Jaminan Kesehatan untuk Para Pengemudi Transportasi Online di Indonesia

Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat (Rosana, 2011). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Rosana, 2011).

Cahyono (2016) menyatakan bahwa masyarakat adalah sekelompok individu yang tinggal dalam suatu tempat tertentu, saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama, mempunyai adat-istiadat dan aturan- aturan tertentu dan lambat laun membentuk sebuah kebudayaan.

 

Pada zaman modern seperti sekarang ini banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi (dalam Soekanto, 2008) mengemukakan bahwa perubahan sosial diartikan sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-peubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi, maupun karena adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut. Salah satu perubahan yang dirasakan saat ini adalah dengan hadirnya transportasi online, ini sudah bukan hal yang biasa lagi. Adanya transportasi online tersebut, sangat mempermudah kehidupan di masa yang serba “instant” ini. Namun, banyak timbul pro dan kontra dengan kehadiran transportasi online di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, kultur atau budaya di Indonesia sangatlah kuat. Budaya bersama dengan lingkungan

berdampak pada semua tahap pengambilan keputusan masyarakat. Budaya mempengaruhi sistem yang menggerakan dan memotivasi orang untuk mengambil tindakan lebih jauh. Budaya suatu masyarakat menentukan sistem komunikasi dan tingkat perilaku yang dianggap sesuai oleh individu di dalamnya (Pasaribu, 2015).

 

Transportasi online merupakan hal yang baru bagi kultur atau budaya di Indonesia. Dalam budaya di Indonesia, transportasi yang lazim adalah transportasi umum. Transportasi umum pun terbagi dalam beberapa jenis, ada transportasi umum berjenis sepeda motor, mobil, kereta, dan bahkan sepeda saja (becak). Pada zaman dahulu, transportasi umum merupakan hal yang sangat membantu untuk masyarakat karena segelintir masyarakat jarang yang mempunyai transportasi pribadi. Namun, untuk zaman modern seperti sekarang ini, transportasi umum sudah mulai ditinggalkan karena meningkatnya taraf kehidupan ekonomi masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, meskipun transportasi umum mulai ditinggalkan tapi terkadang transportasi umum bisa menjadi solusi untuk di beberapa kota, seperti di ibukota Jakarta yang macetnya “luar biasa” ini.

 

Dengan berkembangnya zaman, transportasi umum pun sudah banyak mengalami regeneralisasi. Saat ini ada yang dikenal dengan transportasi online. Apa itu transportasi online? menurut Randika (2017), transportasi online merupakan jasa transportasi berbasis teknologi dan aplikasi telepon genggam yang memungkinkan seorang penumpang untuk memesan angkutan seperti Go-Jek, Go-Car, Grab, dan Uber melalui aplikasi tersebut. Seperti yang kita ketahui, transportasi umum pada lazimnya tidak menggunakan teknologi. Kita hanya bisa “tebak-tebakan  buah manggis” kapan transportasi umum itu datang. Di zaman yang serba cepat ini, kita pun bisa dengan cepat mendapatkan transportasi umum tanpa harus “berjuang” untuk mendapatkannya. Dengan kehadiran transportasi online, ini sangat membantu. Transportasi online memberikan wajah baru untuk transportasi umum di Indonesia, dan sangat membantu bagi sebagian masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Sekarang ini, transportasi online di Indonesia sudah meliputi ojek online dan taksi online. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan jasa ojek dan taksi online ini. Masing-masing dari perusahaan menawarkan keunggulannya dengan berbagai cara.

