Stress manajemen ditempat kerja

Salah satu masalah paling serius yang menimpa anggota – anggota organisai adalah masalah stress. Menurut Irham Fahmi (2013) Stress adalah suatu keadaan yang menekan diri dan jiwa seseorang diluar batas kemampuannya, sehingga jika terus dibiarkan tanpa ada solusi maka ini akan berdampak pada kesehatannya. Stress tidak timbul begitu saja namun sebab – sebab stress timbul umumnya diikuti oleh faktor peristiwa yang mempengaruhi kejiwaan seseorang, dan peristiwa itu terjadi diluar dari kemampuannya sehingga kondisi tersebut telah menekan jiwanya.
Menurut Dr.Cepi Triatna, M.Pd. (2015), stress dalam organisasi dan manajemen merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarka oleh setiap pemimpin atau manajer. Oleh sebab itu, pemimpin bertanggung jawab terhadap pengamanan dan kelancaran tugas-tugas yang diberikan organisasi. Dalam kondisi tertentu stress menjadi suatu yang menguntungkan tetapi dalam kondisi lainnya, stress menjadi suatu kondisi yang merugikan. Stress yang terlalu tinggi atau terlalu intens maka mengakibatkan kinerja individu menjadi menurun. Sedangkan tingkat stress yang rendah akan mengakibatkan kinerja menjadi lebih baik.
Dalam menangani stress ada beberapa langkah penting antara lain: memastikan apakah stress itu ada, menganalisis penyebab-penyebabnya, lalu mengambil tindakan penanganan dengan program keorganisasian dan program individual sebagai strategi.
Dalam program keorganisasian antara lain menyangkut analisis peran seperti penentuan kembali peranan-peranan, beban peran dan melaksanakan prosedur pengurangan stress. Cara lain yaitu dengan program pengayaan (job enrichment), meliputi penentuan kembali (redevining) dan penyusunan kembali (restructuring) untuk membuat pekerjaan itu lebih berarti, lebih menantang dan memberikan ganjaran secara intrinsic. Sedangkan program secara individual menurutnya lebih cenderung menekankan upaya-upaya pada unsur fisik, seperti pengenduran urat syaraf, bersemedi, dan control proses biologis.
Ada dua pendekatan dalam mengelola stress, yaitu pendekatan individual dan pendekatan organisasional. Pendekatan individual menjelaskan bahwa seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stress. Strategi individu yang telah terbukti efektif mencangkup pelaksnaan teknik-teknik majemen waktu, meningkatkan latihan fisik, pelatihan pengenduran / relaksasi, dan perluasan jaringan dukungan social. Dan pendekatan organisasional menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan stress terutama tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi dikendalikan oleh manajemen. Dengan demikian, faktor-faktor ini dapat dimodifikasi atau diubah. Strategi yang mungkin diinginkan oleh manajemen untuk dipertimbangkan antara lain perbaikan seleksi personel dan penempatan kerja, pengunaan penetapan tujuan yang realistis, perancangan ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan, perbaikan organisasi, dan penegakan program kesejahteraan korporasi.
Arif Yusuf Hamali, S.S.,M.M. (2016) perasaan tertekan dapat mengubah cara seseorang dalam merasakan, berfikir, dan bertingkah laku. Gejala-gejala stress ditempat kerja meliputi :
1. Gejala stress pada tingkat individu terdiri dari :
• Reaksi visiologis, seperti masalah yang bertalian dengan punggung, rendahnya kekebalan tubuh, masalah jantung, hipertensi.
• Reaksi emosional, seperti gangguan tidur, depresi, rasa benci, da mudah marah, hipokondria, kelelahan, masalah dalam rumah tangga, merasa terasing.
• Reaksi kognitif, seperti sulit berkonsen trasi, sulit mengingat sesuatu, sulit dalam mempelajari hal-hal baru, sulit dalam membuat keputusan.
• Reaksi tingkah laku, seperti penyalahgunaan obat-obatan, konsumsi rokok dan alcohol, dan perilaku yang merusak.

