Jaminan Kesehatan untuk Para Pengemudi Transportasi Online di Indonesia

Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat (Rosana, 2011). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Rosana, 2011).

Cahyono (2016) menyatakan bahwa masyarakat adalah sekelompok individu yang tinggal dalam suatu tempat tertentu, saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama, mempunyai adat-istiadat dan aturan- aturan tertentu dan lambat laun membentuk sebuah kebudayaan.

 

Pada zaman modern seperti sekarang ini banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi (dalam Soekanto, 2008) mengemukakan bahwa perubahan sosial diartikan sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-peubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi, maupun karena adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut. Salah satu perubahan yang dirasakan saat ini adalah dengan hadirnya transportasi online, ini sudah bukan hal yang biasa lagi. Adanya transportasi online tersebut, sangat mempermudah kehidupan di masa yang serba “instant” ini. Namun, banyak timbul pro dan kontra dengan kehadiran transportasi online di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, kultur atau budaya di Indonesia sangatlah kuat. Budaya bersama dengan lingkungan

berdampak pada semua tahap pengambilan keputusan masyarakat. Budaya mempengaruhi sistem yang menggerakan dan memotivasi orang untuk mengambil tindakan lebih jauh. Budaya suatu masyarakat menentukan sistem komunikasi dan tingkat perilaku yang dianggap sesuai oleh individu di dalamnya (Pasaribu, 2015).

 

Transportasi online merupakan hal yang baru bagi kultur atau budaya di Indonesia. Dalam budaya di Indonesia, transportasi yang lazim adalah transportasi umum. Transportasi umum pun terbagi dalam beberapa jenis, ada transportasi umum berjenis sepeda motor, mobil, kereta, dan bahkan sepeda saja (becak). Pada zaman dahulu, transportasi umum merupakan hal yang sangat membantu untuk masyarakat karena segelintir masyarakat jarang yang mempunyai transportasi pribadi. Namun, untuk zaman modern seperti sekarang ini, transportasi umum sudah mulai ditinggalkan karena meningkatnya taraf kehidupan ekonomi masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, meskipun transportasi umum mulai ditinggalkan tapi terkadang transportasi umum bisa menjadi solusi untuk di beberapa kota, seperti di ibukota Jakarta yang macetnya “luar biasa” ini.

 

Dengan berkembangnya zaman, transportasi umum pun sudah banyak mengalami regeneralisasi. Saat ini ada yang dikenal dengan transportasi online. Apa itu transportasi online? menurut Randika (2017), transportasi online merupakan jasa transportasi berbasis teknologi dan aplikasi telepon genggam yang memungkinkan seorang penumpang untuk memesan angkutan seperti Go-Jek, Go-Car, Grab, dan Uber melalui aplikasi tersebut. Seperti yang kita ketahui, transportasi umum pada lazimnya tidak menggunakan teknologi. Kita hanya bisa “tebak-tebakan  buah manggis” kapan transportasi umum itu datang. Di zaman yang serba cepat ini, kita pun bisa dengan cepat mendapatkan transportasi umum tanpa harus “berjuang” untuk mendapatkannya. Dengan kehadiran transportasi online, ini sangat membantu. Transportasi online memberikan wajah baru untuk transportasi umum di Indonesia, dan sangat membantu bagi sebagian masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Sekarang ini, transportasi online di Indonesia sudah meliputi ojek online dan taksi online. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan jasa ojek dan taksi online ini. Masing-masing dari perusahaan menawarkan keunggulannya dengan berbagai cara.

 

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, banyak pro dan kontra dengan  kehadirannya transportasi online di Indonesia. Pertama, Saya akan membahas dalam hal pro terlebih dahulu. Masyarakat modern kini sangat membutuhkan transportasi umum yang mudah dan cepat, terutama di sebagian kota-kota besar di Indonesia. Transportasi umum membantu masyarakat untuk melakukan mobilitas sehari-hari diluar rumah. Menurut salah satu pengguna transportasi online yang cukup sering, Bapak Adie dan Ibu Faiza dengan adanya transportasi umum berbasis teknologi ini atau yang biasa disebut transportasi online membantu untuk bagi sebagian orang yang banyak melakukan aktivitas diluar rumah karena sangat efisien, baik efisien waktu dan juga efisien dalam urusan harganya. Jika dibandingkan dengan transportasi umum pada biasanya, memang transportasi online ini harganya lebih bersahabat. Hal itu pula yang menjadi pertimbangan bagi beberapa orang untuk menggunakan transportasi online. Namun, ada pro ada juga kontra. Dalam hal ini, kontra lebih banyak ditemukan. Sebagai contoh kasus pertama, sejak kemunculannya yang “menjamur” di ibukota, para pengemudi taksi konvensional pun mulai menunjukan aksi protesnya dengan cara berdemo.

