Manajemen Stres di Tempat Kerja

Menjalani kehidupan sebagai manusia, dengan semakin bertambahnya usia maka akan semakin bertambah pula tuntutan hidup yang harus dijalani. Begitu juga dengan kehidupan di saat kita bekerja, dikarenakan tuntutan dan pengalaman baru, maka akan sangat memungkinkan timbulnya stres. Apa itu stres? Stres adalah respons nonspesifik tubuh terhadap segala tuntutan yang ada (Kalat, 2010). Stres juga dapat diartikan sebagai respons adaptif terhadap situasi yang dirasa menantang atau mengancam bagi well-being seseorang (McShane & Von Glinow, 2010). Selain itu, menurut Griffin & Moorhead (2013), stres didefinisikan sebagai respons adaptif seseorang terhadap rangsangan yang menempatkan tuntutan psikologis atau fisik secara berlebihan. Proses terjadinya stres dimulai dengan situasi atau kejadian yang menyebabkan stres (Aamodt, 2007).

Hal ini didukung oleh data dari berita yang saya dapatkan dari kompas.com (dalam Asep Candra, 2011). Seperti yang tercantum di berita tersebut bahwa penelitian yang pernah dilakukan Program Studi Magister Kedokteran Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terhadap para pekerja kantor di Indonesia pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa sekitar 30 persen karyawan pernah mengalami stres di tempat kerja dengan beragam keluhan mulai dari yang ringan sampai berat. Ketua Program Studi Magister Kedokteran Kerja, FKUI, dr. Dewi S. Soemarko, MS, SpOK, Selasa (19/7/2011) di Jakarta mengatakan bahwa 15-30 persen pekerja pernah mengalami masalah kesehatan jiwa yang di akibatkan oleh stres.

Selain itu, saya mendapatkan data dari tribunnews.com (dalam Purwandini Sakti Pratiwi, 2015) yang menyatakan bahwa survei yang dilakukan oleh British Heart Foundation di Inggris menghasilkan data bahwa sebanyak 40 persen pekerja mengatakan dalam waktu 5 tahun terakhir pekerjaan mereka berdampak negatif pada kesehatan. Jam kerja yang panjang menyebabkan tidak ada waktu untuk berolahraga. Selain itu, sebanyak 60 persen dari pekerja sering lembur tanpa dibayar. Perwakilan dari British Heart Foundation, Lisa Young, mengatakan bahwa jutaan orang merokok lebih banyak, sedikit berolahraga, dan bertambah berat badan karena mereka tidak mempertimbangkan efek dari pekerjaan terhadap kesehatan dan kebahagiaan mereka.

Berdasarkan paparan di atas, saya tertarik untuk mewawancarai seorang pegawai swasta yang bekerja di sebuah kantor di daerah Jakarta Pusat, yang berinisial BW. Pada hari Rabu, 15 Maret 2017 saya berkesempatan untuk mewawancarai beliau di rumahnya. BW bekerja di kantor tersebut dengan jabatan sebagai manajer HRD (Human Resources Development) dan sudah bekerja selama 26 tahun. Selama bekerja di kantor, ia pernah merasakan stres yang disebut sebagai eustress. Eustress atau stres yang positif terjadi ketika pemicu stres menghasilkan perasaan akan tantangan atau prestasi, dimana rasa stres tersebut berubah menjadi energi positif dan memotivasi sehingga beberapa stres pada situasi ini mungkin sangat membantu (Aamodt, 2007). Sama seperti teori tersebut, walaupun BW mengatakan suasana atau kondisi lingkungan di tempat kerjanya sudah cukup nyaman dan menyenangkan, tetapi selama 26 tahun ia bekerja di kantor tersebut ia juga pernah merasakan stres yang membuat ia bekerja dan berusaha dengan keras agar pekerjaan yang ia kerjakan dapat selesai dengan tepat waktu dan sesuai dengan harapan atasannya. Dan terbukti, eustress yang dirasakan oleh BW berhasil membantu ia dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu dan sesuai dengan harapan atasannya.

