Stress dan Time Management pada Mahasiswa Bekerja atau Magang.

Madinna Ramadhani, 2015031031.

Kuliah sambil bekerja bukanlah hal asing lagi bagi mahasiswa. Banyak faktor yang membuat mereka memilih untuk bekerja, seperti mendapatkan uang, pengalaman baru, dan lain-lain. Hal ini dapat memunculkan stress dikarenakan mengatur waktu. Santrock (2006) mengartikan stress sebagai respon seorang individu terhadap stressor, yaitu kejadian yang mengancap seorang individu dan membebani kemampuan untuk coping. Stress dapat menekan seseorang sehingga ia tidak berdaya dan menimbulkan dampak negatif, seperti pusing, darah tinggi, tidak bias mengontrol emosi, sulit tidur, dan lain-lain. Stress digambarkan sebagai kekuatan yang menimbulkan tekanan-tekanan dalam diri, dalam hal ini, stress muncu jika tekanan yang dihadapi melebihi batas optimal (Greenberg, 2008).

Continue reading “Stress dan Time Management pada Mahasiswa Bekerja atau Magang.”

Upaya Mengurangi Tingkat Stres Karyawan dengan Manajemen Stres di Tempat Kerja

Berkembangnya bidang Industri saat ini, menyebabkan semakin kompleks permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dan tuntutan pekerjaanpun semakin meningkat (Mutiasari, 2010). Permasalahan di perkotaan banyak terjadi terutama kecelakaan, polusi udara dan kemacetan. Kemacetan dan polusi udara merupakan permasalahan bagi semua individu, tidak terkecuali karyawan. Kemacetan masih menjadi masalah yang belom terselesaikan di perkotaan. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa kemacetan belom bisa teratasi.  Stresor lingkungan perkotaan yang dialami warga kota tidak pernah berdiri sendiri, melainkan stresor gabungan (multiple stressor), misalnya kemacetan lalu lintas yang meliputi kebisingan dan kesesakan yang merupakan stresor utama, serta stressor lainnya seperti ancaman kriminalitas, suhu udara yang panas didalam kendaraan bisa membuat individu memunculkan emosi (Halim, 2008). Fenomena umum yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ialah road rage. Road rage adalah sindrom umum yang terjadi ketika pengendara menyerang pengendara lain sebagai kemarahan esktrem pada sebuah peristiwa kesalahpahaman dijalan atau lalu lintas kecil hal tersebut diakibatkan beban stres yang dialaminya baik di rumah, tempat kerja dan kemacetan (Halim, 2008). Selain itu, polusi udara yang timbul akibat kemacetan dan populasi jumlah kenderaan merupakan ambient stressor (stressor yang berhubungan dengan lingkungan) paling berbahaya yang ditemui di semua kota besar di dunia terutama di negara-negara berkembang, seperti Jakarta dengan tingkat polusi yang lebih tinggi akibat kurangnya kesadaran warga (Halim, 2008).