Pada tanggal 22 Maret 2016 lalu, pengemudi taksi konvensional berdemo menentang kehadiran transportasi online. Sebenarnya itu terjadi karena terjadi cara pandang yang berbeda antar kedua pihak. Para pengemudi taksi konvensional bertanggapan jika penghasilan mereka berkurang karena hadirnya transportasi online tersebut. Lalu aksi demo tersebut berujung dengan damai. Namun, tidak berhenti disitu saja. Kasus-kasus lain pun bermunculan di berbagai daerah. Pada tanggal 8 Maret 2017 berlokasi di Tangerang. Seorang pengemudi transportasi ojek online ditabrak oleh pengemudi angkutan umum kota (angkot). Pengemudi transportasi online tersebut bernama Jamil. Salah seorang mahasiswa yang sedang cuti kuliah karena masalah ekonomi. Jamil ditabrak oleh seorang pengemudi angkot cabutan karena alasan iri semata. Selanjutnya kasus lain yang terjadi pada satu hari berikutnya, Pada tanggal 9 Maret 2017 berlokasi di Bandung, para pengemudi angkutan umum kota (angkot) juga menunjukan ketidaksukaannya dengan transportasi online. Salah satu mobil yang diduga sebagai taksi online diberhentikan secara paksa dan dihancurkan. Kejadian itu terjadi saat satu keluarga melintasi daerah yang menjadi tempat unjuk rasa supir angkot, daerah Gedung Sate kota Bandung. Saat itu mobil mereka dihadang oleh belasan supir angkot dan dipaksa untuk keluar dari mobil. Belum sempat keluar dari mobil, para pengemudi supir angkot sudah membabi buta menghancurkan mobil yang dikira transportasi online tersebut. Kemudian akhirnya satu keluarga tersebut berhasil menyelamatkan diri untuk keluar. Sudah dipastikan mobil keluarga tersebut bukan transportasi online, melainkan mobil pribadi keluarga.

 

Dengan munculnya kasus-kasus seperti diatas, sebagian dari kita pasti bertanya-tanya bagaimana jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online tersebut?? Ya, sempat terlintas di otak Saya juga bagaimana nasib para pengemudi transportasi online tersebut.

 

Saya sempat menggobrol dengan salah satu pengendara transportasi online tetang bagaimana jaminan kesehatan para pengemudi transportasi online tersebut. Menurut salah satu pengemudi, jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online tersebut memang ada. Perusahaan memberikan jaminan kesehatan untuk para pengemudinya. Namun, tidak semudah itu. Jaminan kesehatan untuk para pengemudi transportasi online harus ditebus terlebih dahulu. Sementara, jika kejadian-kejadian seperti itu terjadi maka pihak-pihak dari perusahaan wajib memberikan jaminan kesehatan dan perlindungan hukum untuk para pengemudi transportasi online tersebut dengan mudah. Jaminan kesehatan diperlukan oleh seluruh masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan. Pengembangan jaminan kesehatan bagi masyarakat sangat diperlukan (Kurniawan dan Intiasari, 2012). Selain jaminan kesehatan, perlindungan hukum pun juga dibutuhkan untuk para pengemudi transportasi online. Darmajaya (2016) menyatakan bahwa, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.

 

Meskipun banyak pro dan kontra dengan kehadiran transportasi online di Indonesia, peforma pekerjaan para pengemudi transportasi tetap bagus. Menurut Aamodt (2007), job performance pada karyawan berguna untuk mengurangi stress mereka terhadap lingkungan kerja.

 

 

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Cahyono, A. S. (2016). PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA. Diakses dari file:///C:/Users/ABIGAEL/Downloads/79-148-1-SM.pdf diakses pada tanggal 15 Maret 2017

Darmajaya, W. A. (2016). PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PEKERJA DI PT. GO-JEK YOGYAKARTA. Skripsi Sarjana pada Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Kurniawan, A., Intiasari, A. D. (2012). Kebutuhan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Wilayah Pedesaan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.

Pasaribu, Y. M. (2015) Budaya Kota dan Nilai Tradisi Masyarakat Indonesia. Diakses dari file:///C:/Users/ABIGAEL/Downloads/606-1206-1-SM.pdf pada tanggal 15 Maret 2017.

