Langkah dan Cara Pengelolaan Stress Dalam Pekerjaan

Stres di tempat kerja merupakan hal yang dialami hampir setiap hari oleh para pekerja. Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2011) mendefinisakan stres sebagai respon adaptif yang dikelola oleh perbedaan individu, dimana konsekuensi dari tindakan, situasi, atau peristiwa yang menempatkan tuntutan khusus pada seseorang. Masyarakat yang merupakan pekerja urbanis maupun industrialis selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja, masalah keluarga, beban kerja yang berlebihan, dan berbagai macam tantangan lainnya sehingga membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin dapat dihindari oleh para pekerja.

Stres di tempat kerja merupakan suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan. Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan tekanan-tekanan yang berlangsung terus-menerus dan memiliki potensi menimbulkan stres bagi pekerja. Ada sebuah penelitian di Indonesia yang pernah dilakukan oleh sebuah lembaga manajemen di Jakarta pada tahun 2002 yang menemukan bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan, PHK, pemotongan gaji, dan keterpaksaan untuk bekerja pada bidang kerja yang tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki merupakan stressor utama pada saat itu. Gibson, Ivancevich, Donnelly, Konopaske (2009) menyebutkan bahwa stressor peristiwa atau situasi eksternal yang berpotensi membahayakan atau mengancam individu.

Soewondo (2012) membagi stressor menjadi tiga, yaitu stressor fisik, stressor sosial, stressor psikologis, dan stressor yang berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan seperti menikah, perceraian, meninggalnya seorang anggota keluarga, dan anak yang meninggalkan rumah. Ada juga beberapa faktor penyebab stres di tempat kerja yang disebutkan oleh Robbins dan Judge (2010), yaitu faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor pribadi. Kemudian, Aamodt (2010), menyebutkan beberapa faktor lain dari stres, yaitu minor frustration, forecasting, dan residual stress.

Contoh kasus yang saya gunakan adalah berita banyaknya karyawan yang kehilangan tidur, yang bersumber dari kompas.com, yang ditulis oleh Ayunda Pininta (2016). Menurut survei dari 3.200 karyawan yang dilakukan oleh CareerBuilder, setidaknya sekitar satu dari empat karyawan mengatakan, pikiran buruk tentang pekerjaan terjadi sedikitnya sekali dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Survei lain yang dilakukan sebelumnya, yang melibatkan lebih dari 1.400 karyawan di berbagai negara, bahkan menghasilkan angka yang lebih tinggi: tiga dari empat karyawan kehilangan tidur karena masalah pekerjaan. Peneliti menjelaskan, itu sangat mungkin terjadi karena pekerjaan kerap memberikan tekanan bagi karyawannya, sehingga karyawan sering terjebak dalam kondisi sulit tidur karena pikiran atau stres akan pekerjaan mereka. Kasus karyawan yang berhubungan dengan stres melompat 28 persen selama tiga tahun belakangan, menurut data dari penyedia program kesehatan karyawan Workplace Options, yang melihat data dari lebih dari 100.000 karyawan, dan memiliki kepentingan dalam membantu karyawan mengatasi stres tersebut. “Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres kerja adalah sumber utama stres bagi orang dewasa, khususnya di Amerika. Kasus tersebut telah meningkat secara progresif selama beberapa dekade terakhir,” menurut peneliti dari The American Institute of Stress. Salah satu alasan yang membuat kasus stres pada karyawan meningkat ialah penggunaan teknologi. Sehingga karyawan terhubung dengan pekerjaan lebih sering dari sebelumnya. “Jam kerja 9-5 kini berubah menjadi 24/7,” kata konsultan kerja Kristi Daniels dari Orange County. “Batas antara pekerjaan dan kehidupan menjadi kabur.” Selain itu, dalam beberapa kasus, seorang karyawan menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi. “Banyak perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, dan karyawan sendiri tidak tahu apakah atasan mereka berencana untuk mengisi posisi tersebut,” kata Rosemary Haefner, kepala sumber daya manusia di CareerBuilder. “Karena itu, beban kerja telah meningkat, namun tidak sejalan dengan kenaikan gaji.” “Karyawan yang mengambil tanggung jawab lebih, multi-tasking, harus membagi waktu mereka untuk banyak tugas yang berbeda, cenderung membuat karyawan lebih banyak membuat kesalahan, yang pada gilirannya menyebabkan lebih banyak stres,” kata AJ Marsden, seorang asisten profesor dan psikolog di Beacon College di Leesburg. Terlebih lagi, kesulitan tidur dapat membuat seseorang lebih sulit untuk mengelola stres, ujar psikoterapis Holly Parker, yang mengajar di Harvard untuk topik psikologi.

Berdasarkan berita diatas, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab stres dalam pekerjaan adalah faktor organisasi, dimana dalam kasusnya, konsultan kerja di Orange County menyatakan bahwa jam kerja yang biasanya dimulai pukul 9 pagi hingga 5 sore, berubah menjadi 24/7 yang berarti 24 jam sehari dalam seminggu dan menyebabkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan menjadi tidak stabil. Faktor lingkungan dalam stres pekerjaan pun ditemukan dalam berita diatas. Disebutkan bahwa ada karyawan yang menanggung lebih banyak pekerjaan karena krisis ekonomi, ketika banyaknya perusahaan yang memotong jumlah karyawan selama krisis keuangan dan membebankan posisi kosong tersebut pada karyawan yang ada, sehingga karyawan cenderung lebih banyak membuat kesalahan yang menyebabkan stres.