Berdasarkan teori stress personalities, kepribadian BW cenderung neurotik. Ia cenderung mudah cemas apabila ia menjumpai masalah sehingga tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan tenang dan santai. Teori menyatakan bahwa kepribadian neurotik meliputi kecemasan, sering depresi, dan pesimistik dan kurangnya harapan akan sesuatu. Mereka cenderung merasa peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang penuh dengan stres dan lebih menunjukkan reaksi yang negatif dibandingkan dengan orang yang stabil secara emosi (Aamodt, 2007).

Tuntutan tugas adalah stressor yang berkaitan dengan tugas spesifik yang dilakukan oleh seseorang. Beberapa pekerjaan mempunyai sifat lebih menimbulkan stres daripada yang lainnya. Stressor tuntutan tugas yang lain adalah kelebihan beban. Kelebihan beban terjadi ketika seseorang mempunyai lebih banyak pekerjaan dari yang dapat di tangani. Tuntutan peran juga dapat menimbulkan stres kepada orang-orang dalam organisasi. Sebuah peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sehubungan dengan posisi tertentu dalam sebuah kelompok atau organisasi. Di dalam tuntutan peran terdapat ambiguitas peran yang muncul ketika suatu peran tidak jelas. Dalam situasi kerja, ambiguitas peran dapat disebabkan oleh deskripsi kerja yang buruk, instruksi dari pengawas yang samar-samar, atau petunjuk yang tidak jelas dari rekan kerja sehingga dapat menjadi sumber stres. (Griffin & Moorhead, 2013). Berdasarkan teori tersebut, BW tidak merasa tuntutan tugas yang ia dapatkan di kantor terlalu membebani sampai-sampai tidak dapat ditangani. Ia juga mengatakan bahwa selama ia bekerja, sempat terjadi ambiguitas peran, yaitu ia menerima instruksi yang samar-samar atau kurang jelas dari atasannya sehingga membuat ia stres.

Konsekuensi Individual meliputi konsekuensi keperilakuan, konsekuensi psikologis, dan konsekuensi medis. Konsekuensi keperilakuan dari stres dapat merugikan orang yang terkena stres atau orang lain. Salah satu perilaku seperti ini adalah merokok. Konsekuensi psikologis dari stres berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan mental seseorang. Ketika orang-orang mengalami terlalu banyak stres di tempat kerja, mereka dapat menjadi lebih tertekan atau menjadi tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit. Konsekuensi medis dari stres memengaruhi kesejahteraan fisik seseorang. Penyakit jantung dan stroke, dua di antara penyakit lainnya, telah dihubungkan dengan stres. Masalah medis lainnya yang diakibatkan oleh terlalu banyak stres meliputi sakit kepala, sakit punggung, berbagai kelainan perut dan usus serta kondisi kulit, seperti jerawat dan gatal-gatal (Griffin & Moorhead, 2013). Berdasarkan teori di atas, BW mengatakan bahwa konsekuensi psikologis dari stres yang ia alami adalah gangguan tidur seperti tidur yang tidak berkualitas sehingga tidurnya menjadi terlalu sedikit. Selama ini, ketika BW sedang merasa stres, ia tidak pernah merasakan masalah medis lain seperti sakit kepala, sakit punggung, berbagai kelainan perut dan usus serta kondisi kulit, seperti jerawat dan gatal-gatal.