Randika, D. (2017). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN SOPIR TAKSI. Skripsi Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pasundan, Bandung.

Rosana, E. (2011). Modernisasi dan Perubahan Sosial. Diakses dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=149651&val=5897&title=Modernisasi%20Dan%20Perubahan%20Sosial diakses pada tanggal 15 Maret 2017

Soekanto, S. (2008).  Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

http://www.detik-news.net/2017/03/korban-pengemudi-grab-yang-ditabrak.html

http://regional.kompas.com/read/2017/03/10/13480991/6.sopir.angkot.jadi.tersangka.perusakan.mobil.di.bandung

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/03/10/16140801/kronologi.sopir.angkot.tabrak.pengemudi.grab.di.tangerang

Advertisements

Angka Kematian Pekerja Tinggi. Apa penyebabnya?

Angka Kematian Pekerja Tinggi. Apa Penyebabnya?

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan program yang dibentuk perusahaan dan pekerja untuk mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit  akibat kerja. Tujuannya adalah untuk menciptakan tempat kerja yang nyaman, dan sehat sehingga dapat menekan kemungkinan resiko kecelakaan dan penyakit (Friend & Khon, 2007). Menurut OHSAS (2007), keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung, dan tamu) di tempat kerja.

Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja. Lalu ada, Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan memberikan ketentuan mengenai kesehatan kerja dalam Pasal 23, menyebutkan bahwa kesehatan kerja dilaksanakan supaya semua pekerja dapat bekerja dalam kondisi kesehatan yang baik tanpa membahayakan diri mereka sendiri atau masyarakat, dan supaya mereka dapat mengoptimalkan produktivitas kerja mereka sesuai dengan program perlindungan tenaga kerja (WageIndicator,2017). Sumber daya manusia yang handal dibutuhkan dalam menunjang bisnis perusahaan agar dapat bersaing, oleh karena itu perusahaan dituntut agar dapat mampu meningkatkan produktivitas sumber daya manusia yang ada. Produktivitas sumber daya manusia ditentukan oleh sejauh mana sistem yang ada di perusahaan dapat menunjang dan memuaskan keinginan seluruh pihak (Sedarmayanti, 2007). Menurut ILO (2013), setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. Terlebih lagi, 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja di seluruh dunia. Keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia  juga merupakan masalah yang cukup serius.

Menurut Deny (2017) yang dilansir melalui liputan6.com, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan bahwa angka kecelakaan kerja di 2016 mengalami penurunan dibandingkan 2015. Namun angka pekerja yang meninggal akibat dari kecelakaan tersebut meningkat ‎349,4 persen pada periode yang sama. Tahun lalu, dua pekerja konstruksi dilaporkan meninggal dunia saat sedang melakukan kerja di sebuah bangunan swasta di dekat kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kedua pekerja itu disebutkan mengalami kecelakaan kerja dengan terjatuh dari lantai 13 bangunan yang menjadi lokasi proyek pembangunan tersebut (Rahman,2016).

Dengan meningkatnya angka kematian akibat dari kecelakaan kerja tersebut sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, yaitu unsafe condition dan unsafe behavior. Unsafe behavior merupakan perilaku dan kebiasaan yang mengarah pada terjadinya kecelakaan kerja seperti tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dan penggunaan peralatan yang tidak standard sedang unsafe condition merupakan kondisi tempat kerja yang tidak aman seperti terlalu gelap, panas dan gangguan-gangguan faktor fisik lingkungan kerja lainnya. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyebab kecelakaan dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu faktor manusia : tindakan- tindakan yang diambil atau tidak diambil, untuk mengontrol cara kerja yang dilakukan, faktor material : resiko ledakan, kebakaran dan trauma paparan tak terduga untuk zat yang sangat beracun, faktor peralatan : rentan terhadap kegagalan yang dapat menyebabkan kecelakaan, faktor lingkungan : mengaacu pada keadaan tempat kerja, suhu, kelembaban, udara dan kualitas pencahayaan, faktor proses : termasuk resiko yang timbul dari proses produksi, seperti panas, kebisingan, debu, dan asap (ILO,2013). Faktor-faktor tersebut dapat dieliminasi dengan adanya komitmen perusahaan dalam menetapkan kebijakan dan peraturan K3 serta didukung oleh kualitas SDM perusahaan dalam pelaksanaannya.
Sayangnya, masih sedikit perusahaan di Indonesia yang berkomitmen untuk melaksanakan pedoman SMK3 dalam lingkungan kerjanya. Sebagaimana mestinya tempat kerja harus memenuhi ketentuan namun didalamnya terkandung sejumlah bahaya khusus dan oleh karenanya membutuhkan tindakan-tindakan pencegahan (Kuswana, 2014).  Dengan banyaknya kasus mengenai keselamatan dan kesehatan pekerja suatu perusahaan sebaiknya membentuk sebuah organisasi keselamatan kerja dimana organisasi tersebut melakukan tindakan berjaga-jaga yang tidak hanya berlaku bagi para pekerjanya, tetapi juga bagi para tamu yang berkunjung, kontraktor yang dipekerjakan, para undangan, lingkungan sekitar, atau anggota masyarakat lainnya yang mungkin terkena pengaruh kegiatan-kegiatan perusahaan (Ridley, 2008). Cara-cara yang dapat dipakai untuk keselamatan kerja adalah menyediakan dan menggunakan perlengkapan khusus. Perusahaan juga mempunyai peran penting dalam kesehatan dan keselamatan karyawannya karena perusahaan memiliki kendali dan dapat memberika intruksi. Cara manajer bersikap dan kepeduliannya terhadap karyawan dapat mempengaruhi sikap para pekerja.

