Stres Managemen di Tempat Kerja

Stres merupakan reaksi yang dapat mengganggu psikis, tekanan perasaan, dan emosi yang tidak dapat dikendalikan oleh individu. Tubuh yang mengalami tekanan dari timbulnya stres dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan. Stres timbul tidak hanya dari masalah keluarga, masalah ekonomi, dan sosial. Menurut Wira, Desmond (2016) Tekanan dari pekerjaan juga bisa mengakibatkan stress. Stres terjadi jika seseorang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik atau psikologisnya. Peristiwa-peristiwa tersebut disebut stressor, dan reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres. Stres yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan emosi yang menyakitkan seperti kecemasan dan depresi. Maka dari itu akan berdampak sangat buruk oleh individu yang mengalami stress yang berlebihan.

Pada prinsifnya sama dengan frustasi, tetapi tekanan perasaan ini berlangsung atau kontinuitasnya yang menuju sasaran (goal) tidak berhenti sama sekali. Jika seseorang berusaha menyelesaikan suatu pekerjaan dengan waktu yang sangat terbatas, maka dapat dikatakan orang itu bekerja dalam keadaan stres. Kondisi demikian dapat menyebabkan individu mengalami kesukaran, hambatan, dan mencapai sasaran. Stress dapat dimaknai sebagai suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkanpada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress juga beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.

Menurut Hartono dan Boy  (2012) Umumnya penyebab stress adalah suatu keinginan yang tidak terpenuhi atau suatu keinginan khawatir apabila tidak terpenuhi. Suatu perasaan atau emosional yang memicu metabolism tubuh untuk bekerja yang secara alamiah normal, tetapi nila metabolism ini sering terjadi dapat menyebabkan over load atau kerja yang berlebihan yang selanjutnya dapat memengaruhi metabolism yang lain menjadi tidak normal lagi. Dan inilah yang sangat dirasakan oleh penderita atau individu yang tercetus menjadi gejala fisik yang tidak diketahui atau secara sadar apa penyebabnya.

Aamodth (2010) mengatakan bahwa banyak kejadian dan faktor bisa di anggap stres, dan seperti yang dinyatakan sebelumnya, apa yang menimbulkan stres bagi satu orang mungkin tidak untuk yang lain. Sekali lagi, apa yang menentukan apakan sesuatu akan menjadi stressor tergantung banyak pada pentingnya dan jumlah pengendalian dirasakan. Stres dapat dikelompokan dalam dua kategori besar : pribadi dan pekerjaan.

Menurut Khairani, Makmun (2016) keadaan konflik dapat terjadi di sebuah pekerjaan, apabila individu menhadapi kejadian dua respon yang efektif dan keduanya mempunyai segi-segi yang positif pula. Dalam hal yang demikian individu itu sulit membedakannya, mana yang harus diikuti agar jangan tertarik atau menghadapi dua tujuan yang mempunyai keadaan yang berlawanan. Hal ini tentu tidak mungkin keduanya akan dicapai bersama-sama dalam waktu yang sama pula. Dalam suasana konflik ini individu tidak mampu untuk memberikan respon yang efektif yang saat menembus rintangan dan juga frustasi dapat muncul bila dalam suasana konflik itu individu tidak mampu membedakan antara motif-motif atau tidak mampu melakukan seleksi terhadap respon-respon tersebut. Dalam keadaan stress ini pula mudah sekali perasaan emosional terjadi walaupun karena hal yang sepele dan membuat pekerjaan tidak semaksimal ketika perasaan sedang normal.

Para ahli memiliki kesulitan dalam mendenisikan stres, tetapi yang paling sering digambarkan sebagai respon adaptif terhadap situasi yang dianggap sebagai menantang atau mengancam seseorang kesejahteraan. Stres adalah suatu kondisi fisiologis dan piskologis yang mempersiapkan kita untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang bermusuhan atau berbahaya. Denyut jantung meningkat, otot menegang, kecepatan bernapas, dan keringat meningkat. Tubuh juga bergerak lebih banyak darah ke otak, melepaskan adrenalin dan hormone lainnya, membakar lebih banyak glukosa dan asam lemak, mengaktifkan sistem yang mempertajam indra dan menghemat sumber daya dengan mematikan sistem kekebalan tubuh.

