Upaya Mengurangi Tingkat Stres Karyawan dengan Manajemen Stres di Tempat Kerja

Berkembangnya bidang Industri saat ini, menyebabkan semakin kompleks permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dan tuntutan pekerjaanpun semakin meningkat (Mutiasari, 2010). Permasalahan di perkotaan banyak terjadi terutama kecelakaan, polusi udara dan kemacetan. Kemacetan dan polusi udara merupakan permasalahan bagi semua individu, tidak terkecuali karyawan. Kemacetan masih menjadi masalah yang belom terselesaikan di perkotaan. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa kemacetan belom bisa teratasi.  Stresor lingkungan perkotaan yang dialami warga kota tidak pernah berdiri sendiri, melainkan stresor gabungan (multiple stressor), misalnya kemacetan lalu lintas yang meliputi kebisingan dan kesesakan yang merupakan stresor utama, serta stressor lainnya seperti ancaman kriminalitas, suhu udara yang panas didalam kendaraan bisa membuat individu memunculkan emosi (Halim, 2008). Fenomena umum yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ialah road rage. Road rage adalah sindrom umum yang terjadi ketika pengendara menyerang pengendara lain sebagai kemarahan esktrem pada sebuah peristiwa kesalahpahaman dijalan atau lalu lintas kecil hal tersebut diakibatkan beban stres yang dialaminya baik di rumah, tempat kerja dan kemacetan (Halim, 2008). Selain itu, polusi udara yang timbul akibat kemacetan dan populasi jumlah kenderaan merupakan ambient stressor (stressor yang berhubungan dengan lingkungan) paling berbahaya yang ditemui di semua kota besar di dunia terutama di negara-negara berkembang, seperti Jakarta dengan tingkat polusi yang lebih tinggi akibat kurangnya kesadaran warga (Halim, 2008).

Anroga (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa stres adalah sebagai suatu tekanan psikis dan emosi pada seseorang. Aamodt (dalam Putri, 2008) menyatakan bawha Stres terbagi menjadi dua, yaitu eustress dan distress. Eustress sering disebut sebagai stress yang positif, karena stress yang dirubah menjadi energy positif dan menjadi motivasi. Tosi (dalam Putri, 2008) menyatakan bahwa distress sebagai stress yang negatif, karena individu memiliki kelemahan dalam mengatasi lingkungan penuh dengan stress dan rendahnya pertahanan terhadap stress. Menurut penelitian Baker (dalam Putri, 2008) stres kerja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, akibatnya karyawan cenderung sering dan mudah terkena penyakit, sehingga kurang konsentrasi dalam kinerjanya. Stress memiliki hubungan dengan kinerja seseorang. Stres pada tingkat rendah dan sedang, akan menghasilkan individu dalam melaksanakan tugas menjadi lebih baik , serta kinerja yang cepat. Stres pada tingkat yang tinggi dan tingkat sedang akan menghasilkan kinerja yang rendah. Reaksi stres dari waktu ke waktu akan merubah intensitas stres dan dapat berpengaruh negatif pada kinerja (Putri, 2008). Faktor penting dalam stres dan kinerja adalah jenis pekerjaan dan kepribadian dari individu. Menurut Robbins (dalam Putri, 2008) situasi yang penuh dengan stres dapat membuat kinerja karyawan menjadi lebih menantang, namun ada pula kinerja karyawan diberikan dengan situasi yang penuh stres menjadi sering melakukan kesalahan. Menurut Sunyoto dan Burhanudin (2011), gejala dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu gejala fisiologis, gejala psikologis dan gejala perilaku. Gejala fisiologis disebabkan masalah stress pertama kali diteliti oleh ahli bidang ilmu kesehatan dan medis. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut stress dapat menciptakan perubahan dalam metabolism, meningkatkan detak jantung, tekanan darah dan memicu serangan jantung, serta tuntutan kerja yang berlebihan dapat menimbulkan stres, yaitu rentan terhadap penyakit saluran pernapasan dan fungsi kekebalan tubuh. Gejala psikologis ialah akibat stres dalam ketidakpuasaan terhadap pekerjaan. Gejala psikologis lain akibat stres dapat berupa kecemasan, kejenuhan, ketegangan, kesal, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang membutuhkan tuntutan berlebihan dan saling bertentangan, serta wewenang dan tanggung jawab yang tidak jelas, dapat menimbulkan stress atau ketidakpuasaan. Selain itu gejala stres yang alami ialah gejala perilaku yang cenderung mengalami perubahan produktivitas, perputaran karyawan, disamping perubahan meliputi kebiasaan makan, merokok, konsumsi alcohol, kegelisahan dan tidur tidak teratur. Selain itu menurut Iskandar (2010) kepadatan suatu ruang akan menimbulkan stres dalam dirinya.