Menurut WageIndicator (2017), dalam Perjanjian Kerja Bersama  akan dikaji hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan upah, keselamatan dan kesejahteraan karyawan.  Perusahaan dan setiap pekerja harus sadar sepenuhnya bahwa K3 adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama.  PKB biasanya akan mengatur mengenai hak dan kewajiban dari para karyawan dalam hal K3 sebagai mana PKB juga akan mengatur mengenai hak dan kewajiban perusahaan. Dalam Perjanjian Kerja Bersama juga tertulis sanksi-sanksi yang diberikan apabila salah satu dari kedua belah pihak melanggar PKB. Diatas di sebutkan undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan undang-undang kesehatan, jika tidak menjalankan ketentuan undang-undang akan dikenakan hukuman pindana paling lama satu tahun atau paling banyak denda sebesar Rp.15.000.000 (lima belas juta rupiah).

Kendala-kendala yang biasanya terjadi dalam perjanjian keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah pemahaman karyawan mengenai isi perjanjian kerja bersama, penanganan keselamatan kerja tidak optimal, kebijakan perusahaan yang tidak tegas (WageIndicator,2017). Kendala-kendala yang sering terjadi ini membuat sering terjadinya masalah K3 antara pekerja dan perusahaan. Yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut adalah dengan pembinaan dan sosialisasi antara pengurus pekerja dan pekerja, memberikan tindakan tegas apabila terjadi ketidaksiplinan pekerja dalam bekerja, dan apabila terjadi kecelakaan, pihak manajemen perusahaan harus mempelajari letak kesalahan yang terjadi.

Mengenai biaya perawatan kesehatan perusahaan akan membayar penuh asuransi kesehatan untuk meningkatkan mutu pada karyawan (Aamodt, 2007). Di Indonesia sudah ada beberapa asuransi yang digunakan perusahaan untuk menjamin kesehatan para karyawannya, seperti JKN dan BPJS. Menurut Syarifah (2013) yang dilansir melalui liputan6.com JKN adalah program pelayanan kesehatan yang merupakan kepanjangan dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan. Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS ini adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya. Dan juga kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena metode pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah. Dengan demikian cara agar kesehatan pekerja terjamin seharusnya angka kematian karyawan sudah dapat menurun.

 

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Deny, S. (2017). Pekerja yang Meninggal di 2016 Naik Lebih dari 300 Persen. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/2825144/pekerja-yang-meninggal-di-2016-naik-lebih-dari-300-persen. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Friend, M.A. dan Kohn, J.P., (2007). Fundamental of Occupational Safety and Helath. Fourth Edition. Toronto ; Government Institutes.

Kuswana, W.S. (2014). Ergonomi dan K3. Bandung ; PT. Remaja Rosdakarya.

ILO. (2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta ; International Labor Organitation.

OHSAS 18001:2007. Occupational health safety management system – Specification.

Ridley, J. (2008). Heatlh and Safety in Brief. Third Edition. England ; Elsevier Ltd.

Syarifah, F. (2013). Pertanyaan-pertanyaan Dasar Seputar JKN dan BPJS. Diakses dari http://health.liputan6.com/read/788613/pertanyaan-pertanyaan-dasar-seputar-jkn-dan-bpjs. Diakses pada tanggal 21 Maret 2017.

