Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Dalam menjalankan aktifitas nya sehari-hari, manusia akan selalu di hadapkan dengan sebuah risiko. Risiko yang di muncul dapat berupa risiko kecil maupun risiko besar. Risiko berpotensi menimbulkan bahaya, dan efek dari bahaya tersebut dapat terjadi secara langsung atau di waktu yang akan datang. Tetapi sekecil apapun sebuah risiko akan tetap berpotensi untuk menimbulkan akibat, bahaya, dan kecelakaan yang mungkin saja tidak hanya menimpa diri sendiri namun juga orang lain.

Pada kenyataan nya, manusia kurang berhati-hati dan lalai akan bahaya dari aktifitas yang dilakukan nya, termasuk ketika bekerja. Baik pekerja kantoran maupun pekerja lapangan harus tetap memerhatikan keselamatan dalam bekerja. Dalam memilih pekerjaan, ada beberapa faktor yang harus di fikirkan dengan baik, diantaranya bidang pekerjaan dan lingkungan pekerjaan. Dengan mempertimbangkan dengan baik beberapa faktor penting tersebut sebelum memilih sebuah pekerjaan, di harapkan seorang pekerja dapat menjadi sumber daya manusia yang baik di perusahaan dan mampu meningkatkan produktifitas dan kinerjanya. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah program yang dapat menjadi pedoman keselamatan kerja, program ini disebut program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Menurut menurut Swasto (2011) ”Keselamatan kerja menyangkut segenap proses perlindungan tenaga kerja terhadap kemungkinan adanya bahaya yang timbul dalam lingkungan pekerjaan”. Sedangkan Mangkunegara (2009) mengungkapkan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Resiko keselamatan kerja merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik yang terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran.

Tenaga kerja merupakan asset perusahaan yang harus diberi perlindungan oleh pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), mengingat ancaman bahaya yang berhubungan dengan suatu pekerjaan. Kualitas pekerja dapat dipengaruhi oleh salah satunya yaitu dengan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang baik, karena kecelakaan kerja dapat menyangkut masalah produktivitas. Peraturan perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya dalam pencegahan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, peledakan, kebakaran, dan pencemaran lingkungan kerja yang penerapannya menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja. (Silaban, 2008:35).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dimiliki oleh seluruh pekerja yang bekerja. Kemungkinan terjadinya sebuah kecelakaan kerja atau penyakit yang ditimbulkan oleh suatu pekerjaan dan berakibat kematian, atau kemungkinan para pekerja mengalami cacat dan tidak bisa bekerja, dapat menurunkan produktivitas kerja pekerja tersebut dan dapat mempengaruhi perusahaan. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran yang dimiliki oleh para pekerja maupun perusahaan akan pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus selalu dihimbau dan dipahami oleh para pekerja maupun pengusaha.

Meskipun program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sudah dihimbau dengan baik, kadang para pekerja sendiri yang kurang memperhatikan dan lalai akan keselamatan bekerjanya. Menurut Suma’mur (2009) terjadinya kecelakaan kerja disebabkan karena dua golongan. Golongan pertama adalah faktor mekanis dan lingkungan (unsafe condition), sedangkan golongan kedua adalah faktor manusia (unsafe action). Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa faktor manusia menempati posisi yang sangat penting terhadap terjadinya kecelakaan kerja yaitu antara 80–85%.

McCormick dan Anastasia dalam Winarsunu (2008) menggunakan istilah unsafe behavior dan accient behavior untuk menggambarkan perilaku berbahaya dalam bekerja seperti memakai perlengkapan keselamatan kerja secara tidak tepat, kurangnya keterampilan dan kegagalan dalam mendeteksi waktu. Disamping menggunakan istilah unsafe behavior tetapi juga hazardous behavior untuk menggambarkan perilaku berbahaya dalam bekerja, misalnya tidak adanya perhatian ketika bekerja, bekerja dengan cara yang kasar atau sambil berkelakar.

