Angka Kematian Pekerja Tinggi. Apa penyebabnya?

Angka Kematian Pekerja Tinggi. Apa Penyebabnya?

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan program yang dibentuk perusahaan dan pekerja untuk mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit  akibat kerja. Tujuannya adalah untuk menciptakan tempat kerja yang nyaman, dan sehat sehingga dapat menekan kemungkinan resiko kecelakaan dan penyakit (Friend & Khon, 2007). Menurut OHSAS (2007), keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung, dan tamu) di tempat kerja.

Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja. Lalu ada, Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan memberikan ketentuan mengenai kesehatan kerja dalam Pasal 23, menyebutkan bahwa kesehatan kerja dilaksanakan supaya semua pekerja dapat bekerja dalam kondisi kesehatan yang baik tanpa membahayakan diri mereka sendiri atau masyarakat, dan supaya mereka dapat mengoptimalkan produktivitas kerja mereka sesuai dengan program perlindungan tenaga kerja (WageIndicator,2017). Sumber daya manusia yang handal dibutuhkan dalam menunjang bisnis perusahaan agar dapat bersaing, oleh karena itu perusahaan dituntut agar dapat mampu meningkatkan produktivitas sumber daya manusia yang ada. Produktivitas sumber daya manusia ditentukan oleh sejauh mana sistem yang ada di perusahaan dapat menunjang dan memuaskan keinginan seluruh pihak (Sedarmayanti, 2007). Menurut ILO (2013), setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. Terlebih lagi, 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja di seluruh dunia. Keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia  juga merupakan masalah yang cukup serius.

Menurut Deny (2017) yang dilansir melalui liputan6.com, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan bahwa angka kecelakaan kerja di 2016 mengalami penurunan dibandingkan 2015. Namun angka pekerja yang meninggal akibat dari kecelakaan tersebut meningkat ‎349,4 persen pada periode yang sama. Tahun lalu, dua pekerja konstruksi dilaporkan meninggal dunia saat sedang melakukan kerja di sebuah bangunan swasta di dekat kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kedua pekerja itu disebutkan mengalami kecelakaan kerja dengan terjatuh dari lantai 13 bangunan yang menjadi lokasi proyek pembangunan tersebut (Rahman,2016).

Dengan meningkatnya angka kematian akibat dari kecelakaan kerja tersebut sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, yaitu unsafe condition dan unsafe behavior. Unsafe behavior merupakan perilaku dan kebiasaan yang mengarah pada terjadinya kecelakaan kerja seperti tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dan penggunaan peralatan yang tidak standard sedang unsafe condition merupakan kondisi tempat kerja yang tidak aman seperti terlalu gelap, panas dan gangguan-gangguan faktor fisik lingkungan kerja lainnya. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyebab kecelakaan dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu faktor manusia : tindakan- tindakan yang diambil atau tidak diambil, untuk mengontrol cara kerja yang dilakukan, faktor material : resiko ledakan, kebakaran dan trauma paparan tak terduga untuk zat yang sangat beracun, faktor peralatan : rentan terhadap kegagalan yang dapat menyebabkan kecelakaan, faktor lingkungan : mengaacu pada keadaan tempat kerja, suhu, kelembaban, udara dan kualitas pencahayaan, faktor proses : termasuk resiko yang timbul dari proses produksi, seperti panas, kebisingan, debu, dan asap (ILO,2013). Faktor-faktor tersebut dapat dieliminasi dengan adanya komitmen perusahaan dalam menetapkan kebijakan dan peraturan K3 serta didukung oleh kualitas SDM perusahaan dalam pelaksanaannya.
Sayangnya, masih sedikit perusahaan di Indonesia yang berkomitmen untuk melaksanakan pedoman SMK3 dalam lingkungan kerjanya. Sebagaimana mestinya tempat kerja harus memenuhi ketentuan namun didalamnya terkandung sejumlah bahaya khusus dan oleh karenanya membutuhkan tindakan-tindakan pencegahan (Kuswana, 2014).  Dengan banyaknya kasus mengenai keselamatan dan kesehatan pekerja suatu perusahaan sebaiknya membentuk sebuah organisasi keselamatan kerja dimana organisasi tersebut melakukan tindakan berjaga-jaga yang tidak hanya berlaku bagi para pekerjanya, tetapi juga bagi para tamu yang berkunjung, kontraktor yang dipekerjakan, para undangan, lingkungan sekitar, atau anggota masyarakat lainnya yang mungkin terkena pengaruh kegiatan-kegiatan perusahaan (Ridley, 2008). Cara-cara yang dapat dipakai untuk keselamatan kerja adalah menyediakan dan menggunakan perlengkapan khusus. Perusahaan juga mempunyai peran penting dalam kesehatan dan keselamatan karyawannya karena perusahaan memiliki kendali dan dapat memberika intruksi. Cara manajer bersikap dan kepeduliannya terhadap karyawan dapat mempengaruhi sikap para pekerja.