Anroga (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa stres adalah sebagai suatu tekanan psikis dan emosi pada seseorang. Aamodt (dalam Putri, 2008) menyatakan bawha Stres terbagi menjadi dua, yaitu eustress dan distress. Eustress sering disebut sebagai stress yang positif, karena stress yang dirubah menjadi energy positif dan menjadi motivasi. Tosi (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa distress sebagai stress yang negatif, karena individu memiliki kelemahan dalam mengatasi lingkungan penuh dengan stress dan rendahnya pertahanan terhadap stress. Menurut penelitian Baker (dalam Putri, 2008) stres kerja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, akibatnya karyawan cenderung sering dan mudah terkena penyakit, sehingga kurang konsentrasi dalam kinerjanya. Stress memiliki hubungan dengan kinerja seseorang. Stres pada tingkat rendah dan sedang, akan menghasilkan individu dalam melaksanakan tugas menjadi lebih baik , serta kinerja yang cepat. Stres pada tingkat yang tinggi dan tingkat sedang akan menghasilkan kinerja yang rendah. Reaksi stres dari waktu ke waktu akan merubah intensitas stres dan dapat berpengaruh negatif pada kinerja (Putri, 2008). Faktor penting dalam stres dan kinerja adalah jenis pekerjaan dan kepribadian dari individu. Menurut Robbins (dalam Putri, 2008) situasi yang penuh dengan stres dapat membuat kinerja karyawan menjadi lebih menantang, namun ada pula kinerja karyawan diberikan dengan situasi yang penuh stres menjadi sering melakukan kesalahan. Menurut Sunyoto dan Burhanudin (2011), gejala dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu gejala fisiologis, gejala psikologis dan gejala perilaku. Gejala fisiologis disebabkan masalah stress pertama kali diteliti oleh ahli bidang ilmu kesehatan dan medis. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut stress dapat menciptakan perubahan dalam metabolism, meningkatkan detak jantung, tekanan darah dan memicu serangan jantung, serta tuntutan kerja yang berlebihan dapat menimbulkan stres, yaitu rentan terhadap penyakit saluran pernapasan dan fungsi kekebalan tubuh. Gejala psikologis ialah akibat stres dalam ketidakpuasaan terhadap pekerjaan. Gejala psikologis lain akibat stres dapat berupa kecemasan, kejenuhan, ketegangan, kesal, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang membutuhkan tuntutan berlebihan dan saling bertentangan, serta wewenang dan tanggung jawab yang tidak jelas, dapat menimbulkan stress atau ketidakpuasaan. Selain itu gejala stres yang alami ialah gejala perilaku yang cenderung mengalami perubahan produktivitas, perputaran karyawan, disamping perubahan meliputi kebiasaan makan, merokok, konsumsi alcohol, kegelisahan dan tidur tidak teratur. Selain itu menurut Iskandar (2010) kepadatan suatu ruang akan menimbulkan stres dalam dirinya.

Karyawan yang mengalami stres. di tempat kerja, biasanya mengalami burnout. Burnout (Mutiasari, 2010) merupakan gejala kelelahan emosional yang disebabkan oleh tingginya tuntutan pekerjaan, yang sering dialami invidiu yang bekerja pada situasi dimana ia harus melayani kebutuhan orang banyak. Burnout merupakan kelelahan fisik, mental dan emosional yang terjadi karena stressyang diderita dalam jangka waktu yang lama, di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi. Menurut Kreitner dan Kinicki (dalam Mutiasari, 2010) burnout adalah akibat dari stress yang berkepanjangan dan terjadi ketika seseorang mulai mempertanyakan nilai-nilai pribadinya. Secara teoritis penyebab munculnya burnout adalah faktor eksternal seperti perubahan iklim, trend maupun tuntutan, faktor atasan, manajemen, pekerjaan, penugasan maupun kebijakan. Karena itu burnout adalah penarikan diri sebagai reaksi atas stres (Mutiasari, 2010).

Stres berkepanjangan dapat mempengaruhi performa kerja karyawan di perusahaan. Produktifitas perusahaan akan menurun, karena stres yang dialami oleh karyawannya. Stres pada karyawan di perusahaan merupakan hal umum dan terjadi dimana-dimana. Perusahaan harus memiliki upaya untuk mengatasi stres yang dialami oleh karyawan-karyawannya untuk mempertahankan produktifitas perusahaan. Perusahaan dapat melakukan atau menerapkan manajemen stres. Tyle (dalam Aamodt, 2010) menyatakan bahwa manajemen stres untuk merubah perilaku menjadi lebih sehat sepenuhnya untuk merespon stres sebelum terjadi, saat terjadi dan setelah terjadi.. Menurut Baron dan GreenBrerg (dalam Andriani, 2012) strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi strategi penanganan invidiual, organisasional dan dukungan sosial.