2. Gejala stress pada tingkatan organisasi
Terdiri dari tingkat absensi karyawan, fluktuasi staf yang tinggi, masalah disiplin, kesalahan jadwal, gertakan-gertakan, produktivitas rendah, kesalaha dan kecelakaan kerja, biaya-biaya yang dinaikkan dari kompensasi atau perawatan kesehatan.
Mengelola stress sebelum hal itu terjadi berarti menggabugkan praktek-praktek sehari-hari yang akan mempersiapkan pikiran dan tubuh untuk menangani efek stress. Selama stress anda harus melanjutkan dengan teknik manajemen stress anda (seperti menurangi kafein), serta menggabungkan beberapa orang lain. Akhirnya, setelah stress hilang (jika tidak bahkan mungkin) terus aktif mengelola stress anda. Disamping itu, ada beberapa hal lain yang harus anda pertimbangkan agar memeriksa beberapa teknik untuk sebelum, selama, dan setelah stress Michael G.AAMODT(2010).

Chr. Jimmy I,. Gaol (2014) seorang manajer yang arif tidak pernah mengabaikan masalah pergantian karyawan dan keabsenan, penyalahgunaan obat-obatan ditempat kerja, penurunan prestasi, penurunan kualitas produksi, atau setiap tanda menunjukkan bahwa sasaran prestasi organisasi tidak dicapai. Manajer yang efektif memandang kejadian ini sebagai gejala dan menganalisis dibelakang gejala tersebut untuk mengidentifikasi dan mengoreksi sebab-sebab yang mendasarinya. Namun, kebanyakan manajer masakini masih mencari kemungkinan sebab-sebab tradisional, seperti jeleknya pelatihan (training), peralatan yang rusak, atau tidak memadainya instruksi tentang hal-hal yang perlu dikerjakan. Dari semua kemungkinan tersebut , stress tidak termasuk dalam urutan daftar kemungkinan masalah. Jadi, langkah paling pertama dari program penanggulangan stress ialah mengakui bahwa stress itu ada, sehingga program intervensi untuk mengatasi stress harus menentukan lebih dahulu ada tidaknya stress dan penyebab keberadaannya.
Program penanggulangan stress dapat ditawarkan atas dasar yang luas pada perusahaan. Beberapa program memusatkan perhatian pada masalah-masalah tertentu: program penanggulangan masalah alcohol dan penyalahgunaan obat-obatan, program relokasi pekerja, program penyuluhan karier, dan sebagainya.
Pada mulanya dipakai nama seperti kesehatan mental. Akan tetapi, untuk menghindari pengertian penyakit, psikiatrik yang serius, prusahaan telah mengubah nama program mereka. Nama yang popular sekarang adalah manajemen stress. Dua program cikal bakal manajeme stress yang sering digunakan ialah program program klinis dan program keorganisasian. Yang pertama diprakarsai oleh perusahaan dan memusatkan perhatian atas masalah-masalah idividu. Dan yang berikutnya menyangkut unit atau kelompok dalam angkatan kerja dan memusatkan perhatian atas masalah-masalah kelompok atau organisasi secara keseluruhan.
1. Program klinis. Program ini penaggulangan didasarkan atas pendekatan medis tradisional. Beberapa unsur dari program tersebut mencangkup:
A. Diangnosis. Orang mempunyai masalah meminta pertolongan. Orang atau petugas pada unit kesehatan karyawan mencoba untuk mendiagnosis masalah.
B. Pengobatan (treatment). Disedikan penyuluhan atau terapi dorongan. Jika staf dalam perusahaan tidak dapat menolong, karyawan tersebut dianjurka berkonsultasi kepada ahli di lingkungan tersebut.
C. Penyaringan (screening). Pemeriksaan individu secara berkala dalam pekerjaan yang penuh dengan ketegangan diadakan untuk mendeteksi indikasi masalah secara dini.
