Gambaran Diskriminasi di Tempat Kerja menggunakan Film Hidden Figures

Keadilan yaitu suatu kondisi tidak berat sebelah atau pun seimbang, yang sepatutnya tidak diputuskan dengan cara yang sewenang – wenang (Poerwadarminta, 2007). Keadilan sudah menjadi kebutuhan setiap manusia. Didalamnya ada tuntutan hak yang sama untuk diperlakukan adil (Ardiyan, 2012). Seorang anak ingin diperlakukan sama dengan saudara-saudara lainnya oleh orang tuanya. Seperti dalam hal kesempatan pendidikan, berkomunikasi internal keluarga, kesamaan dalam memiliki asset dan lain sebagainya. Rakyat menuntut hak atas pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, dari pemerintah, dsb. Masih banyak contoh lainnya termasuk hak karyawan untuk diperlakukan adil oleh perusahaan (Ardiyan, 2012).

Tidak jarang karyawan melakukan protes terhadap kebijakan perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah karena karyawan merasa di perlakukan tidak adil oleh pimpinan perusahaan (Ardiyan, 2012). Di tingkat puncak, karyawan bisa diperlakukan tidak adil dalam hal proses rekrutmen dan seleksi, kesempatan belajar, kebijakan kompensasi, dan peluang karir. Di tingkat unit, ketidakadilan yang terjadi dalam bentuk perlakuan antar individu, ketimpangan pengakuan prestasi, diskriminasi penugasan, perbedaan peluang berpendapat, bias dalam solusi konflik antar individu, dsb. Berbagai faktor yang mungkin sebagai penyebab ketidakadilan meliputi (Ardiyan, 2012)          :

  1. Belum adanya budaya atau sistem nilai tentang pentingnya keadilan dalam organisasi secara eksplisit. Atau mungkin sudah ada namun belum diterapkan secara merata di setiap perusahaan. Kemauan dan dukungan kuat dari manajemen dalam mengembangkan budaya organisasi bisa jadi kurang maksimum.
  2. Kepemimpinan yang lemah baik di tingkat manajemen maupun di tingkat unit kerja. Hal ini ditunjukkan oleh ke tidak tegasan dalam mengambil keputusan, tidak menerima besutan para karyawan, senang dengan pujian dari karyawan, bias dalam mengatasi konflik, dan cenderung otokratis.
  3. Keterbatasan sumber daya atau aset untuk memfasilitasi proses pekerjaan dan tuntutan karyawan. Dengan demikian setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan prioritas namun kerap membuat para karyawan diperlakukan tidak adil.
  4. Belum adanya prosedur operasional yang standar termasuk dalam hal pemberian penghargaan dan hukuman karyawan. Keputusan untuk itu lebih berdasarkan pada jastifikasi sang pimpinan yang acap bersifat subyektif.

.           Ketika ketidakadilan masih terjadi maka sama saja pimpinan perusahaan membiarkan lingkungan kerja menjadi kurang sehat (Evita, 2011). Akibatnya, motivasi kerja karyawan semakin menurun dan dapat mengakibatkan kinerja mereka juga menurun. Tentu saja akan mengganggu aktifitas bisnis dan kinerja perusahaan. Karena itu maka dibutuhkan reposisi kepemimpinan yang menyeluruh. Posisi kepemimpinan perlu diperkuat dalam hal pemahaman sistem nilai organisasi khususnya tentang pentingnya rasa keadilan bagi karyawan (Evita, 2011). Maka dari itu, tiap perusahaan seharusnya sudah memahami dan menerapkan Equity teori yaitu, bahwa kepuasan seseorang tergantung apakah ia merasakan ada keadilan (equity) atau tidak adil (unequity) atas suatu situasi yang dialaminya (Aamodt, 2007). Menurut teori ini, seseorang akan membandingkan rasio input- hasil dirinya dengan rasio input-hasil-orang bandingan. Jika perbandingan itu dianggapnya cukup adil, maka ia akan merasa puas. Namun jika perbandingan itu tidak seimbang dan justru merugikan, akan menimbulkan ketidakpuasan dan menjadi motif tindakan bagi seseorang untuk menegakkan keadilan (Aamodt, 2007)