Menurut WageIndicator (2017), dalam Perjanjian Kerja Bersama  akan dikaji hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan upah, keselamatan dan kesejahteraan karyawan.  Perusahaan dan setiap pekerja harus sadar sepenuhnya bahwa K3 adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama.  PKB biasanya akan mengatur mengenai hak dan kewajiban dari para karyawan dalam hal K3 sebagai mana PKB juga akan mengatur mengenai hak dan kewajiban perusahaan. Dalam Perjanjian Kerja Bersama juga tertulis sanksi-sanksi yang diberikan apabila salah satu dari kedua belah pihak melanggar PKB. Diatas di sebutkan undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan undang-undang kesehatan, jika tidak menjalankan ketentuan undang-undang akan dikenakan hukuman pindana paling lama satu tahun atau paling banyak denda sebesar Rp.15.000.000 (lima belas juta rupiah).

Kendala-kendala yang biasanya terjadi dalam perjanjian keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah pemahaman karyawan mengenai isi perjanjian kerja bersama, penanganan keselamatan kerja tidak optimal, kebijakan perusahaan yang tidak tegas (WageIndicator,2017). Kendala-kendala yang sering terjadi ini membuat sering terjadinya masalah K3 antara pekerja dan perusahaan. Yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut adalah dengan pembinaan dan sosialisasi antara pengurus pekerja dan pekerja, memberikan tindakan tegas apabila terjadi ketidaksiplinan pekerja dalam bekerja, dan apabila terjadi kecelakaan, pihak manajemen perusahaan harus mempelajari letak kesalahan yang terjadi.

Mengenai biaya perawatan kesehatan perusahaan akan membayar penuh asuransi kesehatan untuk meningkatkan mutu pada karyawan (Aamodt, 2007). Di Indonesia sudah ada beberapa asuransi yang digunakan perusahaan untuk menjamin kesehatan para karyawannya, seperti JKN dan BPJS. Menurut Syarifah (2013) yang dilansir melalui liputan6.com JKN adalah program pelayanan kesehatan yang merupakan kepanjangan dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan. Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS ini adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya. Dan juga kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena metode pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah. Dengan demikian cara agar kesehatan pekerja terjamin seharusnya angka kematian karyawan sudah dapat menurun.

 

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Deny, S. (2017). Pekerja yang Meninggal di 2016 Naik Lebih dari 300 Persen. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/2825144/pekerja-yang-meninggal-di-2016-naik-lebih-dari-300-persen. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Friend, M.A. dan Kohn, J.P., (2007). Fundamental of Occupational Safety and Helath. Fourth Edition. Toronto ; Government Institutes.

Kuswana, W.S. (2014). Ergonomi dan K3. Bandung ; PT. Remaja Rosdakarya.

ILO. (2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta ; International Labor Organitation.

OHSAS 18001:2007. Occupational health safety management system – Specification.

Ridley, J. (2008). Heatlh and Safety in Brief. Third Edition. England ; Elsevier Ltd.

Syarifah, F. (2013). Pertanyaan-pertanyaan Dasar Seputar JKN dan BPJS. Diakses dari http://health.liputan6.com/read/788613/pertanyaan-pertanyaan-dasar-seputar-jkn-dan-bpjs. Diakses pada tanggal 21 Maret 2017.

WageIndicator. (2017). Pertanyaan Mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia. Diakses dari http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/keselamatan-dan-kesehatan-kerja/pertanyaan-mengenai-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-di-indonesia-1. Diakses pada tanggal 21 Maret 2017.

 

Advertisements