Strategi penanganan invididual dalam tempat kerja dengan melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif. Artinya jika seorang karyawan merasa diri ada kenaikan ketegangan, karyawan tersebut seharusnya rehat sejenak (time out) terlebih dahulu. cara time out seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja dan pergi ke kamar kecil untuk membasuh muka atau berwudhu bagi orang islam dan sebagainya. Kemudian, melakukan relaksasi dan meditasi bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari libur kerja. Dengan melakukan reklasasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian karyawan yang melakukan rekalsasi dapat membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang menganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa. Selain melakukan meditasi, hal lain yang bisa dilakukan dengan cara melakukan diet dan fitnes. Hal tersebut dengan beberapa cara seperti mengurangi konsumsi dan makanan mengandung lemah, memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran dan melakukan olahraga seperti lari secara rutin (Baron & Greenbreg dalam Andriani, 2010). Strategi selanjutnya ialah strategi Penanganan organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional. Konflik dan ketidakjelasan lebih awal sebagai sebuah penekan individual utama, serta rencana dan pengembangan jalur karir dan menyediakan konseling secara tradisional, organisasi telah hanya menunjukkan kepentingan dalam karir, dan pengembangan kinerja mereka. Individu dibiarkan untuk memutuskan gerakan dan strategi karir.  Strategi dukungan sosial sangat dibutuhkan di dalam tempat kerja, terutama orang terdekat, seperti keluarga, teman kerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, serta dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh (Landy dalam Andriani, 2010). Dengan kata lain stres bisa diatasi oleh karyawan diperusahaan dengan menerapkan manajemen stress, hal tersebut bisa mengurangi tingkat stres yang dialami oleh karyawan ditempat kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Aamodt, M. G. (2010). Industrial or Organizational Psychology. Sixth Edition. United States of America.

Andriani, F. (2012). Skripsi. Analisis Tingkat Stres Kerja Karyawan non Manajerial pada PT Astrazeneca Indonesia. Skrispi tidak dipublikasikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok.

Halim, D. K. (2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan. Edisi Pertama. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Iskandar, Z. (2012). Psikologi Lingkungan Teori dan Konsep. Bandung: PT Refika Aditama.

Mutiasari. (2010). Strategi Mengatasi Burnout di Tempat Kerja. Diakses pada tanggal 21 maret 2017 melalui http://download.portalgaruda.org/article.php?article=313661&val=7575&title=STRATEGI%20%20MENGATASI%20%20BURNOUT%20DI%20TEMPAT%20%20KERJA

Putri, P. H. S. (2008). Skrispi. Hubungan Antara Stres Kerja dengan Resiko Kecelakaan Kerja pada Karyawan. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sunyoto, D., & Burhanudin. (2011). Perilaku Organisasional. Jakarta: PT Buku Seru.

Stress Management: Lembur Kerja menyebabkan Kematian

Salah satu tren positif yang terjadi belakangan ini adalah tingginya antusias sebagian masyarakat untuk bekerja. Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan kepuasan, tantangan, bahkan dapat pula menjadi gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah diketahui, desain dan organisasi kerja yang tidak memadai, seperti kecepatan dan beban kerja yang berlebihan, merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja.  Stres di tempat kerja merupakan hal yang hampir setiap hari dialami oleh para pekerja di kota besar. Masyarakat pekerja di kota-kota besar seperti Jakarta sebagian besar merupakan urbanis dan industrialis yang selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja yang semakin beragam dan kadang bertentangan satu dengan yang lain, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, kesehatan, dan masih banyak tantangan atau tekanan lainnya yang membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Stres di tempat kerja menjadi suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Davis dan Newstrom (2001) mengatakan apabila karyawan tidak memiliki stres maka tantangan kerja tidak ada dan akibatnya prestasi kerja juga rendah. Semakin tinggi stres karena tantangan kerja, maka akan mengakibatkan bertambahnya prestasi kerja, tetapi stres kerja juga berpotensi menurunkan prestasi. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi individu dalam lingkungan kerja. Setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai situasi stres. Pelaksanaan kerja tergantung dari beberapa stres, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa di dalam organisasi stres juga dapat dipengaruhi kinerja karyawan. Selain stres kerja, semangat kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi perusahaan terutama yang menyangkut kinerja karyawan.

Stres manajemen adalah suatu program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stress dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih baik dalam menangani stres dalam kehidupan (Schafer, 2000: 18). Stress Management, mengajarkan individu bagaimana untuk menilai peristiwa stress. Pengorganisasian lingkungan yang buruk dapat menjadi penyebab stres yang utama. Apabila lingkungan diorganisir dengan baik dan menyenangkan, kemudian dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Beberapa orang yang mengalami stres memerlukan lingkungan yang ramai untuk menanggulangi stres. Program stres manajemen mengajarkan individu bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatasi stres, dan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa program stres manajemendalam lingkup yang luas, mengajarkan berbagai teknik, sementara yang lain fokus pada teknik tertentu seperti meditasi. Didalam stres manajemen terdapat Meditation and Relaxation yang dapat digunakan untuk menanggulangi stress, merupakan sistem kontrol mental seseorang. Peneliti telah menemukan bahwa meditasi dan relaksasi membawa  manfaat bagi fisik  dan  psikologis.

Pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja. Namun perlu diketahui juga bahwa stres secara ilmiah tidak senantiasa merupakan kondisi yang negatif, yaitu sesuatu yang mengarah kepada timbulnya penyakit fisik maupun mental, serta perilaku yang tidak wajar. Stres juga merupakan kekuatan positif yang diperlukan untuk menghasilkan prestasi tinggi. Sampai titik tertentu, bekerja dengan tekanan batas waktu (deadline) dapat merupakan proses kreatif yang merangsang. Dalam dunia pekerjaan, sering timbul berbagai masalah sehubungan dengan stres dan kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya stres. Baik disadari maupun tidak disadari, pekerjaan seseorang menimbulkan stres pada dirinya. Hal ini pasti akan tampak dalam kurun waktu yang panjang, karena memang manusia setiap harinya berkecimpung di tempat kerja nya lebih dari sepertiga kali dari total waktu yang tersedia. Setyawati (2010) mengatakan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, beberapa pengaruh shift kerja terhadap tubuh yaitu; adanya pengaruh pada kualitas tidur, kapasitas bekerja pada malam hari kurang, shift kerja dapat mempengaruhi kapasitas mental, menyebabkan gangguan kejiwaan, serta dapat memicu gangguan pencernaan pada pekerja shift malam atau lembur. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi bila jumlah jam kerja menjadi berlebihan, ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas kerja, tetapi juga sering meningkatkan jumlah absensi dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja

Namun, stres di tempat kerja juga berhubungan dengan kesehatan karena dapat menimbulkan stres. Dari segi dunia, ternyata semangat bekerja keras ini menimbulkan dampak terhadap kesehatan seseorang. Bekerja terlalu keras dengan tambahan faktor lain seperti kurangnya istirahat atau tidur dan kurang  olahraga membuat tubuh menjadi kurang bugar dan lebih mudah sakit. Seperti kasus yang dikutip oleh Kompasiana, seorang karyawan perusahaan periklanan internasional di Beijing meninggal dunia karena diduga kelelahan. Li Yuan adalah seorang karyawan yang bekerja di bidang periklanan di China. Di usianya yang ke-24, Yuan diketahui meninggal pada bulan Mei 2013. Sebulan sebelumnya, Yuan diketahui seringkali bekerja terlalu keras dan tanpa henti. Dia seringkali bekerja lembur hingga pukul 11 malam di perusahaannya Ogilvy & Mather China. Sebuah survei yang digelar harian pemerintah, Global Times  menemukan fakta bahwa dua dari tiga responden mengatakan kondisi kesehatan mereka sangat buruk.

Hubungan antara masing-masing perubahan psikologis seorang individu tidak banyak diketahui secara mendetail, tetapi kebanyakan peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis (stressor) termasuk stres akibat pekerjaan merupakan faktor pemicu yang penting untuk timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan beberapa penyakit neuropsikiatris. Stressor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja (Harrianto, 2009). China memang memiliki angka yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Jepang, untuk jumlah karyawan yang meninggal akibat pekerjaan. Sekitar 600.000 karyawan di China meninggal akibat ‘kelelahan’ setiap tahunnya, seperti dilansir oleh The China Youth Daily. Kebanyakan penyebabnya berkaitan dengan stres, stroke, dan serangan jantung. Beberapa gejala yang dialami adalah insomnia, anoreksia, serta rasa sakit pada dada. Pada hari Senin pukul lima sore, Yuan tiba-tiba saja berdiri dan mengeluhkan sakit pada bagian dadanya. Setelahnya dia jatuh tak sadarkan diri. Yuan segera dilarikan ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Dokter menjelaskan bahwa dia meninggal akibat serangan jantung. Seperti yang dilansir oleh berita di Kompasiana, kurangnya tidur dialami oleh Yuan karena jam kerja yang tidak produktif, dan terlalu sering lembur hingga berhari-hari. Kesehatan dan stres dalam dalam diri Yuan sangat berpengaruh karena stres yang dialami dapat diketahui dari gaya hidup seseorang dan bagaimana seseorang menjalani hidup sehat yang tepat.