Manajemen stres adalah prosedur meningkatkan kemampuan individu mengelola stres yang dialami dan emosi negatif yang timbul seperti tegang, cemas, dan tidak nyaman. Seseorang perlu belajar dan melatih teknik-teknik, strategi, dan keterampilan menghadapi stres (Soewondo, 2012). Menurut BW, kegiatan yang paling ampuh untuk mengurangi stres adalah dengan berolahraga. Olahraga yang senang ia lakukan adalah bersepeda dan bermain pingpong. Ia melakukan olahraga rutin setiap minggu satu sampai dua kali. Seperti yang dikatakan oleh Griffin & Moorhead (2013), yaitu salah satu strategi untuk mengatasi stres di tempat kerja yakni dengan berolahraga. Olahraga adalah salah satu metode untuk mengelola stres. Orang-orang yang berolahraga secara teratur merasakan stres dan ketegangan yang lebih sedikit, lebih percaya diri, dan menunjukkan optimisme yang lebih besar.

Selain itu, menurut Aamodt (2007), berolahraga tidak hanya menjaga jantung agar tetap kuat dan tahan terhadap efek dari stress, tetapi juga dapat membantu mengurangi tingkat stres di saat momen tertentu. Ini merupakan ide yang sangat bagus untuk dapat meluangkan waktu untuk berolahraga setidaknya tiga atau empat kali dalam satu minggu dan selama 20 menit. Kita dapat meraih manfaat yang besar dari berjalan, berenang, berlari, bermain permainan olahraga, atau turun-naik tangga karena ini akan memperkuat sistem kardiovaskular, yang akan semakin membuat kita tahan terhadap efek-efek dari stres. Organisasi telah menyadari pentingnya berolahraga untuk mengatur efek-efek dari stres, sebagai buktinya terjadi kenaikan di tempat fitness dan program kesehatan selama 15 tahun terakhir. Para peneliti menunjukkan bahwa olahraga dapat mengurangi risiko terkenanya penyakit jantung koroner dengan mengurangi tekanan darah dan menurunkan kolesterol. Sebagai tambahan, hasil dari meta-analisis mengindikasikan bahwa program kesehatan karyawan yang sering melibatkan olahraga, menyebabkan terjadinya penurunan tingkat ketidakhadiran dan mungkin akan meningkatkan kinerja yang baik.

Dari hasil wawancara secara keseluruhan, dapat saya simpulkan bahwa selama bekerja di kantor, BW pernah merasakan stres. Walaupun ia mengatakan bahwa suasana dan kondisi lingkungan di kantor sudah cukup nyaman dan menyenangkan, tetap saja ada saatnya di mana ia merasa stres. Stres yang ia rasakan tidak membuat pekerjaan di kantor menjadi terbengkalai, tetapi justru membuat ia semangat agar dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu dan sesuai dengan harapan atasannya. Untuk mengatasi stres yang ia rasakan, ia rutin berolahraga dengan bermain pingpong dan bersepeda satu sampai dua kali dalam seminggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR REFERENSI

Aamodt, M. G. (2007). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach. (6th ed).

Belmont: Wadsworth Cengage Learning.

Candra, A. (2011). Di akses dari http://health.kompas.com/read/2011/07/20/10232458/30.Persen.Pekerja.Kantor.Alami.Stres pada 16 Maret 2017.

Kalat, J.W. (2010). Biopsikologi. (9th ed). Jakarta: Salemba Humanika.

McShane, S. L. & Von Glinow, M. A. (2010). Organizational Behavior: Emerging Knowledge

                  and Practice for the Real World. (5th ed). New York: McGraw-Hill.

Moorhead, G. & Griffin R. W. (2013). Perilaku Organisasi: Manajemen Sumber Daya

                  Manusia dan Organisasi. (9th ed). Jakarta: Salemba Empat.

Pratiwi, P.S. (2015). Di akses dari http://www.tribunnews.com/kesehatan/2015/02/14/penyakit-ini-menghinggapi-mereka-yang-tertekan-stres-pekerjaan pada 17 Maret 2017.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Depok: Lembaga

Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi.

Wimbowo, B. W. (15/03/17). Wawancara oleh Bianda Dina Wimbowo (recording). Jenis

wawancara (personal). Bintaro Jaya Sektor 9.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s