 

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, banyak pro dan kontra dengan  kehadirannya transportasi online di Indonesia. Pertama, Saya akan membahas dalam hal pro terlebih dahulu. Masyarakat modern kini sangat membutuhkan transportasi umum yang mudah dan cepat, terutama di sebagian kota-kota besar di Indonesia. Transportasi umum membantu masyarakat untuk melakukan mobilitas sehari-hari diluar rumah. Menurut salah satu pengguna transportasi online yang cukup sering, Bapak Adie dan Ibu Faiza dengan adanya transportasi umum berbasis teknologi ini atau yang biasa disebut transportasi online membantu untuk bagi sebagian orang yang banyak melakukan aktivitas diluar rumah karena sangat efisien, baik efisien waktu dan juga efisien dalam urusan harganya. Jika dibandingkan dengan transportasi umum pada biasanya, memang transportasi online ini harganya lebih bersahabat. Hal itu pula yang menjadi pertimbangan bagi beberapa orang untuk menggunakan transportasi online. Namun, ada pro ada juga kontra. Dalam hal ini, kontra lebih banyak ditemukan. Sebagai contoh kasus pertama, sejak kemunculannya yang “menjamur” di ibukota, para pengemudi taksi konvensional pun mulai menunjukan aksi protesnya dengan cara berdemo.

Pada tanggal 22 Maret 2016 lalu, pengemudi taksi konvensional berdemo menentang kehadiran transportasi online. Sebenarnya itu terjadi karena terjadi cara pandang yang berbeda antar kedua pihak. Para pengemudi taksi konvensional bertanggapan jika penghasilan mereka berkurang karena hadirnya transportasi online tersebut. Lalu aksi demo tersebut berujung dengan damai. Namun, tidak berhenti disitu saja. Kasus-kasus lain pun bermunculan di berbagai daerah. Pada tanggal 8 Maret 2017 berlokasi di Tangerang. Seorang pengemudi transportasi ojek online ditabrak oleh pengemudi angkutan umum kota (angkot). Pengemudi transportasi online tersebut bernama Jamil. Salah seorang mahasiswa yang sedang cuti kuliah karena masalah ekonomi. Jamil ditabrak oleh seorang pengemudi angkot cabutan karena alasan iri semata. Selanjutnya kasus lain yang terjadi pada satu hari berikutnya, Pada tanggal 9 Maret 2017 berlokasi di Bandung, para pengemudi angkutan umum kota (angkot) juga menunjukan ketidaksukaannya dengan transportasi online. Salah satu mobil yang diduga sebagai taksi online diberhentikan secara paksa dan dihancurkan. Kejadian itu terjadi saat satu keluarga melintasi daerah yang menjadi tempat unjuk rasa supir angkot, daerah Gedung Sate kota Bandung. Saat itu mobil mereka dihadang oleh belasan supir angkot dan dipaksa untuk keluar dari mobil. Belum sempat keluar dari mobil, para pengemudi supir angkot sudah membabi buta menghancurkan mobil yang dikira transportasi online tersebut. Kemudian akhirnya satu keluarga tersebut berhasil menyelamatkan diri untuk keluar. Sudah dipastikan mobil keluarga tersebut bukan transportasi online, melainkan mobil pribadi keluarga.

 

Dengan munculnya kasus-kasus seperti diatas, sebagian dari kita pasti bertanya-tanya bagaimana jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online tersebut?? Ya, sempat terlintas di otak Saya juga bagaimana nasib para pengemudi transportasi online tersebut.

 

Saya sempat menggobrol dengan salah satu pengendara transportasi online tetang bagaimana jaminan kesehatan para pengemudi transportasi online tersebut. Menurut salah satu pengemudi, jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online tersebut memang ada. Perusahaan memberikan jaminan kesehatan untuk para pengemudinya. Namun, tidak semudah itu. Jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online harus ditebus terlebih dahulu. Sementara, jika kejadian-kejadian seperti itu terjadi maka pihak-pihak dari perusahaan wajib memberikan jaminan kesehatan dan perlindungan hukum untuk para pengemudi transportasi online tersebut dengan mudah. Jaminan kesehatan diperlukan oleh seluruh masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan. Pengembangan jaminan kesehatan bagi masyarakat sangat diperlukan (Kurniawan dan Intiasari, 2012). Selain jaminan kesehatan, perlindungan hukum pun juga dibutuhkan untuk para pengemudi transportasi online. Darmajaya (2016) menyatakan bahwa, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.

