stres manajemen dalam pekerjaan

CONTOH KASUS  STRES  DALAM BEKERJA

 

Tanggal wawancara :  rabu, 14 maret 2017

Narasumber : Bapak Marsid ( manajer lapang )

Prusahaan : PT FAJAR MITRA KRIDA ABDI

 

Setiap manusia pasti memiliki kewajiban atau pekerjaan yang harus di selesaikan. Sebagaii manajer lapang juga mempunyai tugas yang sangat banyak. Maka dalam hal ini bahwa setiap individu untuk selalu menjalankan aktifitas dengan bekerja pada berbagai sektor kehidupan, dan salah satunya adalah bekerja sebagai  manajer lapang. Dimana setiap manajer harus dapat membagi waktu dan segala kegiatannya.

Setiap pekerjaan seseorang pasti dapat di mengalami kesulitan dalam pekerjaannya sehingga dapat menimbulkan stress. Bapak masrid ini adalah salah satu manejer lapang, beliau sangat sibuk sekali dalam pekrjaan nya. Bahkan bapak marsid ini juga menjabat sebagai rt di kampung parigi lama kecamatan pondok aren . Sehingga kewajiban atau pekerjannnya semakin banyak yang di laksanakannya. Dan bapak marsid bercerita tentang pengalamanya saat dia bekerja.

Saat bapak marsid bercerita bahwa dirinya sempat jatuh sakit, karena stres dengan pekerjaan dan kecapean dalam kegiatannya. Bapak marsid ini hingga pernah mengalami stroke ringan pada mulut nya. Dan pernah sempat di rawat di salah satu rumah sakit di daerah Jombang, karena mengindap penyakit gula. Dan dirawat 1 minggu , sehingga meningalkan pekerjaannya.

Saat itu bapak marsid berfikir bahwa kesehatan itu sangat penting. Dan stress itu dapat menimbulkan penyakit dan beban pikiran nya pun dapat membuatnya jatuh sakit. Dari pengalaman tersebut, bapak marsid belajar agar dapat mengatasi stres yang pernah di alaminya. Saa itulah bapak marid ini dapat mengatasi setiap stress nya. Stress yang di alami terkadang adalah stress dari tuntutan kerja yang sangat banyak.

Dan membuat bapak marsid ini kepikiran dengan pekerjaan nya. Dan salah satunya pekerjaan yang di rumah sebagai bapak rt, yang harus dapat beradaptai  dengan warga dan mengetahui semua kegiatan warganya, dan mengatur jika ada penduduk datang. Sehingga pekerjaan yang di jalankan sangat banyak. Yang dikator maupun pekerjan yang di rumah. Tetapi saat pengalaman itu bapak marsid ini berbicara bahwa dirinya dapat mengtasi stress nya.

Karena ada kelurganya yang selalu membuat dia bahagia dan penyemangat dalam menjalankan pekerjannya, dan teman temannya yang selalu mendukung dan mensupport terhadap dirinya. Sehingga bapak marsid ini sudah tidak terkena stroke ringan lagi pada bibirnya. Selain itu bapak marsid juga sering rajin untuk berolahraga. Agar kebugaran di tubuhnya bertambah dan menghilangkan stress dan beban pikirannya.

Jadi dalama kasusn ini kita dapat belajar, bahwa beban kerja dapat membuat kita menjadi stress, tetapi setiap stress dapat di atasi dengan caranya. Jadi dalam artikel ini saya akan mejelaskan

  • Pengertian stress
  • Apa saja yg dapat mebuat stress dalam berkerja
  • Dan bagaimana cara mengatasi stress tersebut

 

STRES DI DALAM BERKERJA

 

  1. Pengertian

 

“stres adalah satu abstraksi. Orang tidak dapat melihat pembangkit stress (stressor). Yang dapat dilihat ialah akibat dari pembangkit stress.”  Menurut  Dr. Hans Selye, guru besar emeritus (purnawirawan) dari universitas montreal dan “penemu” stres. Sebagai seorang ahli fual, ia terutama tertarik pada bagimana cara stress mempengaruhi badan. Ia mengamati serangkai perubahan beokimia dalam sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan lingkungan.

Rangkaian perubahan ini ia namakan  tahap ‘alarm’ (tanda bahaya). Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkunganya dalam mulai menghayati sebagai ancaman. Tahap ini tidak dapat tahan lama. Organisme memobilisasi sumber – sumbernya  supaya mampu menghadapi tautautan berlangsung terlalu lama, maka sumber – sumber penyesuaian ini mulai habis dan organisne mencapai tahapan terakhir, yaitu tahap exhaustion (kehabisaan tenaga).

Jika diterapkan pada oran, maka sindorom adaptasi umum dari selye dapat diuraikan secara singkat  sebagai berikut:

Jika seseorang untuk pertama kali mengalami  situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan: kelenjar – kelenjar mengeluarkan/melepaskan adrenalin, cortisone dan hormone hormon – hormon lain dalam jumlah yang besar, dan perubahan perubahan yang terkoordinasi berlangsung dalam sitem sarf pusat (tahap alarm).  Jika exposure (paparan) terhadap pembangkitan stres bersinambung dan badan mampu menyesuaikan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit.