WageIndicator. (2017). Pertanyaan Mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia. Diakses dari http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/keselamatan-dan-kesehatan-kerja/pertanyaan-mengenai-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-di-indonesia-1. Diakses pada tanggal 21 Maret 2017.

 

Stress Management: Lembur Kerja menyebabkan Kematian

Salah satu tren positif yang terjadi belakangan ini adalah tingginya antusias sebagian masyarakat untuk bekerja. Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan kepuasan, tantangan, bahkan dapat pula menjadi gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah diketahui, desain dan organisasi kerja yang tidak memadai, seperti kecepatan dan beban kerja yang berlebihan, merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja.  Stres di tempat kerja merupakan hal yang hampir setiap hari dialami oleh para pekerja di kota besar. Masyarakat pekerja di kota-kota besar seperti Jakarta sebagian besar merupakan urbanis dan industrialis yang selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja yang semakin beragam dan kadang bertentangan satu dengan yang lain, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, kesehatan, dan masih banyak tantangan atau tekanan lainnya yang membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Stres di tempat kerja menjadi suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Davis dan Newstrom (2001) mengatakan apabila karyawan tidak memiliki stres maka tantangan kerja tidak ada dan akibatnya prestasi kerja juga rendah. Semakin tinggi stres karena tantangan kerja, maka akan mengakibatkan bertambahnya prestasi kerja, tetapi stres kerja juga berpotensi menurunkan prestasi. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi individu dalam lingkungan kerja. Setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai situasi stres. Pelaksanaan kerja tergantung dari beberapa stres, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa di dalam organisasi stres juga dapat dipengaruhi kinerja karyawan. Selain stres kerja, semangat kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi perusahaan terutama yang menyangkut kinerja karyawan.

Stres manajemen adalah suatu program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stress dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih baik dalam menangani stres dalam kehidupan (Schafer, 2000: 18). Stress Management, mengajarkan individu bagaimana untuk menilai peristiwa stress. Pengorganisasian lingkungan yang buruk dapat menjadi penyebab stres yang utama. Apabila lingkungan diorganisir dengan baik dan menyenangkan, kemudian dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Beberapa orang yang mengalami stres memerlukan lingkungan yang ramai untuk menanggulangi stres. Program stres manajemen mengajarkan individu bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatasi stres, dan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa program stres manajemendalam lingkup yang luas, mengajarkan berbagai teknik, sementara yang lain fokus pada teknik tertentu seperti meditasi. Didalam stres manajemen terdapat Meditation and Relaxation yang dapat digunakan untuk menanggulangi stress, merupakan sistem kontrol mental seseorang. Peneliti telah menemukan bahwa meditasi dan relaksasi membawa  manfaat bagi fisik  dan  psikologis.

Pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja. Namun perlu diketahui juga bahwa stres secara ilmiah tidak senantiasa merupakan kondisi yang negatif, yaitu sesuatu yang mengarah kepada timbulnya penyakit fisik maupun mental, serta perilaku yang tidak wajar. Stres juga merupakan kekuatan positif yang diperlukan untuk menghasilkan prestasi tinggi. Sampai titik tertentu, bekerja dengan tekanan batas waktu (deadline) dapat merupakan proses kreatif yang merangsang. Dalam dunia pekerjaan, sering timbul berbagai masalah sehubungan dengan stres dan kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya stres. Baik disadari maupun tidak disadari, pekerjaan seseorang menimbulkan stres pada dirinya. Hal ini pasti akan tampak dalam kurun waktu yang panjang, karena memang manusia setiap harinya berkecimpung di tempat kerja nya lebih dari sepertiga kali dari total waktu yang tersedia. Setyawati (2010) mengatakan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, beberapa pengaruh shift kerja terhadap tubuh yaitu; adanya pengaruh pada kualitas tidur, kapasitas bekerja pada malam hari kurang, shift kerja dapat mempengaruhi kapasitas mental, menyebabkan gangguan kejiwaan, serta dapat memicu gangguan pencernaan pada pekerja shift malam atau lembur. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi bila jumlah jam kerja menjadi berlebihan, ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas kerja, tetapi juga sering meningkatkan jumlah absensi dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja

Namun, stres di tempat kerja juga berhubungan dengan kesehatan karena dapat menimbulkan stres. Dari segi dunia, ternyata semangat bekerja keras ini menimbulkan dampak terhadap kesehatan seseorang. Bekerja terlalu keras dengan tambahan faktor lain seperti kurangnya istirahat atau tidur dan kurang  olahraga membuat tubuh menjadi kurang bugar dan lebih mudah sakit. Seperti kasus yang dikutip oleh Kompasiana, seorang karyawan perusahaan periklanan internasional di Beijing meninggal dunia karena diduga kelelahan. Li Yuan adalah seorang karyawan yang bekerja di bidang periklanan di China. Di usianya yang ke-24, Yuan diketahui meninggal pada bulan Mei 2013. Sebulan sebelumnya, Yuan diketahui seringkali bekerja terlalu keras dan tanpa henti. Dia seringkali bekerja lembur hingga pukul 11 malam di perusahaannya Ogilvy & Mather China. Sebuah survei yang digelar harian pemerintah, Global Times  menemukan fakta bahwa dua dari tiga responden mengatakan kondisi kesehatan mereka sangat buruk.

Hubungan antara masing-masing perubahan psikologis seorang individu tidak banyak diketahui secara mendetail, tetapi kebanyakan peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis (stressor) termasuk stres akibat pekerjaan merupakan faktor pemicu yang penting untuk timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan beberapa penyakit neuropsikiatris. Stressor sering kali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan kerja, atau sebagai ketidak harmonisan hubungan dengan individu lain ditempat kerja dan faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja (Harrianto, 2009). China memang memiliki angka yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Jepang, untuk jumlah karyawan yang meninggal akibat pekerjaan. Sekitar 600.000 karyawan di China meninggal akibat ‘kelelahan’ setiap tahunnya, seperti dilansir oleh The China Youth Daily. Kebanyakan penyebabnya berkaitan dengan stres, stroke, dan serangan jantung. Beberapa gejala yang dialami adalah insomnia, anoreksia, serta rasa sakit pada dada. Pada hari Senin pukul lima sore, Yuan tiba-tiba saja berdiri dan mengeluhkan sakit pada bagian dadanya. Setelahnya dia jatuh tak sadarkan diri. Yuan segera dilarikan ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Dokter menjelaskan bahwa dia meninggal akibat serangan jantung. Seperti yang dilansir oleh berita di Kompasiana, kurangnya tidur dialami oleh Yuan karena jam kerja yang tidak produktif, dan terlalu sering lembur hingga berhari-hari. Kesehatan dan stres dalam dalam diri Yuan sangat berpengaruh karena stres yang dialami dapat diketahui dari gaya hidup seseorang dan bagaimana seseorang menjalani hidup sehat yang tepat.

Salah satu hambatan yang berhubungan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah kelelahan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun. Para responden mengaku mereka sangat lelah dan tertekan karena pekerjaan mereka. Namun, mereka juga merasa cemas saat tak mendapatkan tekanan apa pun. Robbin (2002) mengatakan stres merupakan kondisi dinamis dimana seseorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan sesuai dengan harapan dari hasil yang ingin dia capai dalam kondisi penting dan tidak menentu.

Pengaruh sumber-sumber stres kerja terhadap kinerja karyawan yang menunjukkan bahwa individual stres berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan. Seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Berdasarkan kasus diatas, ia tidak memiliki manajemen stres dan mengelola stres dengan baik karena menimbulkan kematian. Stres dapat berujung kematian apabila individu tidak mengelola atau menanggulangi manajemen stress nya dengan baik. Oleh karena itu kita harus mengelola manajemen stres dengan baik, mengukur diri, dan menjaga kesehatan tentunya.

Daftar Pustaka

 Aamodt, M. G. (2010). Industrial / Organizational Psychology: An Applied Approach. Sixth

Edition. United States of America : Wadsworth Cengage Learning.

Davis, Keith dan Newstrom W,J. (2001). Perilaku Dalam Organisasi. Jilid Dua Edisi Ketujuh.

Ciracas-Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hardoko, E. (2013). Sebulan Lembur, Karyawan China Tewas di Kantor. Diakses dari

(http://internasional.kompas.com/read/2013/05/16/14194236/Sebulan.Lembur..Karyawan.China.Tewas.di.Kantor). Diakses pada hari Kamis, 16 Maret 2017.

Harrianto, R. (2009). Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC

Robbin, P.S. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. (2006). Human Adjustment. United Sstates of America: McGraw Hill.

Schafer, Walt. (2000). Stress Management For Wellness: Fourth Edition. United States of

 America: Wadsworth.

Setyawati, K. (2010). Selintas Tentang Kelelahan Kerja. Yogyakarta: Amara Books

Sofwan, R. (2013). Bugar Selalu di Tempat Kerja. Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer

Kelompok Gramedia.