Stress manajemen di tempat kerja

• Contoh kasus

Pada kesempatan kali ini saya telah mewawancarai salah satu contoh perusahaan yang mengalami stress manajemen, salah satu karyawan perusahaan tersebut bersedia memberikan waktunya untuk menjalani proses wawancara. Saya mewawancarai karyawan perusahaan konveksi, Perusahaan ini pernah mengalami stres manajemen yaitu dimana jumlah produksi menurun dan kinerja perusahaan tidak baik faktor dari stress manajemen  di perusahaan tersebut mereka kurangnya berkomunikasi dengan si pemilik perusahaan dan sekaligus menjabat sebagai manajer, Dan kurangnya bersosialisasi dengan pemilik perusahaan mereka, Karena kurangnya pengontrolan terhadap bawahan. Pemilik dari perusahaan tersebut bisa di bilang jarang sekali melakukan pengontrolan terhadap perusahaan nya atau pekerja pekerja lainya. Bisa dibilang juga karena jarak rumah pemilik perusahaan tersebut lumayan untuk melakukan pengontrolan antara Jakarta dan Bandung, Rumah pemilik perusahaan tersebut berada di Bandung sedangkan perusahaan konveksi berada di Jakarta.

Banyak karyawan yang mengeluh akibat fasilitas kerja yang rusak dan seharusnya sudah diganti dengan yang baru. Banyaknya pengaruh akibat kurangnya pengontrolan terhadap perusahaan dan jarangnya bertatap muka antara pekerja dengan si pemilik perusahaan. Perusahaan tersebut juga sempat mengalami jumlah produksi menurun akibat terlalu banyaknya pesanan namun bahan untuk membuat baju tersebut belum tersedia sedangkan perjanjian dengan pemesan dengan batas waktu yang tidak lama. Banyak karyawan merasakan gelisah akibat waktu perjanjian pembuatan baju dengan batas waktu yang tidak lama namun bahan pembuatanya pun belum tersedia, dapat dikarenakan juga karena pemesanan bahan  pembuatan baju tersebut melalui si pemilik perusahaan, sedangkan untuk berkomunikasi antara karyawan dengan si pemilik perusahaan dapat dibilang susah. Akibat dari masalah tersebut banyak karyawan menjadi malas untuk bekerja, Dan membuat karyawan sering mengeluh.

Jarangnya pengontrolan si pemilik perusahaan terhadap perusahaanya membawa dampak buruk pada perusahaanya dan para pekerjanya. Si pemilik perusahaan tidak tahu bagaimana keseharian karyawanya. Dan bagaimana keadaan fasilitas perusahaanya yang seharusnya sudah diperbaharui.

Dengan masalah yang di alami, Salah satu karyawan dari perusahaan konveksi ini berusaha untuk menyampaikan keluhan keluhan kepada pemilik perusahaan tersebut, bahwa sikap yang di lakukan pemilik perusahaan tersebut adalah perbuatan yang bisa memicu adanya stres manajemen. Setelah berusaha berkomunikasi dengan baik dengan pemilik perusahaan tersebut akhirnya si pemilik konveksi tersebut mengakui bahwa perbuatan yang dia lakukan dapat menimbulkan dampak negative untuk perusahaanya.

Akhirnya perusahaan melakukan rekstrukturisasi yaitu melakukan struktur dari awal agar perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Yaitu seringnya melakukan pengontrolan dan berkomuniikasi dengan baik terhadap perusahaan maupun karyawanya, si pemilik perusahaan tersebut pun memutuskan untuk memilih manajer di perusahaanya untuk mengatur, mengawasi jalanya pekerja selagi dia tidak bisa mengontrol, karena sebelumnya dia sebagai pemilik perusahaan sekaligus menjabat sebagai manajer yang saya sudah jelaskan pada awal pembahasan. Perusahaan tersebut juga akan  mengurangi resiko-resiko negatif yang di alami di perusahaan konveksi tersebut.

Stres dalam organisasi dan manajemen merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap pemimpin atau manajer. Oleh sebab itu, pemimpin bertanggung jawab terhadap pengamanan dan kelancaran tugas-tugas yang diberikan organisasi. Dalam kondisi tertentu stres menjadi sesuatu yang menguntungkan tetapi dalam kondisi lainya, stres menjadi kondisi yang merugikan. Stres yang terlalu tinggi atau terlalu intens akan mengakibatkan kinerja individu menjadi menurun. Sedangkan tingkat stres yang rendah akan mengakibatkan kinerja yang lebih baik ( Gibson, James L. 1993)