Karyawan yang mengalami stres. di tempat kerja, biasanya mengalami burnout. Burnout (Mutiasari, 2010) merupakan gejala kelelahan emosional yang disebabkan oleh tingginya tuntutan pekerjaan, yang sering dialami invidiu yang bekerja pada situasi dimana ia harus melayani kebutuhan orang banyak. Burnout merupakan kelelahan fisik, mental dan emosional yang terjadi karena stressyang diderita dalam jangka waktu yang lama, di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi. Menurut Kreitner dan Kinicki (dalam Mutiasari, 2010) burnout adalah akibat dari stress yang berkepanjangan dan terjadi ketika seseorang mulai mempertanyakan nilai-nilai pribadinya. Secara teoritis penyebab munculnya burnout adalah faktor eksternal seperti perubahan iklim, trend maupun tuntutan, faktor atasan, manajemen, pekerjaan, penugasan maupun kebijakan. Karena itu burnout adalah penarikan diri sebagai reaksi atas stres (Mutiasari, 2010).

Stres berkepanjangan dapat mempengaruhi performa kerja karyawan di perusahaan. Produktifitas perusahaan akan menurun, karena stres yang dialami oleh karyawannya. Stres pada karyawan di perusahaan merupakan hal umum dan terjadi dimana-dimana. Perusahaan harus memiliki upaya untuk mengatasi stres yang dialami oleh karyawan-karyawannya untuk mempertahankan produktifitas perusahaan. Perusahaan dapat melakukan atau menerapkan manajemen stres. Tyle (dalam Aamodt, 2010) menyatakan bahwa manajemen stres untuk merubah perilaku menjadi lebih sehat sepenuhnya untuk merespon stres sebelum terjadi, saat terjadi dan setelah terjadi.. Menurut Baron dan GreenBrerg (dalam Andriani, 2012) strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi strategi penanganan invidiual, organisasional dan dukungan sosial.

Strategi penanganan invididual dalam tempat kerja dengan melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif. Artinya jika seorang karyawan merasa diri ada kenaikan ketegangan, karyawan tersebut seharusnya rehat sejenak (time out) terlebih dahulu. cara time out seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja dan pergi ke kamar kecil untuk membasuh muka atau berwudhu bagi orang islam dan sebagainya. Kemudian, melakukan relaksasi dan meditasi bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari libur kerja. Dengan melakukan reklasasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian karyawan yang melakukan rekalsasi dapat membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang menganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa. Selain melakukan meditasi, hal lain yang bisa dilakukan dengan cara melakukan diet dan fitnes. Hal tersebut dengan beberapa cara seperti mengurangi konsumsi dan makanan mengandung lemah, memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran dan melakukan olahraga seperti lari secara rutin (Baron & Greenbreg dalam Andriani, 2010). Strategi selanjutnya ialah strategi Penanganan organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional. Konflik dan ketidakjelasan lebih awal sebagai sebuah penekan individual utama, serta rencana dan pengembangan jalur karir dan menyediakan konseling secara tradisional, organisasi telah hanya menunjukkan kepentingan dalam karir, dan pengembangan kinerja mereka. Individu dibiarkan untuk memutuskan gerakan dan strategi karir.  Strategi dukungan sosial sangat dibutuhkan di dalam tempat kerja, terutama orang terdekat, seperti keluarga, teman kerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, serta dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh (Landy dalam Andriani, 2010). Dengan kata lain stres bisa diatasi oleh karyawan diperusahaan dengan menerapkan manajemen stress, hal tersebut bisa mengurangi tingkat stres yang dialami oleh karyawan ditempat kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Aamodt, M. G. (2010). Industrial or Organizational Psychology. Sixth Edition. United States of America.

Andriani, F. (2012). Skripsi. Analisis Tingkat Stres Kerja Karyawan non Manajerial pada PT Astrazeneca Indonesia. Skrispi tidak dipublikasikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok.

Halim, D. K. (2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan. Edisi Pertama. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Iskandar, Z. (2012). Psikologi Lingkungan Teori dan Konsep. Bandung: PT Refika Aditama.

Mutiasari. (2010). Strategi Mengatasi Burnout di Tempat Kerja. Diakses pada tanggal 21 maret 2017 melalui http://download.portalgaruda.org/article.php?article=313661&val=7575&title=STRATEGI%20%20MENGATASI%20%20BURNOUT%20DI%20TEMPAT%20%20KERJA

Putri, P. H. S. (2008). Skrispi. Hubungan Antara Stres Kerja dengan Resiko Kecelakaan Kerja pada Karyawan. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sunyoto, D., & Burhanudin. (2011). Perilaku Organisasional. Jakarta: PT Buku Seru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s