Stres dan Manajemen Stres Anggota Kepolisian Republik Indonesia

Sebagai seorang manusia yang menjalankan aktivitas sehari-hari kita tidak bisa lepas dari tekanan dan tuntutan hidup. Kita diharuskan untuk dapat menangani tekanan dan tuntutan tersebut guna melepaskan diri dari segala hal yang membebani sehingga  dapat meraih tujuan yang sesuai dalam berbagai hal tanpa adanya gangguan. Ketika tekanan dan tuntutan tersebut tidak dapat kita tangani dan selesaikan dengan baik maka akan berdampak buruk bagi diri kita. Ketidak mampuan tersebut akan mendorong seseorang untuk mengalami stres. Stres adalah respon adaptif terhadap situasi yang dianggap sebagai sesuatu yang menantang atau mengancam kesejahteraan seseorang. Stres merupakan kondisi fisiologis dan psikologis dimana mengharuskan kita beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dianggap membahayakan. Ketika seseorang mengalami stres akan mengalami hal-hal seperti meningkatnya detak jantung, otat-otot menegang, bernafas lebih cepat dan berkeringat. Selain itu aliran darah keotak juga berlangsung lebih cepat dari seharusnya, tubuh menghasilkan hormon darenalin dan hormon lainnya , meningkatnya kadar glukosa  dan asam lemak serta membuat sistem kekebalan tubuh menurun (McShane & Von Glinow, 2010).

Bila stres tidak dapat disalurkan dan berkepanjangan maka akan timbul efek negatif yang lebih berbahaya seperti keluhan dan gejala yang menganggu. Stres dapat berpengaruh pada kesehatan fisik & psikologis, mengakibatkan tenaga dan produktivitas menurun, dan menimbulkan tingkah laku yang tidak sesuai seperti gangguan fisik berupa penyakit, penurunan energi, produktivitas dan efektivitas, kehilangan keseimbangan diri yang dapat menimbulkan gangguan presepsi, daya ingat, penalaran dan pengambian keputusan, perubahan tingkah laku, kepuasan kerja rendah serta absensi tinggi (Soewondo, 2012).

Sumber dan mediator stres itu sendiri meliputi beberapa faktor yaitu faktor lingkungan, faktor kepribadian, faktor  pekerjaan dan faktor sosiokultural. Pada artikel  ini saya hanya membahasa mengenai faktor pekerjaan dalam timbulnya stres. Stres terkait pekerjaan biasanya meningkat ketika beban pekerjaan yang tinggi dan saat itu individu memiliki sedikit pilihan dalam memutuskan atau memenuhi tuntutan pekerjaan tersebut atau dalam kata lain karyawan tersebut berada dalam kondisi dimana otonomi yang dimiliki rendah tetapi kontrol eksternalnya tinggi. Karyawan yang merasa mereka mempunya kontrol dalam tanggung jawab pekerjaannya tetapi tidak memiliki kepercayaan diri mengenai kemampuan pemecahan masalah mereka atau mereka yang menyalahkan diri sendiri atas hasil pekerjaan yang buruk paling memiliki kemungkinan untuk mengalami stres. Menurut Chong, Killeen & Clarke Rabasca (dalam Santrock, 2006) Level stres pekerja juga akan meningkat ketika pekerjaannya tidak sesuai dengan ekspektasi.

Stres yang disebabkan oleh pekerjaan menjadi masalah yang penting untuk diketahui dan dipelajari karena tidak hanya dialami oleh satu orang saja bahkan stres karena tekanan dan tuntutan pekerjaan juga dapat dialami oleh sebagian besar anggota organisasi. Stres kerja yang berkepanjangan juga dapat menganggu performa anggoatanya dan berdampak buruk bagi organisasi . Sampai saat ini terdapat beberapa media cetak dan online yang mengangkat berita-berita mengenai stres yang dialami para anggota organisasinya. Salah satu kasus tersebut saya dapatkan berdasarkan informasi yang dilansir oleh nasional.kompas.com yang menanggkat berita berjudul “Polisi Rawan Stres Karena Beban Tugas dan Tekanan Ekonomi” berita tersebut membahas mengenai kasus bunuh diri salah satu anggota kepolisian republik Indonesia yang diduga karena mengalami stres akibat banyaknya tekanan. Dari kasus tersebut saya tertarik untuk membahas mengenai stres dan manajemen stres yang dialami oleh anggota Kepolisian Republik Indonesia dalam menjalankan pekerjaannya.

Untuk memperkuat fakta dan informasi yang lebih jelas, Saya mewawancarai salah satu anggota Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas di Jakarta Barat. Dari wawancara tersebut Saya mendapatkan informasi mengenai stres kerja yang narasumber dan rekannya alami. Penyebab stres yang berhubungan dengan pekerjaan yang dialami meliputi tuntutan kerja yang tinggi, masalah jam kerja, gaji atau tunjangan yang masih minim dan beberpa atasan yang memiiki sifat arogan.

Mereka dituntut untuk selalu memiliki performa yang baik dalam melayani masyarakat dengan tugas yang tidak mudah dan jam kerja yang tinggi. Beberapa contoh situasi tersebut seperti tugas yang mereka terima harus segera diselesaikan dengan deadline waktu yang telah ditentukan, misalnya ketika para anggota kepolisian bagian reserse yang ditugaskan untuk menangkap buronan yang melarikan diri. Tugas tersebut juga berhubungan dengan waktu kerja, mereka bisa melakukan tugas tersebut selama berhari-hari bahkan sampai berbula-bulan guna menangkap buronan secepat mungkin. Alhasil, ada waktu yang harus dikorbankan yaitu waktu untuk  keluarga dan waktu istirahat sehingga akhirnya menimbulkan stres dalam diri mereka. Dalam ceritanya, narasumber  juga sering mengalami stres disaat tidak ada libur dihari- hari tertentu salah satunya disaat hari raya. Pada saat ini banyak tekanan dan untutan yang harus beliau hadapi, disatu sisi beliau harus tetap menjalankan tugasnya dengan baik tetapi disisi lain beliau merasa sangat sedih ketika tidak bisa merayakan hari raya bersama dengan orang-orang terdekat yang akhirnya dapat memicu timbulnya stres.