Reaksi badaniah yang khas terjadi untuk menahan akibat – akibat dari pembangkitan stres (tahap resistance). Tetapi jika paparan terhadap stres berlanjut, maka mekanisme pertahan badan secara perlahan –lahan menurut sampai menjadi tidak sesuai, dan satu dari organ – organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Proses pemunduran ini dapat mengharah kepenyakit dari hamper semua bagian dari badan (tahap exhaustion).

 Stress kerja

Menurut  Munandar (2006) stress kerja adalah respon individu terhadap stressor yang ada pada pekerjaan yang dapat menyebabkan seseorang tidak berfungsi optimal. Reaksi yang dapat terjadi yaitu dapat berupa reaksi fisik, osikologis atau tingkah laku.

 

 

 

 

 

  1. Tanda – tanda distress-nya

 

  1. Tanda – tanda suasana hati (mood):
  • Mejadi overexcited
  • Cemas
  • Merasa tidak pasti
  • Sulit tidur pada malam hari (somnabulisme)
  • Menjadi mudah bingung dan lupa
  • Menjadi sangat tidak enak ( uncomfortable) dan gelisah (ill atease)
  • Mejadi gugup

 

 

  1. Tanda – tanda otot kerangka (musculoskeleta) :
  • Jari – jari dan tangan gemeteran
  • Tidak dapat duduk diam atau berdiri di tempat
  • Mengembangkan tic (gerakan tidak sengaja)
  • Kepala mualai sakit
  • Merasa otot menjadi tegang atau kaku
  • Menggagap jika berbicara
  • Leher menjadi kaku

 

  1. Tanda tanda organ – organ dalam badan ( visceral)
  • Perut terganggu
  • Merasa jantung berdebar
  • Banyak berkeringat
  • Tangan berkeringat
  • Merasa pala ringan atau akan pingsan
  • Mengalami keinginan (cold chills)
  • Wajah menjadi “panas”
  • Mulut menadi kering
  • Mendengar bunyi bordering dalam kuping
  • Mangalami “rasa akan tenggelam” dalam perut (sinking feeling)

 

 

  1. pembangkitan stres (stressors)

setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres.tenaga kerja yang menentukan sejauh mana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres atau tidak

tenaga kerja dalam interaksinya di pekerjaan, dipengaruhi pula oleh hasil interaksinya di tempat lain, di rumah, di sekolahm di perkumpulan , dan sebagainya. Sumber stress yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi optimal atau yang menyebabkan seseorang  jatu sakit, tidak saja datang dari satu macam pmbangkit stres saja tetapi dari beberapa pembangkit stres.

Sebagaian besar dari waktu manusia bekerja. Karena itu lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan seseorang yang bekerja. Pembangkit stres di pekerjaan merupakan pembangkit stres yang besar perannya terhadap kurang berfungsinya atau jatuh sakitnya seseorang tnaga kerja yang bekerja.

Fakto – faktor di pekerjaan yang berdasarkan penelitian dapat menimbulkan stres dapat di kelompok ke dalam lima kategori besar,yaitu faktor – faktor intrinsik dalam pekerjaan, peran dalam organisasi , pengembangan karier, hubungan dalam pekerjaan, serta struktur dan iklim organisasi ( Hurrell, dkk. 1998 ).

 

  1. Faktor – faktor intristik dalam pekerjaan

 

Termasuk dalam katagori ini ialah tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik meliputi : bising, vibrasi, hygiene.

Sedangkan faktor – faktor tugas mencakup : kerja shif/kerja malam,beban kerja, dan penhayatan dari risiko dan bahaya.

 

 

  1. Tuntutan fisik

 

Kondisi kerja dan kerekayasaan psikologi, telah di bahas pengaruh dari kondisi kerja fisik terhadap unjuk kerja tenaga kerja. Kondisi kerja tertentu dapat menghasilkan prestasi kerja yang optimal. Di samping dampaknya terhadap prestasi kerja, kondisi kerja fisik memiliki dampak juga terhadap kesehatan mental dan keselamatan kerja seorang tenaga kerja. Kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologis diri seorang tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan pembangkit stres (stressor).

 

  1. Tuntutan tugas

 

Kerja shif/kerja malam: penelitian menunjukkan bahwa kerja shif merupakan sumber utama dari stres bagi para pekerja pabrik (monk & tepas, 1985). Para pekerja shift lebih sering mengeluh matang kelelah dan ganguan perut dari pada para pekerja pagi /siang tampak dari keja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin  menyebabkan ganguan – ganguan perut . pengaruhnya adalah emosional dan biological, karena gangguan ritme circadian dari tidur/daur keadan bangun (wake cycle), pola suhu , dan ritme pengeluaraan andrenalin

Menurut monk dan folkard (1983) ada tiga faktor yang harus baik keadaanya agar dapat  berhasil menghadapi kerja shift : tidur, kehidupan social dan kelurga, dan ritme circadian. Faktor faktor tersebut saling berkaitan, sehingga salah satu dapat membatalkan efek positif dari keberhasilan yang telah dicapai dengan kedua faktor lain.