Salah satu hambatan yang berhubungan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah kelelahan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun. Para responden mengaku mereka sangat lelah dan tertekan karena pekerjaan mereka. Namun, mereka juga merasa cemas saat tak mendapatkan tekanan apa pun. Robbin (2002) mengatakan stres merupakan kondisi dinamis dimana seseorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan sesuai dengan harapan dari hasil yang ingin dia capai dalam kondisi penting dan tidak menentu.

Pengaruh sumber-sumber stres kerja terhadap kinerja karyawan yang menunjukkan bahwa individual stres berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan. Seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Berdasarkan kasus diatas, ia tidak memiliki manajemen stres dan mengelola stres dengan baik karena menimbulkan kematian. Stres dapat berujung kematian apabila individu tidak mengelola atau menanggulangi manajemen stress nya dengan baik. Oleh karena itu kita harus mengelola manajemen stres dengan baik, mengukur diri, dan menjaga kesehatan tentunya.

Daftar Pustaka

 Aamodt, M. G. (2010). Industrial / Organizational Psychology: An Applied Approach. Sixth

Edition. United States of America : Wadsworth Cengage Learning.

Davis, Keith dan Newstrom W,J. (2001). Perilaku Dalam Organisasi. Jilid Dua Edisi Ketujuh.

Ciracas-Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hardoko, E. (2013). Sebulan Lembur, Karyawan China Tewas di Kantor. Diakses dari

(http://internasional.kompas.com/read/2013/05/16/14194236/Sebulan.Lembur..Karyawan.China.Tewas.di.Kantor). Diakses pada hari Kamis, 16 Maret 2017.

Harrianto, R. (2009). Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC

Robbin, P.S. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. (2006). Human Adjustment. United Sstates of America: McGraw Hill.

Schafer, Walt. (2000). Stress Management For Wellness: Fourth Edition. United States of

 America: Wadsworth.

Setyawati, K. (2010). Selintas Tentang Kelelahan Kerja. Yogyakarta: Amara Books

Sofwan, R. (2013). Bugar Selalu di Tempat Kerja. Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer

Kelompok Gramedia.

Langkah dan Cara Pengelolaan Stress Dalam Pekerjaan

Stres di tempat kerja merupakan hal yang dialami hampir setiap hari oleh para pekerja. Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2011) mendefinisakan stres sebagai respon adaptif yang dikelola oleh perbedaan individu, dimana konsekuensi dari tindakan, situasi, atau peristiwa yang menempatkan tuntutan khusus pada seseorang. Masyarakat yang merupakan pekerja urbanis maupun industrialis selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, dan berbagai macam tantangan lainnya sehingga membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin dapat dihindari oleh para pekerja.

Stres di tempat kerja merupakan suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan tekanan-tekanan yang berlangsung terus-menerus dan memiliki potensi menimbulkan stres bagi pekerja. Ada sebuah penelitian di Indonesia yang pernah dilakukan oleh sebuah lembaga manajemen di Jakarta pada tahun 2002 yang menemukan bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan, PHK, pemotongan gaji, dan keterpaksaan untuk bekerja pada bidang kerja yang tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki merupakan stressor utama pada saat itu. Gibson, Ivancevich, Donnelly, Konopaske (2009) menyebutkan bahwa stressor peristiwa atau situasi eksternal yang berpotensi membahayakan atau mengancam individu.

Soewondo (2012) membagi stressor menjadi tiga, yaitu stressor fisik, stressor sosial, stressor psikologis, dan stressor yang berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan seperti menikah, perceraian, meninggalnya seorang anggota keluarga, dan anak yang meninggalkan rumah. Ada juga beberapa faktor penyebab stres di tempat kerja yang disebutkan oleh Robbins dan Judge (2010), yaitu faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor pribadi. Kemudian, Aamodt (2010), menyebutkan beberapa faktor lain dari stres, yaitu minor frustration, forecasting, dan residual stress.