 

Jadi, langkah dan cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengelola stress dalam pekerjaan? 

Ada beberapa aspek dalam pengelolaan stress dengan pendekatan individual menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011), yaitu:

Sama halnya seperti makan, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur juga merupakan cara yang tidak efektif dalam pengelolaan stress. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7-8 jam tidur di malam hari. Adakalanya, seseorang memiliki waktu tidur yang sedikit sekali selama hari kerja dan mencoba untuk tidur dengan waktu yang lama selama akhir minggu, seperti 14 jam tidur sekali atau tidur sebentar di siang hari. Sangat direkomendasikan untuk setiap orang membudayakan kebiasaan tidur sehat agar mendapatkan istirahat yang cukup tanpa obat penenang dan perangsang.

  • Olahraga

Olahraga aerobik 3 kali seminggu selama 20 sampai 30 menit merupakan salah satu cara untuk mengelola stress secara efektif. Pertama, olahraga membutuhkan fokus pada pernafasan, dimana bernafas secara dalam-dalam merupakan kunci dalam pengelolaan stress. Kedua, olahraga dapat meringankan stres melalui pelepasan endorphin di dalam otak.

  • Nutrisi

Ketika seseorang sedang stres, mereka seringkali tidak makan atau makan secara buru-buru, dimana seharusnya ketika sedang stres, mereka harus makan teratur dengan nutrisi yang baik. Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit merupakan cara yang tidak efektif untuk mengatasi stres dan bahkan dapat mengarah kepada masalah kesehatan yang serius seperti obesitas, gangguan makan, diabetes, dan hipertensi.

  • Pendekatan pikiran-tubuh
  1. Terapi pijat yang biasanya melibatkan memegang, menekan, dan bergerak di titik stres tertentu pada tubuh untuk menghilangkan stres dari area tersebut.
  2. Akupuntur yang bertujuan untuk melepaskan aliran energi yang terhambat di dalam tubuh dan memperoleh keseimbangan kembali.
  3. Obat ayuverba yang merupakan ilmu kehidupan dan juga pendekatan holistic dalam pengelolaan stres yang menggabungkan yoga, herbal, makanan tertentu, pijatan, dan meditasi.

Mengelola waktu secara efektif juga dapat membantu untuk mengurangi stres dengan merasa lebih terkendali, memiliki rasa pencapaian dan rasa dari tujuan hidup menurut Hahn, Payne, dan Lucas (2011). Langkah pertama dalam pengelolaan waktu untuk mengurangi stres adalah menilai kebiasaan diri dengan cara menulis kembali hal apa saja yang dilakukan untuk menghabiskan waktu dan mengurangi penghabisan waktu dalam tugas yang kurang penting. Langkah kedua adalah menggunakan sebuah planner untuk mengelola waktu lebih efektif. Jadwalkan waktu bekerja, beristirahat dan waktu bebas. Langkah terakhir adalah menetapkan dan memprioritaskan tujuan. Menetapkan tujuan seminggu dalam setiap harinya dapat membantu untuk mengurangi stres. Apabila sesuatu yang tidak terduga mengganggu jadwal, ubahlah rencana dengan tidak membuang seluruh jadwal yang ada.

Pengelolaan stres dalam pekerjaan dapat dilakukan dengan pendekatan organisasi yang dinyatakan oleh Robbins dan Judge (2010). Feedback dari tujuan mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja pekerjaan sebenarnya yang hasilnya adalah kurangnya frustasi dan stres yang dirasakan oleh karyawan. Merancang ulang pekerjaan untuk memberi karyawan tanggung jawab lebih, pekerjaan yang lebih berarti, otonomi lebih, dan meningkatkan feedback dapat mengurangi stres karena faktor-faktor ini memberikan karyawan kendali aktifitas pekerjaan yang lebih baik dan kurangnya ketergantungan terhadap karyawan lainnya. Pemimpin juga harus meningkatkan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Dengan memberikan karyawan suara dalam keputusan yang secara langsung mempengaruhi kinerja pekerjaan mereka, pemimpin dapat meningkatkan kendali karyawan dan mengurangi peran stres. Langkah terakhir pengelolaan stres dalam pekerjaan dengan pendekatan organisasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan komunikasi formal organisasi dengan karyawan.

 

referensi:

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach, 6th edition. Belmont, CA: Wadsworth Cengage Learning.

Gibson, J.L, Ivancevich, J.M., Donnelly, J.H., Konopaske. R. (2009). Organizations: Behavior Structure, Processes, 13th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Hahn, D.B., Payne, W.A., Lucas, E.B. (2011). Focus on Health, 10th edition. New York, NY: McGraw-Hill.

Ivancevich, J.M., Konopaske. R., & Matteson. M.T. (2011). Organizational Behavior and Management, 9th edition. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.

Pininta, A. (2016). Khawatirkan Pekerjaan, Banyak Karyawan Kehilangan Waktu Tidur. http://health.kompas.com/read/2016/03/14/200900323/Khawatirkan.Pekerjaan.Banyak.Karyawan.Kehilangan.Waktu.Tidur. Diakses Pada Tanggal 17 Maret 2017.

Robbins, S.P., Judge, T.A. (2010). Organizational Behavior: 14th edition. Prentice Hall: Pearson Education, inc.

Soewondo, S. (2012). Stres, Manajemen Stres, dan Relaksasi Progresif. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia: LPSP3 UI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s