Stress Management dan Faktor Penyebab Stres pada Wanita yang Bekerja

Stres merupakan salah satu masalah yang pasti akan dihadapi oleh karyawan saat bekerja. Stres didefinisikan sebagai respon adaptif seseorang terhadap rangsangan yang menempatkan tuntutan psikologis atau fisik secara berlebihan kepada orang tersebut (Moorhead & Griffin, 2013). Istilah stres ini sering digunakan ketika individu menjumpai banyak masalah yang melebihi kemampuannya untuk menghadapi masalah tersebut (Sofwan, 2013). Stres muncul karena adanya pemicu yang dapat bersifat fisik maupun psikologis yang disebut dengan stressors (Moorhead & Griffin, 2013). Perspektif General Adaption Syndrome (GAS) yang dikemukakan oleh Dr. Hans Selye (dalam Moorhead & Griffin, 2013) mendeskripsikan tiga tahapan proses terjadinya stres. Tahap pertama disebut dengan initial alarm. Pada tahap ini, seseorang dapat merasakan panik dan mulai bertanya-tanya bagaimana cara mengatasi stressor. Tahap kedua disebut dengan resistance. Pada tahap ini individu mencoba untuk menolak stressor dengan cara membuat beberapa strategi untuk menghilangkan stressor. Tahap ketiga disebut dengan exhaustion. Pada tahap ini, seseorang benar-benar menyerah dan tidak dapat lagi melawan stressor.

Artikel ini berfokus pada stres yang dialami oleh wanita masih bekerja. Fenomena stres pada wanita yang masih bekerja juga sering terjadi di Indonesia. Beberapa peneliti juga berpendapat bahwa perempuan lebih mudah stres dibandingkan laki-laki karena Wanita mempunyai stressor yang lebih banyak seperti sexual harasment, pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor, serta konflik yang terjadi di dalam keluarga (Sulsky & Smith, dalam Aamodt, 2007). Sebuah studi  yang dipublikasi dalam jurnal The Health and safety Executive juga mengungkapkan bahwa ternyata wanita memiliki tingkat stres 53% lebih tinggi dibandingkan pria (dalam Widiarini & Aria, 2016). Hal tersebut akibat muculnya paham seksisme (ketidakadilan gender) di lingkungan kerja, mengurus pekerjaan rumah, mengurus anak, dan menyelesaikan tugas kantor. Tercatat pula, sepanjang tahun 2013-2016 prevalensi stres yang berhubungan dengan pekerjaan antara pekerja wanita sekira 1820 per 100.000 orang, atau setara dengan sekitar 270.000 pekerja. Sementara untuk pria hanya 1.190 per 100.000, atau sekitar 200.000 pekerja (dalam Widiarini & Aria, 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Denny Indriani yang bekerja sebagai seorang Polisi Wanita (polwan) yang bekerja di bagian perencanaan juga mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami stres. Ibu Denny bekerja di sekolah polisi wanita yang beralamat di Jalan Ciputat Raya Pasar Jumat Jakarta Selatan. Ibu Denny telah menjalani pekerjaan ini selama 24 tahun dan sampai sekarang Ibu Denny masih menjalani pekerjaannya. Tugas Ibu Denny adalah merencanakan anggaran keuangan yang akan dikeluarkan, mengelola anggaran keuangan, merencanakan kegiatan untuk para siswa yang baru masuk di akedemi polwan, dan sebagai pengajar di sekolah polisi wanita ini. Ibu Denny bekerja setiap hari Senin-Jumat mulai pukul 07.00-15.00 WIB, tetapi jika ada siswa polwan yang baru masuk akademi, Ibu Denny bisa bekerja 24 jam setiap harinya. Ibu Denny mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami stres di tempat kerja karena adanya tuntutan pekerjan yang berlebihan, karena selain mengerjakan urusan di kantor, Ibu Denny juga harus mengajar dan mengurus para siswa polwan di asrama . Ibu Denny juga harus membuat laporan rutin tentang para siswa yang baru masuk dan harus menyelesaikan tugas kantornya. Berdasarkan teori, Ibu Denny mendapatkan stressor di tempat kerja yang disebut organizational stressors. Organizational stressors adalah berbagai faktor di tempat kerja yang dapat menyebabkan stres (Moorhead & Griffin, 2013). Faktor ditempat kerja yang sesuai dengan kasus Ibu Denny disebut dengan Kelebihan beban peran. Kelebihan peran terjadi ketika ekspetasi untuk peran tersebut melampui kemampuan individual. Kelebihan beban peran dapat juga terjadi ketika seseorang individu mengambil terlalu banyak peran pada saat yang sama (Moorhead & Griffin, 2013).

Selain karena adanya kelebihan beban peran, Ibu Denny juga pernah mengalami stres yang muncul karena adanya konflik dengan rekan kerjanya. Ibu Denny pernah mempunyai konflik dengan rekan kerjanya dikarenakan adanya perbedaan pendapat. Berdasarkan teori fenomena ini disebut dengan interpersonal demands. Interpesonal demands adalah stressor yang berhubungan dengan tekanan kelompok, kepemimpinan, dan konflik kepribadian. Konflik ini dapat terjadi ketika dua orang atau lebih harus bekerja bersama meskipun kepribadian, sikap, dan perilaku mereka berbeda (Moorhead & Griffin, 2013). Tetapi konflik ini bisa cepat diselesaikan dan tidak terlalu menghambat pekerjaan yang Ibu Denny jalani.