Ketidakadilan mengacu pada tindakan diskriminasi (Lapian, 2012). Diskriminasi menurut (Fulthoni, et.al, 2009) yaitu perlakuan yang tidak adil dan tidak seimbang yang dilakukan untuk membedakan terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kebangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Istilah tersebut biasanya melukiskan, suatu tindakan dari pihak mayoritas yang dominan dalam hubungannya dengan minoritas yang lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku mereka itu bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis (Fulthoni, et.al, 2009).

Dalam rangka ini dapat juga di kemukakan definisi dari (Doob dalam Liliweri, 2007), Lebih jauh mengakui bahwa diskriminasi merupakan perilaku yang ditujukan untuk mencegah suatu kelompok, atau membatasi kelompok lain yang berusaha memiliki atau mendapatkan sumber daya. Secara teoritis, diskriminasi dapat dilakukan melalui kebijakan untuk mengurangi, memusnahkan, menaklukkan, memindahkan, melindungi secara legal, menciptakan pluralisme budaya dan mengasimilasi kelompok lain. (Fulthoni, et al, 2009) memaparkan jenis-jenis diskriminasi yang sering terjadi, yaitu :

  1. Diskriminasi berdasarkan suku / etnis, ras, dan agama / keyakinan
  2. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan gender (peran sosial karena jenis kelamin)
  3. Diskriminasi terhadap penyandang cacat
  4. Diskriminasi terhadap penderita HIV / AIDS
  5. Diskriminasi karena kasta sosial.

 

r122477_800x450_16-9

Dalam menggambarkan ketidakadilan di tempat kerja penulis menggunakan film berdasarkan kasus nyata, yaitu Hidden Figures. Film ini menceritakan kisah dari seorang matematikawan Afrika-Amerika, Katherine Johnson dan dua rekannya, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson, yang bekerja di bagian West Area Computers di Pusat Penelitian Langley, untuk membantu NASA mengejar ketinggalan dalam Perlombaan Angkasa. Menggunakan perhitungan mereka, John Glenn menjadi astronot Amerika pertama yang mengorbit Bumi (Entertaiment.kompas.com). Ketika itu, Rusia berhasil meluncurkan satelitnya. Direktur Space Task Force, Al Harrison (Kevin Costner) mengalami tekanan untuk mengirim para astronot Amerika ke luar angkasa. Katherine ditugaskan untuk membantu tim Harrison. Ia merupakan satu-satunya perempuan kulit hitam di tim itu. Kehadiran Katherine disambut negatif oleh tim tersebut. Dorothy juga mengalami masalah serupa. Permintaannya untuk dipromosikan menjadi penyelia ditolak. Padahal selama ini ia sudah menjalankan pekerjaan layaknya penyelia. Di sisi lain, Mary mengalami kesulitan untuk mengambil gelar pendidikan lebih tinggi meskipun ia berhasil menemukan kesalahan dalam sebuah eksperimen space capsule (Entertaiment.kompas.com). Mereka bahkan membeda-beda kan kamar mandi berdasarkan warna kulitnya sehingga, memaksa Katherine harus berlari 1 km hanya untuk ke kamar mandi. Diskriminasi yang terjadi disini sudah berubah menjadi aksi yang berawal dari stereotip warna kulit karena menurut (Fulthoni, et.al, 2009) diskriminasi adalah tindakan memperlakukan orang lain tidak adil hanya karena dia berasal dari kelompok tertentu.