 

Meskipun banyak pro dan kontra dengan kehadiran transportasi online di Indonesia, peforma pekerjaan para pengemudi transportasi tetap bagus. Menurut Aamodt (2007), job performance pada karyawan berguna untuk mengurangi stress mereka terhadap lingkungan kerja.

 

 

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Cahyono, A. S. (2016). PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA. Diakses dari file:///C:/Users/ABIGAEL/Downloads/79-148-1-SM.pdf diakses pada tanggal 15 Maret 2017

Darmajaya, W. A. (2016). PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PEKERJA DI PT. GO-JEK YOGYAKARTA. Skripsi Sarjana pada Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Kurniawan, A., Intiasari, A. D. (2012). Kebutuhan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Wilayah Pedesaan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.

Pasaribu, Y. M. (2015) Budaya Kota dan Nilai Tradisi Masyarakat Indonesia. Diakses dari file:///C:/Users/ABIGAEL/Downloads/606-1206-1-SM.pdf pada tanggal 15 Maret 2017.

Randika, D. (2017). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN SOPIR TAKSI. Skripsi Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pasundan, Bandung.

Rosana, E. (2011). Modernisasi dan Perubahan Sosial. Diakses dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=149651&val=5897&title=Modernisasi%20Dan%20Perubahan%20Sosial diakses pada tanggal 15 Maret 2017

Soekanto, S. (2008).  Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

http://www.detik-news.net/2017/03/korban-pengemudi-grab-yang-ditabrak.html

http://regional.kompas.com/read/2017/03/10/13480991/6.sopir.angkot.jadi.tersangka.perusakan.mobil.di.bandung

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/03/10/16140801/kronologi.sopir.angkot.tabrak.pengemudi.grab.di.tangerang

Stress Management: Lembur Kerja menyebabkan Kematian

Salah satu tren positif yang terjadi belakangan ini adalah tingginya antusias sebagian masyarakat untuk bekerja. Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan kepuasan, tantangan, bahkan dapat pula menjadi gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah diketahui, desain dan organisasi kerja yang tidak memadai, seperti kecepatan dan beban kerja yang berlebihan, merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja.  Stres di tempat kerja merupakan hal yang hampir setiap hari dialami oleh para pekerja di kota besar. Masyarakat pekerja di kota-kota besar seperti Jakarta sebagian besar merupakan urbanis dan industrialis yang selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja yang semakin beragam dan kadang bertentangan satu dengan yang lain, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, kesehatan, dan masih banyak tantangan atau tekanan lainnya yang membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Stres di tempat kerja menjadi suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Davis dan Newstrom (2001) mengatakan apabila karyawan tidak memiliki stres maka tantangan kerja tidak ada dan akibatnya prestasi kerja juga rendah. Semakin tinggi stres karena tantangan kerja, maka akan mengakibatkan bertambahnya prestasi kerja, tetapi stres kerja juga berpotensi menurunkan prestasi. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi individu dalam lingkungan kerja. Setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai situasi stres. Pelaksanaan kerja tergantung dari beberapa stres, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa di dalam organisasi stres juga dapat dipengaruhi kinerja karyawan. Selain stres kerja, semangat kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi perusahaan terutama yang menyangkut kinerja karyawan.

Stres manajemen adalah suatu program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stress dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih baik dalam menangani stres dalam kehidupan (Schafer, 2000: 18). Stress Management, mengajarkan individu bagaimana untuk menilai peristiwa stress. Pengorganisasian lingkungan yang buruk dapat menjadi penyebab stres yang utama. Apabila lingkungan diorganisir dengan baik dan menyenangkan, kemudian dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Beberapa orang yang mengalami stres memerlukan lingkungan yang ramai untuk menanggulangi stres. Program stres manajemen mengajarkan individu bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatasi stres, dan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa program stres manajemendalam lingkup yang luas, mengajarkan berbagai teknik, sementara yang lain fokus pada teknik tertentu seperti meditasi. Didalam stres manajemen terdapat Meditation and Relaxation yang dapat digunakan untuk menanggulangi stress, merupakan sistem kontrol mental seseorang. Peneliti telah menemukan bahwa meditasi dan relaksasi membawa  manfaat bagi fisik  dan  psikologis.

Pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja. Namun perlu diketahui juga bahwa stres secara ilmiah tidak senantiasa merupakan kondisi yang negatif, yaitu sesuatu yang mengarah kepada timbulnya penyakit fisik maupun mental, serta perilaku yang tidak wajar. Stres juga merupakan kekuatan positif yang diperlukan untuk menghasilkan prestasi tinggi. Sampai titik tertentu, bekerja dengan tekanan batas waktu (deadline) dapat merupakan proses kreatif yang merangsang. Dalam dunia pekerjaan, sering timbul berbagai masalah sehubungan dengan stres dan kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya stres. Baik disadari maupun tidak disadari, pekerjaan seseorang menimbulkan stres pada dirinya. Hal ini pasti akan tampak dalam kurun waktu yang panjang, karena memang manusia setiap harinya berkecimpung di tempat kerja nya lebih dari sepertiga kali dari total waktu yang tersedia. Setyawati (2010) mengatakan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, beberapa pengaruh shift kerja terhadap tubuh yaitu; adanya pengaruh pada kualitas tidur, kapasitas bekerja pada malam hari kurang, shift kerja dapat mempengaruhi kapasitas mental, menyebabkan gangguan kejiwaan, serta dapat memicu gangguan pencernaan pada pekerja shift malam atau lembur. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi bila jumlah jam kerja menjadi berlebihan, ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas kerja, tetapi juga sering meningkatkan jumlah absensi dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja

Namun, stres di tempat kerja juga berhubungan dengan kesehatan karena dapat menimbulkan stres. Dari segi dunia, ternyata semangat bekerja keras ini menimbulkan dampak terhadap kesehatan seseorang. Bekerja terlalu keras dengan tambahan faktor lain seperti kurangnya istirahat atau tidur dan kurang  olahraga membuat tubuh menjadi kurang bugar dan lebih mudah sakit. Seperti kasus yang dikutip oleh Kompasiana, seorang karyawan perusahaan periklanan internasional di Beijing meninggal dunia karena diduga kelelahan. Li Yuan adalah seorang karyawan yang bekerja di bidang periklanan di China. Di usianya yang ke-24, Yuan diketahui meninggal pada bulan Mei 2013. Sebulan sebelumnya, Yuan diketahui seringkali bekerja terlalu keras dan tanpa henti. Dia seringkali bekerja lembur hingga pukul 11 malam di perusahaannya Ogilvy & Mather China. Sebuah survei yang digelar harian pemerintah, Global Times  menemukan fakta bahwa dua dari tiga responden mengatakan kondisi kesehatan mereka sangat buruk.

Hubungan antara masing-masing perubahan psikologis seorang individu tidak banyak diketahui secara mendetail, tetapi kebanyakan peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis (stressor) termasuk stres akibat pekerjaan merupakan faktor pemicu yang penting untuk timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan beberapa penyakit neuropsikiatris. Stressor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja (Harrianto, 2009). China memang memiliki angka yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Jepang, untuk jumlah karyawan yang meninggal akibat pekerjaan. Sekitar 600.000 karyawan di China meninggal akibat ‘kelelahan’ setiap tahunnya, seperti dilansir oleh The China Youth Daily. Kebanyakan penyebabnya berkaitan dengan stres, stroke, dan serangan jantung. Beberapa gejala yang dialami adalah insomnia, anoreksia, serta rasa sakit pada dada. Pada hari Senin pukul lima sore, Yuan tiba-tiba saja berdiri dan mengeluhkan sakit pada bagian dadanya. Setelahnya dia jatuh tak sadarkan diri. Yuan segera dilarikan ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Dokter menjelaskan bahwa dia meninggal akibat serangan jantung. Seperti yang dilansir oleh berita di Kompasiana, kurangnya tidur dialami oleh Yuan karena jam kerja yang tidak produktif, dan terlalu sering lembur hingga berhari-hari. Kesehatan dan stres dalam dalam diri Yuan sangat berpengaruh karena stres yang dialami dapat diketahui dari gaya hidup seseorang dan bagaimana seseorang menjalani hidup sehat yang tepat.

