Stress Management; Guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari pasti pernah mengalami hal atau peristiwa yang membuat mereka merasa tertekan, merasa terasingkan, dan merasa gagal dalam mengerjakan sesuatu. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa terjadi karena perilaku orang tersebut, ataupun akibat dari perilaku orang lain yang membuat orang tersebut harus menerima konsekuensinya. Walaupun memang dalam melakukan suatu hal kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan dan harus menerima konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan tersebut, banyak orang mengalami stres, baik dalam hal pekerjaan ataupun dalam bergaul dengan orang lain. Termasuk dalam dunia kerja. Stres sering dikeluhkan oleh para pekerja. Banyaknya masalah dalam lingkungan pekerjaan seperti bobot pekerjaan yang banyak, permasalahan dengan atasan, saingan dengan pekerja lain, dan deadline pekerjaan. Lebih lanjut lagi dalam artikel ini akan membahas mengenai definisi stres dari beberapa tokoh, kemudian wawancara dengan narasumber mengenai stres yang dialami guru anak berkebutuhan khusus, strategi menghadapi stres, dan hal-hal apa yang baik dilakukan untuk mengurangi stres.

Apa itu stres? Bagaimana kita tahu jika kita sedang stres? Kita mungkin pernah mengalami sakit kepala, sakit perut, sakit punggung, atau bahkan capek, gelisah dan depresi. Beberapa orang makan lebih banyak ketika stres, dan ada juga yang susah makan ketika stres. Stres memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Dari perspektif orang awam stres bisa dideskripsikan sebagai perasaan menekan, takut, ataupun gelisah. Stres pertama kali dijelaskan pada tahun 1930 oleh Hans Selye, ketika mengamati sedang mengamati pasien-pasiennya yang menderita berbagai penyakit. Semua penyakit tersebut menunjukkan gejala umum, seperti kelelahan, gangguan nafsu makan, masalah tidur, perubahan suasana hati, masalah pencernaan, dan konsentrasi berkurang. Stres mengacu pada respon fisiologis dan psikologis dalam perubahan atau gangguan yang signifikan atau tidak terduga dalam kehidupan seseorang. Stres juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor nyata atau faktor-faktor yang tidak nyata (Hahn, Payne & Lucas, 2011). Dalam definisi lain stres adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang mempersiapkan kita untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang mengancam atau berbahaya (McShane & Glinow, 2010).  Stress juga merupakan respon adaptif, dan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi, atau peristiwa yang menempatkan tuntutan khusus pada seseorang (Gibson, Ivancevich, Donnelly & Konopaske, 2009). Tidak ada definisi universal tentang stres. Definisi stres tergantung pada pendekatannya. Berikut adalah 3 pendekatan tentang stres menurut Soewondo (2013) yaitu:

Stres sebagai stimulus. Pendekatan in menggambarkan stres sebagai stimulus lingkungan yang dihadapi individu berupa satu keadaan yang mengganggu dan menjadi beban. Hal ini merupakan tuntutan yang mengancam seperti: badai, gempa, longsor, wabah, kematian keluarga, perceraian, dll. Semua hal tersebut merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan dapat menyebabkan ketegangan.

Stres sebagai respon. Pendekatan ini menganggp stres sebagai reaksi fisiologis dan psikologis terhadap stresor. Selye (dalam Soewondo, 2012) mendefinisikan stres sebagai ”respon non-spesifik dari tubuh terhadap setiap tuntutan”. Bila seseorang dihadapkan pada situasi yang dapat menimbulkan stres, terjadi stres respon, ada reaksi kimiawi dalam tubuh, hormon meningkat dan mengalir ke dalam darah, emosi meninggi dan ketegangan menambah.

Stres sebagai interaksi antara individu dan lingkungan. Stres dirumuskan sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representasi dari transaksi khas dan problematik antara seseorang dan lingkungan.