Faktor keluarga juga terkadang membuat Ibu Denny menjadi stres. Ibu Denny mengalami stres karena harus mengurus kedua anaknya khsususnya dalam hal pendidikan seperti memikirkan anaknya jika ingin ujian, dan stres ketika ingin mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi. Faktor ini disebut dengan personal stressors. Personal stressors adalah stres yang berasal dari faktor personal seperti stres yang ditimbulkan karena masalah keluarga, hubungan rumah tangga, perceraian, masalah keuangan, dan membesarkan anak (Aamodt, 2007).

Ibu Denny juga mengalami beberapa efek yang ditimbulkan oleh stres. Terkadang jika sedang stres Ibu Denny mengalami sakit kepala dan sering marah-marah. Stres ini disebut dengan distress (Moorhead & Griffin, 2013). Distress adalah stres yang bersifat negatif dan biasanya menimbulkan konsekuensi yang negatif seperti menimbulkan penyakit (Moorhead & Griffin, 2013). Efek negatif yang ditimbulkan seperti sakit kepala dan migrain, gangguan tidur, Anxiety, gangguan pernapasan, sexual dysfunction, serangan jantung, dan stroke (Hann, Payne, & Lucas, 2011). Stres juga menghasilkan efek negatif yang berhubungan dengan faktor psikologis seperti penurunan kinerja, moodiness, dan depresi (Mcshane & Glinow, 2010).

Ibu Denny beranggapan bahwa stres yang dialaminya tidak selalu stres yang negatif. Ibu Deny mengatakan bahwa stres yang dialaminya memunculkan motivasi dan semangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Fenomena ini disebut dengan Eustress. Eustress adalah stres yang bersifat positif. Stres ini terjadi ketika stressor bersifat menantang dan bisa memotivasi individu tersebut untuk mencapai kesuksesan yang ingin dicapai (Moorhead & Griffin, 2013). Hubungan antara stres dan job performance juga bisa meningkatkan produktivitas, meningkatkan energi, dan membangun kreativitas yang tinggi (Muse, Harris, & Field, dalam Aamodt, 2007).

Adapun stress management yang dilakukan Ibu Denny untuk menghilangkan stres yang dialaminya. Biasanya untuk menghilangkan stres Ibu Denny mendengarkan musik, tidur, atau berlibur bersama keluarga. Stress management adalah cara yang dilakukan individu untuk menurunkan stres (Aamodt, 2007). Cara ini bisa dilakukan sebelum atau sesudah terjadinya stres. Menurut Aamodt (2007) beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh individu untuk menghilangkan stres diantaranya yaitu dengan melakukan olahraga, memperbanyak tertawa, melakukan diet, tidak merokok, tidur, dan support network.

Kesimpulan dari artikel ini adalah bahwa Ibu Denny yang bekerja sebagai Polisi Wanita pernah mengalami stres saat menjalani pekerjaanya. Banyak faktor yang menyebabkan dirinya menjadi stres diantaranya adalah faktor yang bersumber dari pekerjaannya dan stres yang timbul karena adanya faktor personal. Tetapi Ibu Denny menganggap stres yang dialminya adalah hal yang wajar dan tidak dijadikan beban saat menjalani pekerjaannya. Ibu Denny juga beranggapan bahwa stres yang dialaminya membuat dirinya semangat untuk bekerja.

Daftar Referensi

Aamodt, M. G. (2007). Industrial/Organizational Psychology. (6th ed). Wadsworth:                        Cengage Learning.

Hann, D. B. & Payne, W. A. & Lucas, E. B. (2010). Focus on Health. (10th ed).                                 Newyork:McGraw-Hill Higher Education.

Indriani, D. (2017). Wawancara oleh Dimas Dear Pratama (Recording). Interview of                            Stress Management. Personal Interview. Jalan Ciputat Raya no 41 Komplek Sepolwan                blok e no.8 Kebayoran Lama Jakarta Selatan

McShane, S. & Von Glinow, M. A. (2010). Organizational Behavior: Emerging

        Knowledge and Practice for the Real World. 5th edition. New York: McGraw

        Hill/Irwin.

Moorhead, G. & Griffin R, W. (2013). Perilaku Organisasi: Manajemen Sumber Daya

       Manusia dan Organisasi. (9th ed). Jakarta Selatan: Salemba Empat.

Sofwan, R. (2013). Bugar Selalu di Tempat Kerja. Jakarta: Bhuana Ilmu Popoler.

Widiarini. & Aria, B. (2016). Wanita Lebih Stres di Tempat Kerja Dibanding Pria.

Diakses dari http://life.viva.co.id/news/read/865029-studi-wanita-lebih-stres-                        di-tempat-kerja-dibanding-pria. tanggal 1 Maret 2017.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s