Komunikasi Dalam Suatu Organisasi

Komunikasi merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan manusia. Sehingga kita perlu membangun komunikasi yang baik agar dapat tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain. Begitupun dalam sebuah perusahaan, komunikasi menjadi kunci utama dalam proses pertukaran informasi antar bagian dalam perusahaan. Baik antara pimpinan perusahaan dengan karyawan, maupun karyawan dengan sesama karyawan dalam perusahaan tersebut. Komunikasi merupakan proses khusus dan bermakna. Dalam Suatu Perusahaan makna komunikasi berperan sangat penting, pentingnya komunikasi dalam perusahaan adalah dimana dalam melakukan perejaan diantara sesama karyawan memerlukan komunikasi yang efektif agar dapat dimengerti pesan-pesan tentang pekerjaan. Suatu pesan tentang pekerjaan yang akan disebarluaskan maka pastilah informasi tersebut harus berjalan mengikuti suatu alur dari pimpinan sampai kepada para karyawannya ataupun sebaliknya dan juga diantara karyawan, komunikasi yang terjadi didalam suatu organisasi nantinya juga akan mempengaruhi kegiatan organisasi, seperti efisiensi kerja, kepuasan karyawan dan lainnya. Tujuan komunikasi keorganisasian antara lain untuk memberikan informasi baik kepada pihak luar maupun pihak dalam, memanfaatkan umpan balik dalam rangka proses pengendalian manajemen, mendapatkan pengaruh, alat untuk memecahkan persoalan untuk pengambilan keputusan, mempermudah perubahan-perubahan yang akan dilakukan, mempermudah pembentukan kelompok-kelompok kerja serta dapat dijadikan untuk menjaga pintu keluar-masuk dengan pihak-pihak luar organisasi (Umar, 20015). Komunikasi adalah sebuah proses sistemis di mana orang berinteraksi dengan melalui simbol untuk menciptakan dan menafsirkan kata (Wood, 2012). Komunikasi memiliki dua bentuk umum yaitu penciptaan pesan atau lebih tepatnya penciptaan pertunjukan yang berarti bahwa anda membawa sesuatu untuk diperhatikan seseorang atau orang lain dan penafsiran pesan, yang terjadi ketika seseorang terlibat dalam komunukasi untuk menafsirkan pesan (Pace and Faules, 2013). Komunikasi organisasi bisa bersifat formal dan informal. Komunikasi formal adalah komunikasi yang di setujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi pada kepentingan organisasi. Seperti yang dilansir dari sport.detik.com Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla M. Matalitti berpandangan bahwa komunikasi memang penting untuk menghindari kesalahpahaman. Hal tersebut ia nyatakan ketika meluncurkan website pribadi. “Web ini hanya sarana komunikasi saja dengan masyarakat luas. Selain komunikasi langsung dengan saya secara personal. Komunikasi bagi saya penting untuk menghindari kesalahpahaman di antara kita,” terangnya (“Waketum PSSI Launching Website Pribadi”, www.pssi.or.id). Dari pernyataan Djohar dan La Nyalla dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang baik merupakan keharusan bagi PSSI. Untuk mewujudkan hal itu, PSSI kemudian memperbarui website dan berencana merambah media sosial. Namun website, social media, itu “hanya” saluran komunikasi. Ketika saluran komunikasinya sudah diperbaiki, lalu bagaimana kualitas komunikasi? Apakah serta merta membaik? Sebagai gambaran, dua tahun silam –atau di tahun yang sama dengan peluncuran situsbaru PSSI– PSSI dinilai lemah dalam hal komunikasi publik. Konteks pernilaian tersebut adalah menjelang Piala AFF 2012, di mana situasi timnas Indonesia tidak kondusif. PSSI selaku federasi dinilai kurang memberikan informasi yang cukup terkait situasi yang ada (“PSSI Diminta Perbaiki komunikasi Publik”, detiksport.com, 1 November 2012). Tahun ini kondisinya masih sama setali tiga uang. Secara umum PSSI masih terkesan kurang ramah dengan publik. Misal ketika dalam forum diskusi dunia maya beredar informasi dugaan penyalahgunaan uang di PSSI, reaksi PSSI adalah mengajukan tuntutan hukum (“PSSI Laporkan Apung Widadi ke Kepolisian”, merdeka.com, 13 Februari 2014). Langkah tersebut mungkin kurang tepat, karena ketika menghadapi situasi krisis (atau yang berpotensi menimbulkan krisis), organisasi sebaiknya menghindari lebih dahulu upaya menyalahkan pihak lain, apalagi menggunakan jalur hukum. Teliti dengan cermat penyebab krisis. Jika ditengarai ada orang atau kelompok sebagai penyebabnya, teliti penyebab tindakan tersebut kata Kriyantono. Akan lebih bijak apabila PSSI, memanfaatkan media yang mereka miliki, memberikan penjelasan. Sedangkan komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial, orientasinya bukan pada organisasi tetapi lebih kepada anggota secara individual (Wiryanto, 2005).