D. Pencegahan (prevention). Pendidikan dan bujukan dilakukan untuk meyakinkan karyawan yang mempunyai pekerjaan dengan risiko besar bahwa sesuatu harus dilakukan untuk menolong mereka menanggulangi stress.
Program klinis harus ditangani oleh orang yang berwenang jika dimaksudkan untuk menghasilkan manfaat. Kepercayaan dan rasa hormat harus ditanamkan untuk memanfaatkannya.
2. Program keorganisasian. Program keorganisasian ditunjukan lebih luas meliputi seluruh karyawan. Kadang-kadang program ini merupakan perluasan program klinis. Program tersebut sering didorong oleh masalah-masalah yang ditemukan dalam kelompokatau suatu unit, atau oleh perubahan seperti relokasi pabrik, penutupan pabrik atau pemasangan peralatan baru. Berbagai program dapat digunakan untuk mengatasi stress. Termasuk dalam daftar program semacam itu ialah berdasarkan sasaran (management by objectives), program pengembangan organisasi, pengayaan pekerjaan, perancangan kembali struktur organisasi, pembentukan kelompok kerja otonom, pembentukan jadwal kerja variable, penyediaa fasilitas kesehatan karyawan.
Contoh kasus yang terjadi dilingkungan kerja yang saya dapatkan dari hasil wawancara, kali ini saya berkesempatan mewawancarai salah satu kasir di supermarket didaerah bintaro yang sudah saya rangkum menjadi sebuah tulisan. Menjadi kasir disalah satu supermarket stress dipicu dari beberapa factor diantaranya karena pekerjaan yang monoton dan masa bekerja yang sudah terlalu lama. Untuk pekerjaan dibidang retail khususnya dibagian kasir stress kerja paling sering dialami pada weekend (hari libur) diakhir bulan, hal ini dikarenakan volume pembeli yang meningkat tajam dibandingkan weekday (hari kerja) sehingga tenaga lebih banyak terkuras dan memicu terjadinya stress. Cara menangani stress kerja pasti berbeda antara satu orang atau individu dengan individu yang lain. Cara sederhana yang biasa dilakukan adalah bekerja dengan serius tapi santai, sesekali saat bekerja diselingi dengan obrolan atau candaan dengan rekan-rekan kasir yang lain. namun dengan catatan tidak mengganggu konsentrasi kerja maupun kenyamanan konsumen yang sedang melakukan transaksi pembayaran. Cara lain yang biasa dilakukan adalah memanfaatkan libur yang diberikan perusahaan sekali dalam seminggu dengan pergi ketempat-tempat yang tenang dan santai. Karena belum adanya staff professional yang khusus menangani stress kerja belum ada saat ini, namun perusahaan secara rutin mengadakan program family gathering sekali dalam setahun untuk membantu karyawan mengurangi stress kerja.
• Kesimpulannya yaitu, stress manajemen ditempat kerja timbul karena tuntutan lingkungan dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda-beda. Masalah stress kerja didalam organisasi perusahaan menjadi gejala yang penting diamati sejak mulai timbulnya tuntutan untuk efisiensi di dalam pekerjaan. Akibat adanya stress kerja yaitu seseorang atau karyawan menjadi nervous, merasakan kecemaan yang berlebihan, peningkatan ketegangan pada emosi, proses berfikir dan kondisi fisik individu. Stress kerja dikarenakan adanya ketidak seimbangan antara karakteristik kepribadian karyawan dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaan dan dapat terjadi pada semua kondisi
Daftar Pustaka

Fahmi,Irham (2013). Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Triatna,Cepi (2015) Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hamali, Arif Yusuf ( 2016). Pemahaman Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta:CAPS (Center For Academis Pulishing Service).
Gaol, Chr Jimmi I (2014). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Grasindo
Anggota Ikapi.
Aamodt, Michael G (2010). Industrial/organizational Psychology Sixth Edition.US:
WADSWORTH CENGAGE Learning.
Wawancara dengan kasir Supermarket.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s