Mereka mengalahkan perbedaan perlakuan itu dengan menunjukkan prestasi. Katherine berhasil memecahkan masalah matematika yang dihadapi tim Harrison. Ia akhirnya diundang mengikuti rapat dengan para astronot dalam rapat untuk mencari cara agar astronot John Glenn (Glenn Powell) bisa dikirim ke luar angkasa dan pulang dengan selamat. Presentasi Katherine membuat orang-orang yang hadir di rapat tersebut terkesan. Terutama John Glenn. Sementara itu, Mary berjuang untuk meyakinkan hakim di persidangan, supaya memperbolehkan ikut kuliah jurusan mesin. Awalnya hakim tidak memperbolehkan dengan alasan belum ada sejarahnya perempuan ikut kelas tersebut. Namun Mary tidak menyerah. Di sisi lain, Dorothy berhasil memecahkan masalah dalam instalasi mesin komputer IBM 7090. Ketika Vivian akhirnya mempromosikannya menjadi penyelia, ia menuntut agar anak buahnya yang juga para perempuan kulit hitam, untuk masuk dalam timnya. Berita buruk diterima Katherine ketika pekerjannya sudah tidak dibutuhkan lagi di sana. Al dengan terpaksa memutuskan untuk mencarikan Katherine pekerjaan lain di NASA. Namun perannya kembali dibutuhkan ketika pesawat ruang angkasa yang akan membawa John Glenn akan diluncurkan. Astronot itu memintanya memastikan kalkulasi kordinat pendaratan. Ia juga diberi akses masuk ke ruangan kontrol dan menyaksikan peristiwa bersejarah, astronot Amerika sukses dikirim ke luar angkasa. Setelah misi John Glenn berhasil dan pulang dengan selamat, Katherine kembali ditempatkan di Divisi Analysis and Computation. Dorothy meneruskan pekerjaannya untuk  mengawasi Departemen Programming dan Mary berhasil mendapatkan gelar insinyur mesin. (Entertaiment.kompas.com)

Kejadian di film ini terjadi pada tahun 1960-an dan pada waktu tersebut belum ada hukum yang mengatur tentang diskriminasi dan ketidakadilan di tempat kerja ini. Namun, sekarang sudah ada yang mengatur proses hukum yang berhubungan dengan hukum ketenaga  kerjaan yaitu, Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) (Aamodt, 2007). Dalam film Hidden Figures diskriminasi yang terjadi lebih ke ras dan warna kulit, di Amerika diskriminasi mengenai warna kulit sudah dilindungi oleh undang-undang. Jika ada invididu yang melakukan diskriminasi, akan dikenakan sanksi $500 juta. Maka UUD tersebut ditetapkan untuk menyadari perusahaan dan karyawan. Untuk diskriminasi karena ras sendiri sudah diantur dalam UUD di Amandemen 5 dan 4. Agar setiap karyawan di perlakukan dengan adil seperti gaji dan lain sebagainya (Aamodt, 2007). Meskipun, masih sering terjadi diskriminasi antara ras dan warna kulit namun menurut saya sekarang ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan diskriminasi yang dirasakan oleh Katherine, Dorothy, Mary dan mungkin banyak warga kulit hitam yang pernah merasakannya.

 

images

 

 

 

 

Daftar Referensi

Aamodt, G. M. 2007. Industrial/Organizational Psychology. 6th edition

Ardiyan. 2012. Wanita Pekerja, antara Diskriminasi dalam Lingkungan Kerja dan Tanggung                  Jawab terhadap Rumah Tangga. Ilmiah Volume 12  No. 2.

Evita. 2011. Ide-ide Feminis Sebagai Resistensi Terhadap Ketidakadilan Gender dalam Film                  미인도 (The Portrait of Beauty): Kajian Kritik Sastra Feminis. Skripsi. Yogyakarta:                     Universitas Gadjah Mada.

Fulthoni, et. al. 2009. Memahami Diskriminasi: Buku Saku Kebebasan Beragama.                                   Jakarta:ILRC.

Lapian, Gandhi. 2012. Disiplin Hukum yang Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender.                Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Liliweri, A. 2007. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat

Multikultur. Yogyakarta: LkiS.

Poerwadarminta, W.J.S. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga.

Jakarta: Balai Pustaka.

Titaley, T.F. “Hidden Figures”, Tiga Perempuan Kulit Hitam Melawan Diskriminasi.

Diakses dari http://entertainment.entertaiment.kompas.com

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s