc., publishing as Prentice Hall

Sefira, M.K. (2016). Hubungan antara Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosi dengan Work Life Balance Karyawan Kanwil DJP DIY yang Menjalani Commuter Marriage. Diakses dari https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/54756/Hubungan-Antara-Dukungan-Sosial-dan-Kecerdasan-Emosi-dengan-Work-Life-Balance-Karyawan-Kanwil-DJP-DIY-yang-Menjalani-Commuter-Marriage

Utami, D.S. (2011). Strategi Work-Life Balance pada Dosen Perempuan Berperan Ganda (Studi Kasus di Program Studi Arsitektur. Diakses dari http://etd.repository.ugm.ac.id/index.phpmod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=50665

Waridin. (2016). Analisis Pengaruh Work-Family Balance dan Program Family Friendly terhadap Kepuasan Kerja. Diakses dari                                       http://download.portalgaruda.org/article.phparticle=388974&val=8569&title=ANALISIS%20PENGARUH%20WORKFAMILY%20BALANCE%20DAN%20%20PROGRAM%20FAMILY%20FRIENDLY%20TERHADAP%20KEPUASAN%20KERJA%20%20Studi%20Kasus%20pada%20Rumah%20Sakit%20Panti%20Wilasa%20Citarum,%20Semarang