Contoh kasus yang saya gunakan adalah berita banyaknya karyawan yang kehilangan tidur, yang bersumber dari kompas.com, yang ditulis oleh Ayunda Pininta (2016). Menurut survei dari 3.200 karyawan yang dilakukan oleh CareerBuilder, setidaknya sekitar satu dari empat karyawan mengatakan, pikiran buruk tentang pekerjaan terjadi sedikitnya sekali dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Survei lain yang dilakukan sebelumnya, yang melibatkan lebih dari 1.400 karyawan di berbagai negara, bahkan menghasilkan angka yang lebih tinggi: tiga dari empat karyawan kehilangan tidur karena masalah pekerjaan. Peneliti menjelaskan, itu sangat mungkin terjadi karena pekerjaan kerap memberikan tekanan bagi karyawannya, sehingga karyawan sering terjebak dalam kondisi sulit tidur karena pikiran atau stres akan pekerjaan mereka. Kasus karyawan yang berhubungan dengan stres melompat 28 persen selama tiga tahun belakangan, menurut data dari penyedia program kesehatan karyawan Workplace Options, yang melihat data dari lebih dari 100.000 karyawan, dan memiliki kepentingan dalam membantu karyawan mengatasi stres tersebut. “Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres kerja adalah sumber utama stres bagi orang dewasa, khususnya di Amerika. Kasus tersebut telah meningkat secara progresif selama beberapa dekade terakhir,” menurut peneliti dari The American Institute of Stress. Salah satu alasan yang membuat kasus stres pada karyawan meningkat ialah penggunaan teknologi. Sehingga karyawan terhubung dengan pekerjaan lebih sering dari sebelumnya. “Jam kerja 9-5 kini berubah menjadi 24/7,” kata konsultan kerja Kristi Daniels dari Orange County. “Batas antara pekerjaan dan kehidupan menjadi kabur.” Selain itu, dalam beberapa kasus, seorang karyawan menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi. “Banyak perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, dan karyawan sendiri tidak tahu apakah atasan mereka berencana untuk mengisi posisi tersebut,” kata Rosemary Haefner, kepala sumber daya manusia di CareerBuilder. “Karena itu, beban kerja telah meningkat, namun tidak sejalan dengan kenaikan gaji.” “Karyawan yang mengambil tanggung jawab lebih, multi-tasking, harus membagi waktu mereka untuk banyak tugas yang berbeda, cenderung membuat karyawan lebih banyak membuat kesalahan, yang pada gilirannya menyebabkan lebih banyak stres,” kata AJ Marsden, seorang asisten profesor dan psikolog di Beacon College di Leesburg. Terlebih lagi, kesulitan tidur dapat membuat seseorang lebih sulit untuk mengelola stres, ujar psikoterapis Holly Parker, yang mengajar di Harvard untuk topik psikologi.

Berdasarkan berita diatas, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab stres dalam pekerjaan adalah faktor organisasi, dimana dalam kasusnya, konsultan kerja di Orange County menyatakan bahwa jam kerja yang biasanya dimulai pukul 9 pagi hingga 5 sore, berubah menjadi 24/7 yang berarti 24 jam sehari dalam seminggu dan menyebabkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan menjadi tidak stabil. Faktor lingkungan dalam stres pekerjaan pun ditemukan dalam berita diatas. Disebutkan bahwa ada karyawan yang menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi, ketika banyaknya perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, sehingga karyawan cenderung lebih banyak membuat kesalahan yang menyebabkan stres.

 

Jadi, langkah dan cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengelola stress dalam pekerjaan? 

Ada beberapa aspek dalam pengelolaan stress dengan pendekatan individual menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011), yaitu:

Sama halnya seperti makan, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur juga merupakan cara yang tidak efektif dalam pengelolaan stress. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7-8 jam tidur di malam hari. Adakalanya, seseorang memiliki waktu tidur yang sedikit sekali selama hari kerja dan mencoba untuk tidur dengan waktu yang lama selama akhir minggu, seperti 14 jam tidur sekali atau tidur sebentar di siang hari. Sangat direkomendasikan untuk setiap orang membudayakan kebiasaan tidur sehat agar mendapatkan istirahat yang cukup tanpa obat penenang dan perangsang.

  • Olahraga

Olahraga aerobik 3 kali seminggu selama 20 sampai 30 menit merupakan salah satu cara untuk mengelola stress secara efektif. Pertama, olahraga membutuhkan fokus pada pernafasan, dimana bernafas secara dalam-dalam merupakan kunci dalam pengelolaan stress. Kedua, olahraga dapat meringankan stres melalui pelepasan endorphin di dalam otak.