Salah satu hambatan yang berhubungan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah kelelahan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun. Para responden mengaku mereka sangat lelah dan tertekan karena pekerjaan mereka. Namun, mereka juga merasa cemas saat tak mendapatkan tekanan apa pun. Robbin (2002) mengatakan stres merupakan kondisi dinamis dimana seseorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan sesuai dengan harapan dari hasil yang ingin dia capai dalam kondisi penting dan tidak menentu.

Pengaruh sumber-sumber stres kerja terhadap kinerja karyawan yang menunjukkan bahwa individual stres berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan. Seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Berdasarkan kasus diatas, ia tidak memiliki manajemen stres dan mengelola stres dengan baik karena menimbulkan kematian. Stres dapat berujung kematian apabila individu tidak mengelola atau menanggulangi manajemen stress nya dengan baik. Oleh karena itu kita harus mengelola manajemen stres dengan baik, mengukur diri, dan menjaga kesehatan tentunya.

Daftar Pustaka

 Aamodt, M. G. (2010). Industrial / Organizational Psychology: An Applied Approach. Sixth

Edition. United States of America : Wadsworth Cengage Learning.

Davis, Keith dan Newstrom W,J. (2001). Perilaku Dalam Organisasi. Jilid Dua Edisi Ketujuh.

Ciracas-Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hardoko, E. (2013). Sebulan Lembur, Karyawan China Tewas di Kantor. Diakses dari

(http://internasional.kompas.com/read/2013/05/16/14194236/Sebulan.Lembur..Karyawan.China.Tewas.di.Kantor). Diakses pada hari Kamis, 16 Maret 2017.

Harrianto, R. (2009). Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC

Robbin, P.S. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. (2006). Human Adjustment. United Sstates of America: McGraw Hill.

Schafer, Walt. (2000). Stress Management For Wellness: Fourth Edition. United States of

 America: Wadsworth.

Setyawati, K. (2010). Selintas Tentang Kelelahan Kerja. Yogyakarta: Amara Books

Sofwan, R. (2013). Bugar Selalu di Tempat Kerja. Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer

Kelompok Gramedia.

Pengaruh Hubungan Kerja Dalam Mendorong Semangat Kerja Karyawan Pada Lingkungan Pekerjaan

Lingkungan kerja menurut Nitisemito (Nitisemito, 2008) adalah lingkungan disekitar pekerjaan yang berdampak pada karyawan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Sedangkan Menurut Sedarmayati (Sedarmayanti, 2009) definisi lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah sebuah tempat kerja dimana sekumpulan manusia berkumpul dalam keberagamanan situasi dan kondisinya dalam sebuah tempat pekerjaan. Agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik dan mencapai hasil yang optimal, sebuah perusahaan perlu untuk menunjang lingkungan kerja yang optimal, sehat, dan aman bagi karyawannya. Perusahaan yang menyediakan keadaan lingkungan yang kurang baik bagi karyawannya, tidak akan dapat mencapai hasil output yang akan efisien dan tentunya akan memakan jumlah tenaga dan waktu yang jauh lebih banyak.

Continue reading “Pengaruh Hubungan Kerja Dalam Mendorong Semangat Kerja Karyawan Pada Lingkungan Pekerjaan”