 

  1. Peran individu dalam organisasi

 

Setiap tenaga kerja berkerja sesuai dengan perannya dalam organisasi , artinya setiap tenaga kerja mempunyai  kelompok tugasnya yang harus ia lakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya. Namun demikian tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah kurang baik berfungsinya (dysfunction) peran, yang merupakan pembangkitan stres.

 

 

 

 

 

  • Konflik peran

Konflik peran timbul jika seorang tenaga kerja mengalami adanya :

  1. Pertentangan antara tugas-tugas yang harus dia lakukan dan antara tangungan jawab yg ia miliki.
  2. Tugas-tugas yang harus dia lakukan yang menurut pandangannya bukan merupakan bagian dari pekerjaanya,
  3. Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bahawahanya , atau orang lain yang dinilai peting bagi dirinya
  4. Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan tugas pekerjaanya

 

  • Ketaksaan peran

Ketaksaan peran di rasakan jika seorang tenaga kerja tidak memiliki cukup informasi utuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.

 

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketaksaan peran menurut Everly dan Girdano ialah :

  1. Ketidak jelasan dari sasaran-sasaran (tujuan-tujuan) kerja.
  2. Kesamaran tentang tanggung jawab.
  3. Ketidak jelasan tentang prosedur kerja.
  4. Kesamaran tentang apa yang diharpkan oleh orang lain.
  5. Ketidak pastian tentang unjuk kerja perkerjaan.

 

  1. Pengembangan karier (career development)

Everly dan Girdona mengaggap bahwa untuk menghasilkan kepuasan pekerjan dan mencegah timbulnya frustasi para tenaga kerja (yang merupakan bentuk reaksi terhadap stres) , perlu di perhatikan 3 unsur yang penting dalam pengembangan karier, yaitu :

  1. Peluang untuk mengunakan ketrampilan jabatan sepenuhnya
  2. Peluang mengembangkan ketrampilan yang baru.
  3. Penyuluhan karier untuk memudahkan keputusan-keputusan yang menyangkut karier.

 

Pengembangan karier merupakan pembangkitan dari stres potensial yang mencakup ketidak pastian pekerjaan, promosi berlebih, dan promosi yang kurang.

 

  1. Hubungan dalam pekerjaan

Harus hidup denagn orang lain, menurut Selye, merupkan salah satu aspek dari kehidupan yang penuh stres

 

Dampak akibat stress

Menurut cox (Gibson et.al 1993: 165), secara umum akibat  atau dampak dari stress ada beberapa kategori :

  1. Akibat subjek: kecemasan,agresif,acuh tak acuh,kebosanan,depresi,kelelahan,frustasi,kehilangan kesbaran,rendah diri,gugup dan perasaan terpencil.
  2. Akibat dalam bentuk prilaku : keacuhan alcohol,ledakan emosi dan makan dan minum berlebihan.
  3. Akibat kognitif : ketidak mampuan mengambil keputusan yang sehat,mulut kering dan banyak keringat
  4. Akibat keorganisasian: ketidakhadiran,produktivitas rendah,mengasingkandiri dan menurunya komitmen .

 

Mengatasi stress

Kita telah mengetahui banyaknya orang mengalami stress , bahkan dalam situasi yang tersulit dan berlangsung terus menerus, tidak mengalami sakit fisik, selain merasa optimis, mempertahankan kendali, dan tidak berkutat terus menerus di dalam emosi negative. Namun ada beberapa orang mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang lebih dari sekedar membantu mereka bertahan dalam kesulitan. Mereka berusaha, dengan belajar dari pengalaman mereka dan menjadi lebih kuat karena pengalam-pengalaman tersebut (Josep & Linley,2005)

Cara mengatasi stress

  • Mendinginkan kepala
  • Memecahkan masalah
  • Memikirkan kembali masalah
  • Mendapat dukungan social

DAFTAR  REFERENSI

 

  1. Ashar Suntoyo Munadar (2007) Psikolog Indistru Dan Organisasi

 

  1. Michael G. Aamodt Radford University and DCI Consuling (2010,2007) Industri/Organizing Psychology: An Applied Approach

 

  1. Penulis  cepi triatna, m.pd. (2015) Editor nita nur muliawati proofreader nur asri desainer sampul guyung slamet  di terbitkan di PT REMAJA ROSDAKARYA.

 

  1. Carole Wade Dan Carol Tavris (2007) , Dominican University Of California,Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 2

 

  1. Diane Krum College Of Lake County(2005) Psychology At Work An Inroducation To Industrial/Organizational Psyckology.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s