Stres terjadi terhadap siapa saja, dan dimana saja. Stres juga bisa terjadi di dunia pendidikan khususnya para guru. Kasus stres kerja di dunia pendidikan sendiri, menurut hasil studi Sugijanto (dalam Farestu, 2016), menunjukkan bahwa dari 326 responden guru, ia menemukan 5.51% guru yang benar-benar merasa stres dan 60% sampel guru mengatakan bahwa mereka mengalami stres kerja. Studi lain dari Arismunandar (dalam Farestu, 2016) menyimpulkan bahwa 30.27% dari 80.000 guru mengalami stres kerja berat, yang berarti jumlah guru yang mengalami stres kerja ada 24.000 orang. Dalam studi tersebut juga disimpulkan bahwa stres kerja menunurunkan kinerja guru dengan cepat, semakin tinggi tingkat stres yang dialami guru, maka kinerja dan produktivitas kerja guru semakin rendah. Dalam artikel ini akan membahas mengenai stres yang dialami Guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut Kustawan & Yani (dalam Farestu, 2016) anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak-anak secara umum, atau berbeda dengan rata-rata anak seusianya. Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang, menghambat, atau bahkan memiliki kelebihan dalam dirinya. Anak berkebutuhan khusus dibedakan menjadi dua, yaitu anak berkebutuhan permanen dan temporer. Anak berkebutuhan khusus permanen adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan yang disebabkan oleh faktor dalam dirinya, contohnya memiliki hambatan atau gangguan penglihatan, pendengaran, gangguan motorik, autis, hiperaktif dan sebagainya. Sedangkan anak berkebutuhan khusus temporer adalah anak yang memiliki hambatan dari luar diri mereka seperti anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, berasal dari daerah yang terisolasi, dan korban bencana. Menjadi guru yang membimbing Anak Berkebutuhan Khusus bukanlah hal yang mudah. Guru ABK tidak seperti guru-guru pada dasarnya seperti membimbing anak-anak yang normal. Menjadi guru ABK memiliki tantangan tersendiri. Di Indonesia, sudah banyak sekolah-sekolah yang secara khusus menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya di salah satu sekolah swasta di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Sekolah tersebut merupakan sekolah umum seperti sekolah biasanya, namun ada kelas-kelas khusus yang menangani anak berkebutuhan khusus. Untuk menangani anak berkebutuhan khusus biasanya dalam satu kelas memerlukan guru yang secara khusus mengajar dan membimbing anak-anak, dan asisten guru untuk mendampingi anak-anak di kelas, dan membantu proses belajar sehingga memudahkan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu anak-anak berkebutuhan khusus juga diberikan therapy yang biasanya melatih anak untuk menulis, berbicara, dll sehingga mempermudah anak-anak tersebut untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan luar. Dari hasi wawancara dengan narasumber yang merupakan salah satu guru di sekolah tersebut, menurut beliau menjadi guru anak berkebutuhan khusus harus memberikan layanan-layanan khusus untuk membimbing anak-anak tersebut. Dan menjadi guru anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah. Menurut narasumber, untuk menjadi guru ABK haruslah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menangani mereka, disamping itu sangat penting juga untuk bekerja sama dengan orang tua anak. Narasumber mengatakan bahwa hampir setiap detik, gerak-gerik mereka harus diperhatikan karena jika tidak maka anak tersebut bisa membuat ulah seperti ketika sedang memegang penghapus kemudian penghapus tersebut digigit dan dimasukan ke dalam mulut bahkan pernah ada anak yang memakan penghapus tersebut. Dalam hal ini orang tua anak biasanya menyalahkan guru karena dianggap tidak lalai. Menurut narasumber, guru ABK harus memenuhi tuntuntan pekerjaan dan menyeimbangkan dengan membimbing anak. Hal ini menurut narasumber menjadi pemicu timbulnya stres. Terkadang dalam membimbing anak berkebutuhan khusus membutuhkan emosi yang lebih, karena anak berkebutuhan khusus biasanya emosinya labil, sering menyerang tiba-tiba dan melakukan tindakan agresif yang tidak terkontrol lainnya. Terkadang karena stres, narasumber sering kehilangan kesabaran sehingga sering marah. Akan tetapi menurut narasumber, marah yang berlebihan kepada anak berkebutuhan khusus sangat tidak baik. Karena terkadang jika marah berlebihan, perilaku yang muncul pada anak berkebutuhan khusus semakin tidak terkontrol. Menurut narasumber, beliau biasanya hanya bisa bersabar dalam membimbing anak berkebutuhan khusus, karena mereka berbeda dengan anak lainnya. Walaupun beliau sering merasakan stres akan tetapi stres tersebut tidak boleh menjadi penghalang beliau mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Begitupun juga dengan orang lain, stres yang berkepanjangan dan tidak mendapatkan penanganan yang sesuai, lama-kelamaan stres akan memberat dan semakin parah dari hari ke hari. Ada berbagai macam strategi yang dilakukan oleh manusia untuk mengurangi stres. Aamodt (2007) menyarankan beberapa cara yang secara proaktif dapat mengurangi stres;

Exercise. Berolahraga tidak hanya membuat jantung kita kuat, tetapi juga dapat membantu mengurangi tingkat stres pada saat tertentu. Dari narasumber yang diwawancara, beliau mengurangi stres dengan berolahraga ringan seperti jalan kaki pada pagi hari sebelum berangkat kerja.

Laughter. Humor terbukti menjadi strategi yang dilakukan orang untuk mengurangi stres. Dengan tertawa secara tidak langsung kita meluapkan emosi negatif yang kita simpan. Menurut narasumber, beliau juga sering bercanda di waktu kosong ketika sedang bekerja.

Sleep. Beberapa penelitian menemukan bahwa kekurangan tidur memicu terjadinya perilaku seperti kurang konsentrasi hingga depresi. Narasumber mengatakan bahwa beliau menjaga proporsi tidurnya agak tidak kurang tidak berlebihan. Karena menurut beliau cara tersebut bisa untuk mengurangi stres.

Daftar Pustaka

Aamodt, M.G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach (5th edition). Wadsworth: Cengage Learning.

Farestu, E.G. (2016). Stres kerja pada karyawan yang menangani ABK di ”Sekolah Asrama

Autis-Hiperaktif Arogya Mitra Klaten”. Diakses dari http://digilib.uin-suka.ac.id/20865/1/11710001_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2016

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnelly, J.H., & Konopaske, R. (2009). Organizations:

Behavior, Structure, Processes (13th edition). New York: McGraw-Hill/Irwin.

Hahn, D.B., Payne, W.A., & Lucas, E.B., (2011). Focus on Health (10th edition). New

York: McGraw-Hill.

McShane, S.L., Glinow, M.A.V. (2010). Organizational Behavior (5th edition). New York:

McGraw-Hill/Irwin.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Depok: Universitas

Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s