Di Indonesia angka kecelakaan kerja menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan menurut penelitian International Labor Organization (ILO), Indonesia menempati urutan ke 52 dari 53 negara dengan manajemen K3 yang buruk. Padahal biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan sangat besar apabila sampai terjadi kecelakaan di tempat kerja (Hanggraeni, 2012).

Seperti yang di lansir dari news.detik.com, kasus pekerja proyek Kali Ciliwung yang tertimpa paku bumi Oktober 2016 silam dapat menjadi contoh bahwa faktor mekanis dan lingkungan dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Kejadian tersebut terjadi di proyek Kali Ciliwung, Bukit Duri RT 10/12, Tebet, Jakarta Selatan. Dari informasi yang didapat, kecelakaan terjadi ketika Muaf Jaelani (korban) sedang mengarahkan crane untuk memasang paku bumi. Namun sling yang mengikat paku bumi yang akan dipasang terlepas dari crane. Muaf yang berdiri di dekat crane pun tidak dapat menghindar. Paku bumi tersebut kemudian menimpa korban. Akibat dari kecelakaan tersebut, Muaf mengalami luka-luka yang cukup parah dan kaki kanan nya putus hingga paha.

Muaf Jaelani dikenal sebagai pekerja yang cukup berhati-hati dan selalu menggunakan pakaian pengaman yang lengkap sebelum memulai pekerjaan nya. Namun faktor mekanis yang tak diduga dapat menjadi pemicu kecelakaan yang fatal. Meskipun begitu, kecelakaan yang dialami oleh Muaf tidak di biarkan begitu saja. Korban dengan segera dilarikan ke Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Berbagai penanganan medis dilakukan untuk mengobati luka-luka yang di alami Muaf termasuk mengamputasi kaki kanan korban.

Meskipun begitu, Muaf Jaelani merupakan salah satu korban kecelakaan kerja yang cukup beruntung karena namanya tercantum dalam salah satu pekerja yang terdaftar dalam program perlindungan BPJSTK program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) di Kantor Cabang Salemba. Menurut Direktur Utama BPJSTK Agus Susanto, semua biaya pengobatan Muaf ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK). Ia juga memastikan bahwa seluruh pengobatan dibiayai sampai korban pulih dan untuk cacat yang dialami oleh korban juga akan diberikan santunan sesuai dengan ketentuan yang sudah ada.

Budaya keselamatan dalam bekerja akan menjadi lebih efektif apabila komitmen dilaksanakan secara nyata dan terdapat keterlibatan langsung dari pekerja dan pengusaha dalam upaya keselamatan kerja. Keterlibatan pekerja dalam keselamatan kerja tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, berupa keaktifan pekerja dalam kegiatan K3, memberikan masukan mengenai adanya kondisi berbahaya di lingkungan, menjalankan dan melaksanakan kegiatan dengan cara yang aman, memberikan masukan dalam penyusunan prosedur dan cara kerja aman, dan mengingatkan pekerja lain mengenai bahaya K3 (Ramli, 2010).

 

Daftar Pustaka

A.A., Anwar Prabu Mangkunegara. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Hanggraeni, D. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Pearson. (2014). Human Resource Management (Thirteenth Edition). United States: Pearson Education.

Ramli, S. (2010). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001. Jakarta: Dian Rakyat.

Silaban, G. (2008). Hak dan Kewajiban Tenaga Kerja dan Pengusaha atau Pengurus yang ditetapkan dalam Peraturan Perundangan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Medan: USU Press.

Suma’mur, P., K. (2009). Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hyperkes). Jakarta: CV Sagung Seto.

Swasto, B. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Malang. UB Press.

Winarsunu, T. (2008). Psikologi Keselamatan Kerja. Yogyakarta : UMM Press.

Website

Tertimpa Paku Bumi di Proyek Kali Ciliwung, Kaki Seorang Pekerja Putus. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-3321896/tertimpa-paku-bumi-di-proyek-kali-ciliwung-kaki-seorang-pekerja-putus.

Biaya Pengobatan Pekerja yang Tertimpa Paku Bumi di Ciliwung Ditanggung BPJSTK. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-3322418/biaya-pengobatan-pekerja-yang-tertimpa-paku-bumi-di-ciliwung-ditanggung-bpjstk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s