Ketika seseorang mengalami stres mereka harus menemukan cara untuk menanggulanginya. Untuk itu coping stres sangat penting dilakukan. Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Soewondo, 2012) secara umum coping strategy terdiri atas dua fungsi yaitu coping berfokus ada masalah (problem focused coping) dan coping berfokus pada emosi (emotion focused coping). Sementara itu Dahlan (dalam Soewondo, 2012) dalam strategi kajiannya menemukan dan melengkapi penemuan Lazarus dan Folkman (dalam Soewondo, 2012 ) dengan satu strategi penyelesaian masalah, yaitu coping berfokus pada religi (religious focused coping). Dengan demikian hasil temuan Dahlan (dalam Soewondo, 2012) menunjukkan ada tiga coping strategi yang dapat dilakukan oleh individu, yaitu: coping berfokus pada masalah (problem focused coping), coping berfokus emosi (emotion focused coping), dan coping berfokus pada religi (religious focused coping).

Pada dasarnya setiap individu mempunyai streategi-strategi tertentu dalam melakukan coping, karena hal itu tergantung dari bagaimana penghayatan subyektif atau penilaian kognitif ( cognitive appraisel) individu itu sendiri dalam menghadapi kondisi, situasi atau peristiwa yang mengganggu dan mengancam kesejahteraan dirinya ( Soewondo, 2012 )

Strategi coping yang dapat dilakukan:

  1. Emotion focused coping

Individu berusaha mengurangi reaksi emosi negatif, meredakan tekanan-tekanan emosi yang ditimbulkan oleh stresor.

  1. Probem focused coping

Memecahkan masalah, mencari informasi, melakukan tindakan langsung, mengubah pola fikir dan motivasi dan membuat rencana baru.

  1. Religious focused coping

Mengatasi masalah dengan tindakan ritual keagamaan, berdoa, sembahyang, dzikir, meditasi dan yoga.

Dalam menangani stres tersebut narasumber menjelaskan tindakan apa saja yang beliau lakukan guna mereduksi stres yang dialami. Ketika stres tersebut datang hal yang paling sering dilakukan untuk mereduksinya adalah dengan melakukan hobi  diluar waktu tugas, olahraga, mengikuti siraman rohani, lebih mendekatan diri kepada YME serta salah satu cara yang menarik yaitu menciptakan suasana yang humoris bersama teman-teman. Secara umum humor telah menunjukkan bahwa menjadi salah satu cara dalam mengatasi stres. Hal ini sesuai dengan salah satu teori mengenai manajemen stres. Tujuan dari bercandaan bukan untuk menyakiti perasaan seseorang tetapi untuk lebih dapat menerima situsi yang tidak nyaman yang harus dihadapi selanjutnya. Lebih baik tertawa dalam situasi ini dari pada diam menghadapi situasi yang tidak dapat kita kontrol (Aamodt, 2007).

Dalam manajemen stres ini, anggota kepolisian juga dibantu oleh instansi yang bersangkutan. Instansi Kepolisian Republik Indonesia menyediakan berbagai aktivitas pendukung untuk mereduksi stres yang dialami oleh para anggotanya. Beberapa acara atau aktivits yang disediakan berupa olahraga bersama setiap akhir pekan dari jam 7.00 sampai jam 10.00, pengajian rutin setiap hari kamis, siraman rohani untuk setiap agama setiap bulan yang dipimpin oleh berbagai pemuka agama, dan family gathering yang berisikan acara-acara keluarga seperi makan bersama atau piknik. Oleh karena itu, berdasarka informasi yang Saya dapat, manajemen stres yang dilakukan oleh para anggota dan instansi Kepolisian Republik Indonesia sudah sesuai dengan teori yang ada. Namun mengenai keefektivannya akan berbeda-beda bagi setiap individu, karena perbedaan stres yang dialami seseorang meliputi tiga faktor yang berbeda, yaitu : (1) perdedaan fisiologis antar individu (2) faktor-faktor psikologis, misalnya sikap, emosi dan persepsi terhadap kejadian dan (3) perilaku orang dibawah tekanan atau stres yang meliputi tindakan seseorang yang meningkatkan risiko sampai coping yang dilakukan untuk mengurangi efek-efek negatif dari stres (Wade& Tavris, 2008).

 

 

Daftar Pustaka

Aamodt, G. M . (2007).  Industrial/Organizational Pyschology: An Applied approach. 6th edition.

McShane, S. & Von Glinow, M.A. (2010). Organizational Behavior: Emerging Knowledge              and practice for the Real World. 5th edition. New York: McGraw-Hill/Irwin.

Movanita, A. N. K. Polisi Rawan Stres karena Beban Tugas dan Tekanan Ekonomi. 21 Maret 2017

http://nasional.kompas.com/read/2016/03/15/07113131/Polisi.Rawan.Stres.karena.Beban.Tugas.dan.Tekanan.Ekonomi.

Santrock, J. W. (2006). Human Adjustment. New York: McGraw-Hill/Irwin.

Seowondo, S. (2012). Stress, Manajemen Stress, dan Relaksasi Progresif. Depok: Lembaga

Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSPP).

Wade, C. & Tavris, C. Psikologi. Edisi Kesembilan. Jakarta: Erlangga.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s