Tiga dari empat orang Amerika (dan persentase yang sama dari orang di Jerman, Kanada, Australia, dan Inggris) mengatakan mereka sering atau kadang-kadang merasa stres dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sekitar satu dari setiap empat karyawan di Inggris merasa “sangat atau sangat stres,” dan kondisi ini telah menjadi penyebab atas ketidakhadiran di sana. Lebih dari seperempat dari Kanada mengatakan mereka menagalami tingkat stres yang tinggi setiap hari. Sebuah survey dari 4.700 orang di seluruh Asia melaporkan bahwa sepertiga yang merasa lebih stres dari pada mereka di masa lalu. Persentase orang yang melaporkan stres tertinggi di Taiwan dan terendah di Thailand. Pemerintah Jepang, yang melacak stres yang berhubungan dengan pekerjaan setiap lima tahun, telah menemukan bahwa persentase karyawan Jepang merasa “kuat khawatir, kecemasan atau stres di tempat kerja atau dalam kehidupan sehari-hari kerja” telah meningkat dari 51 persen pada tahun 1982 menjadi hamper dua pertiga dari populasi saat ini.

Stress juga tidak selalu buruk dalam melakukan pekerjaan, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, akan tetapi stres juga memiliki positifnya ketika menjadi peluang saat menawarkan hasil karena dapat membuat lebih aktif dan waspada dalam konsentrasi di pekerjaan tersebut. Contohnya yaitu saat menghadapi bahaya, menjadi lebih waspada, lalu otak segera bisa melawannya. Pekerja yang stress, bisa terpicu untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Tubuh akan merespon dengan meningkatkan konsentrasi dan melakukan tindakan yang tepat pada posisi pekerjaan tersebut (McShane and Glinow, 2010)

Karena karakteristik pribadi yang unik, orang memiliki pengalaman stres yang berbeda saat terkena stressor yang sama. Salah satu alasan ini adalah bahwa orang memiliki ambang batas yang berbeda dari perlawanan terhadap stressor. Mereka yang berolahraga dan memiliki gaya hidup yang sehat memiliki energi besar untuk mengatasi tingkat stres yang tinggi. Untuk respon stres yang berbeda adalah bahwa orang menggunakan strategi coping yang berbeda, beberapa di antaranya lebih efektif dari pada yang lain. Penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang mencoba untuk mengabaikan atau menyangkal keberadaan stressor lebih menderita dalam jangka panjang daripada mereka yang mencoba mencari cara untuk mengurangi stressor dan mencari dukungan sosial.

Dari titik pandang organisasi, managemen mungkin tidak peduli bila karyawan mengalami tingkat stres yang rendah sampai sedang. Alasannya adalah tingkat semacam itu dapat bersifat fungsional dan mendorong ke kinerja karyawan yang lebih tinggi. Tetapi tingkat stres yang tinggi atau tingkat rendah tetapi berkepanjangan dapat mendorong ke kinerja karyawan yang menurun dan karenanya menuntut tindakan dari managemen. Ada dua pendekatan yang bisa di pakai dalam mengelola stres yaitu pendekatan individual dan pendekatan organisasional. Pendekatan individual. Seorang karyawab dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif mencakup pelaksanaan teknik-teknik managemen waktu, meningkatkan latihan fisik, latihan relaksasi, dan perluasan jaringan dukungan sosial.

Daftar Pustaka

Hartono dan Boy. 2012. Psikologi Konseling ; Edisi Revisi. Jakarta: Prenada Media Group.

Khairani, Makmun. 2016. Psikologi Umum ; Edisi Revisi. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Wira, Desmond. 2016. Psikologi Tranding ; Aspek psikologi dalam Investasi dan Tranding. Jakarta: Penerbit Exceed.

McShane, Glinow. 2010. Organizational Behavior ; Emerging Knowledge and Practice for the Real World.New York: McGraw-Hill Companies.

Aamondt, M. G. 2010. Industrial / Organizational Psychology ; An applied approach, 6 th edition. Wadsworta: United State of America.