Banyak sekali definisi dari komunikasi organisasi dari para ahli seperti Wiryanto (2005) menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan dari suatu organisasi. Seperti yang dilansir dari liputan6.com dalam survei kerja menunjukan, mayoritas perusahaan mengandalkan email untuk berkomunikasi. Kenyataannya 30 persen karyawan mengabaikan email tersebut. Sebab email bukan menjadi cara yang paling efisien untuk berkomunikasi. Liliwery (2007) menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah komunikasi antar pribadi atau kelompok yang bersifat impersonal (atau komunikasi yang berstruktur) yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok/unit kerja dalam satu organisasi. Nova (2009) mendefinisikan komunikasi organisasi adalah pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Redding dan Sanborn (2010) mendefinisikan komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dengan bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi downward, komunikasi upward, dan lain-lain. Namun tidak ada satu organisasi atau perusahaan yang terlepas dari konflik, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil.

Banyak mahasiswa berkata bahwa mereka tertarik mempelajari komunikasi organisasi karena pengalaman mereka yang menyulitkan dalam organisasi. Sebagian besar ketidakpuasan mereka tampaknya bersumber dari perasaan mereka bahwa sistem organisasi tersebut bersifat kurang personal dan mengekang kreativitas dan produktivitas. Alasan mereka mempelajari komunikasi organisasi adalah untuk menemukan cara-cara yang dapat memperbaiki kualitas kehidupan kerja (Pace dan Faules, 2013). Seperti yang dilansir oleh liputan6.com hubungan karyawan dengan atasan secara langsung semakin menjadi pendorong utama kepuasan kerja. 54 persen dari karyawan menilai faktor ini “sangat penting” untuk kepuasan mereka, menurut penelitian yang dilakukan SHRM pada bulan Juli dan Agustus 2013. Sebab itu jadwalkan waktu bertemu dengan karyawan secara teratur, dan menggali informasi tentang perkembangan pekerjaan mereka. Tanyakan kegiatan mereka di luar jam kerja, karena faktor pribadi sering mempengaruhi kinerja dan motivasi. Karyawan merasa atasan mereka peduli secara pribadi, bukan hanya secara profesional, akan merasa lebih dihargai, dan terlibat. Dan juga terlambat mengatasi konflik karena kurangnya komunikasi dalam suatu organisasi. Banyak para pemimpin menunda menangani konflik untuk menghindari ketegangan dan menjaga penampilan harmonis. Tapi, langkah tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan. Terpendamnya emosi negatif akan menciptakan lingkungan yang tidak saling percaya. Sebisa mungkin selesaikan konflik dengan segera, tapi lakukan pada area netral dengan pikiran terbuka. Jadilah lebih sensitif terhadap prilaku karyawan dengan dengan berbagai macam karakter. Terlibat dalam pembinaan, dan belajar memahami motivasi karyawan, membuat resolusi konflik lebih cepat.

Daftar Pustaka

 

Liliweri, A. (2007). Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Nova, F. (2009). Crisis Public Relations: Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan. Jakarta: Grasindo.

Pace, W., & Faules. (2001). Komunikasi Organisasi-Strategi meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: Redmadja Rosda Karya.

Redding & Sanborn. (2010). Communication Organization, edisi terjemahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Umar, H. (2005). Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wiryanto. (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Wood, J., T. (2012). Komunikasi: Teori dan Praktik (Komunikasi dalam Kehidupan) Edisi 6. Jakarta: Salemba Humanika.

 

Website

Hindari 5 Kesalahan Komunikasi Ini Sebagai Pimpinan. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/2290505/hindari-5-kesalahan-komunikasi-ini-sebagai-pimpinan.

Menilai Komunikasi PSSI. Diakses dari https://sport.detik.com/aboutthegame/umpan-silang/d-2559405/menilai-komunikasi-pssi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s