Setiap aspek dipekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga kerja yang menentukan sejauh mana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres atau tidak. Tenaga kerja dalam interaksinya di pekerjaan, dipengaruhi pula oleh hasil interaksinya di tempat lain, di rumah, di sekolah, di perkumpulan, dan sebagainya. Sumber stres yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi optimal atau yang menyebabkan sesorang jatuh sakit, tidak saja datang dari satu macam pembangkit stres saja tetapi dari beberapa pembangkit stres. Sebagian besar dari waktu manusia bekerja, karena itu lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap terhadap kesehatan seseorang yang bekerja. Pembangkit stres di pekerjaan merupakan pembangkit stres yang besar peranya terhadap kurang berfungsinya atau jatuh sakitnya seseorang tenaga kerja yang bekerja ( Hurrell,1988)

Menurut Mohammad Surya ( 1994:103), menyatakan bahwa stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami ketegangan karena adanya kondisi-kondisi yang memengaruhi dirinya. Yang akan dipengaruhi oleh ketegangan-ketegangan tersebut, maka T.Hani Handoko (1994:14), melengkapi bahwa stres adalah suatu kondisi ketegangan yang memngaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang.

Stres dapat disebabkan oleh beberapa factor, antara lain yang berasal dari factor pekerjaan, factor dari non-pekerjaan, dan factor dari pribadi seseorang, suatu penilitian di Amerika ( Chaerul Furqon, p.10) menyatakan bahwa berbagai hal yang menjadi sumber stres yang berasal dari pekerjaan pun dapat beraneka ragam seperti beban tugas yang yang terlalu berat, desakan waktu, penyediaan yang kurang baik, iklim kerja dan prestasi kerja sesorang.

Dampak / akibat adanya stress, baik fisik maupun mental sangat berpengaruh terhadap dinamika perilaku sesorang tergantung bagaimana ia menghadapi atau merespons kondisi yang menimbulkan stres itu sendiri. Akibat stres ini bermacam-macam. Ada akibat posotif, yang dapat memotivasi sesorang, merangsang kreativitas, mendorong tekun bekerja, atau bahkan dapat memberikan inspirasi untuk hidup lebih baik lagi. Namun banyak pula yang berakibat negative, yang merusak dan berbahaya.

Menurut Mohammad Surya (1994:104), menjelaskan bahwa stres tidak selalu mempunyai pengertian negative, dalam kondisi tertentu stres dapat berdampak positif. Stres demikian disebut eustres. Adapun stres yang bersifat negative disebut distres.

Makin tinggi doronganya untuk berprestasi, makin tinggi tingkat stresnya dan makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Stres dalam jumlah tertentu dapat mengarah ke gagasan-gagasan yang inovatif dan keluaran yang konstruktif. Sampai titik tertentu bekerja dengan tekanan batas waktu dapat merupakan proses kreatif yang merangsang. Seseorang yang bekerja pada tingkat optimal menunjukan antusiasme, semangat yang tinggi, kejelasan dalam berpikir ( mental clarity) dan pertimbangan yang baik. Jika orang terlalu ambisius , memiliki dorongan kerja yang besar atau jika beban kerja menjadi berlebih, tuntutan pekerja tinggi, maka unjuk-kerja menjadi rendah lagi. (menurut Dr. Hans Selye)

Kajian lainya mengenai stres dikemukakan oleh T. Hani Handoko (1988:201) yang menyatakan bahwa ada dua kategori penyebab stres, yaitu : On-the Job antara lain :

• beban kerja yang berlebihan,

• tekanan waktu,

• kualitas supervisi yang tidak memadai,

• wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab

• keambiguan peranan,

• frustasi,

• konflik antar-pribadi

• berbagai bentuk perubahan.

Mohammad surya ( 1994:105) mengemukakan pula bahwa dalam garis besarnya factor-faktor yang menimbulkan stres dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu : lingkungan kerja, kondisi-kondisi di luar kerja, dan diri pribadi. Kondisi fisik dapat menimbulkan stres meliputi: penataan ruang kerja, rancangan, peralatan, pribadi. Sedangkan factor diri pribadi juga bisa menjadi sumber stres karena setiap individu memberikan reaksi yang berbeda terhadap tantangan yang datang pada dirinya, tergantung pada kondisi karakteristik pribadinya.

Kesimpulan

Sangat berpengaruh sekali bahwa pengontrolan atau pengawasan bisa juga berkomunikasi bisa di bilang sangat penting dalam perusahaan dan pengawasan juga sangat penting untuk memantau adanya stress di dalam perusahaan.

 

Daftar Referensi

1. Aamondt, M.G.2010.Industrial/Organizational Psyhchology : An applied approach, 6th edition.               Wadsworth, United State of America.

2. Dr. Cepi Triatna, M.pd.2013. Perilaku Organisasi, Pt.Remaja Rosdakarya

3. Munandar, Ashar Sunyoto. 2007.Psikologi Industry dan Organisasi , Jakarta.

4. Rakhmat, Jalaluddin, M.Sc.2012. Psikologi Komunikasi.cetakan ke duapuluhdelapan,Bandung.

5. Alwisol.2016. Psikologi Kepribadian, Jakarta Indonesia

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s