  • Nutrisi

Ketika seseorang sedang stres, mereka seringkali tidak makan atau makan secara buru-buru, dimana seharusnya ketika sedang stres, mereka harus makan teratur dengan nutrisi yang baik. Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit merupakan cara yang tidak efektif untuk mengatasi stres dan bahkan dapat mengarah kepada masalah kesehatan yang serius seperti obesitas, gangguan makan, diabetes, dan hipertensi.

  • Pendekatan pikiran-tubuh
  1. Terapi pijat yang biasanya melibatkan memegang, menekan, dan bergerak di titik stres tertentu pada tubuh untuk menghilangkan stres dari area tersebut.
  2. Akupuntur yang bertujuan untuk melepaskan aliran energi yang terhambat di dalam tubuh dan memperoleh keseimbangan kembali.
  3. Obat ayuverba yang merupakan ilmu kehidupan dan juga pendekatan holistic dalam pengelolaan stres yang menggabungkan yoga, herbal, makanan tertentu, pijatan, dan meditasi.

Mengelola waktu secara efektif juga dapat membantu untuk mengurangi stres dengan merasa lebih terkendali, memiliki rasa pencapaian dan rasa dari tujuan hidup menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011). Langkah pertama dalam pengelolaan waktu untuk mengurangi stres adalah menilai kebiasaan diri dengan cara menulis kembali hal apa saja yang dilakukan untuk menghabiskan waktu dan mengurangi penghabisan waktu dalam tugas yang kurang penting. Langkah kedua adalah menggunakan sebuah planner untuk mengelola waktu lebih efektif. Jadwalkan waktu bekerja, beristirahat dan waktu bebas. Langkah terakhir adalah menetapkan dan memprioritaskan tujuan. Menetapkan tujuan seminggu dalam setiap harinya dapat membantu untuk mengurangi stres. Apabila sesuatu yang tidak terduga mengganggu jadwal, ubahlah rencana dengan tidak membuang seluruh jadwal yang ada.

Pengelolaan stres dalam pekerjaan dapat dilakukan dengan pendekatan organisasi yang dinyatakan oleh Robbins dan Judge (2010). Feedback dari tujuan mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja pekerjaan sebenarnya yang hasilnya adalah kurangnya frustasi dan stres yang dirasakan oleh karyawan. Merancang ulang pekerjaan untuk memberi karyawan tanggung jawab lebih, pekerjaan yang lebih berarti, otonomi lebih, dan meningkatkan feedback dapat mengurangi stres karena faktor-faktor ini memberikan karyawan kendali aktifitas pekerjaan yang lebih baik dan kurangnya ketergantungan terhadap karyawan lainnya. Pemimpin juga harus meningkatkan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Dengan memberikan karyawan suara dalam keputusan yang secara langsung mempengaruhi kinerja pekerjaan mereka, pemimpin dapat meningkatkan kendali karyawan dan mengurangi peran stres. Langkah terakhir pengelolaan stres dalam pekerjaan dengan pendekatan organisasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan komunikasi formal organisasi dengan karyawan.

 

referensi:

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach, 6th edition. Belmont, CA: Wadsworth Cengage Learning.

Gibson, J.L, Ivancevich, J.M., Donnelly, J.H., Konopaske. R. (2009). Organizations: Behavior Structure, Processes, 13th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Hahn, D.B., Payne, W.A., Lucas, E.B. (2011). Focus on Health, 10th edition. New York, NY: McGraw-Hill.

Ivancevich, J.M., Konopaske. R., & Matteson. M.T. (2011). Organizational Behavior and Management, 9th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Pininta, A. (2016). Khawatirkan Pekerjaan, Banyak Karyawan Kehilangan Waktu Tidur. http://health.kompas.com/read/2016/03/14/200900323/Khawatirkan.Pekerjaan.Banyak.Karyawan.Kehilangan.Waktu.Tidur. Diakses Pada Tanggal 17 Maret 2017.

Robbins, S.P., Judge, T.A. (2010). Organizational Behavior: 14th edition. Prentice Hall: Pearson Education, inc.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia: LPSP3 UI.