Stres di dalam Pekerjaan

          Stres timbul tidak hanya karena masalah keluarga, himpitan ekonomi dan social. Masalah pekerjaan yang berat dan membebani sering membuat seseorang mengalami stres. Stres sebenarnya bukanlah suatu penyakit, namun stres yang berkepanjangan dan berlarut-larut tentunya akan mengakibatkan masalah pada gangguan masalah kesehatan. Menurut Hartono dan Boy (2012) stres adalah suatu bentuk gangguan emosi yang di sebabkan adany atekanan yang tidak dapat diatasi oleh individu. Stres terjadi jika seseorang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik atau psikologisnya. Peristiwa-peristiwa tersebut di sebut stresor, dan reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres. Stres yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan emosi yang menyakitkan seperti kecemasan dan depresi.

          Aamodth (2010) mengatakan bahwa banyak kejadian dan faktor bisa dianggap stres, dan, seperti yang dinyatakan sebelumnya, apa yang menimbulkan stres bagi satu orang mungkin tidak untuk yang lain. Sekali lagi, apa yang menentukan apakah sesuatu akan menjadi stressor tergantung banyak pada pentingnya dan jumlah pengendalian dirasakan. Stres dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar: pribadi dan pekerjaan.

            Stres memengaruhi siapa saja di tempat kerja. Tak peduli apa pun jenis pekerjaan yang Anda lakukan, atau bagaimanapun lingkungan asal Anda. Baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, pria maupun wanita, tak seorangpun kebal akan stres. Stres di tempat kerja berdampak terhadap kesehatan dan seluruh keberadaan Anda, juga terdapat kualitas dari kehidupan Anda dirumah.

            Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang mengalami stress akan terganggu siklus kehidupannya dan merasakan ketidaknyamanan. Bahkan, stress yang berkelanjutan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain sehingga masyarakat perlu memahami indikasi gejala stress, dampak stress pada diri individu, mengetahui penyebab stress, dan cara menguranginya.

            Pekerjaan rutin dan masalah yang selalu berganti kadang mendatangkan stres pada diri seorang karyawan. Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial, dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan, atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur, dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku komplusif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gejala stres. Perasaan was-was, frustasi, atau kelesuhan dapat muncul bersamaan dengan stres (Jumadi Subur, 2011).

            Penting untuk memahami konsekuensi-konsekuensi dari faktor-faktor penyebab stres yang negatife serta cara Anda bereaksi terhadapnya. Stres telah diimplikasikan sebagai factor penyebab dalam penyakit jantung, stroke, kanker, gangguan pernapasan, pengeroposan tulang, gangguan lambung, susah tidur (insomnia), gangguan psikologis (depresi, bunuh diri), penyakit psikosomatis, gangguan pada kulit, penyakit-penyakit kronis, dan rasa nyeri.

            Secara umum faktor penyebab stres digolongkan menjadi beberapa kelompok berikut (Hartono, 2007):

  1. Tekanan fisik: kerja otot atau olahraga yang berat, kerja otak yang terlalu lama, dan sebagainya.
  2. Tekanan psikologis: hubungan suami istri atau orang tua-anak, persaingan antar saudara atau teman kerja, hubungan sosial lainnya, etika moral, dan sebagainya.
  3. Tekanan sosial ekonomi: kesulitan ekonomi, rasialisme, dan sebagainya.

            WHO menyatakan stres bukan hanya menyerang negara Amerika Serikat, tapi juga merupakan epidemic yang menyebar ke seluruh dunia. Laporan PBB menjuluki stres kerja sebagai “penyakit abad 20”. The American Institute of Stress menyatakan bahwa penyakit-penyakit yang berkaitan dengan stres telah menyebabkan kerugian ekonomi negara Amerika Serikat lebih dari $100 miliar per tahun. Sakit dan kecelakaan yang dialami akibat stres telah mengambil bagian sebanyak tiga perempat dari alasan ketidakhadiran karyawan. Data yang diperoleh dari Biro Statistik Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jumlah hari yang dipakai para pekerja untuk absen dengan alasan mengalami gangguan yang berkaitan dengan masalah stres bisa mencapai sekitar 20 hari. Departemen Dalam Negeri memperkirakan, 40% dari kasus keluar masuknya tenaga kerja disebabkan oleh masalah stres. Perkiraan ini didasari oleh kenyataan bahwa 60 sampai 90% kunjungan ke dokter disebabkan oleh masalah-masalah yang berkaitan dengan stres. Stres di tempat kerja bercampur dengan stres di rumah, menciptakan stres ganda campuran yang mempunyai dampak besar dalam kehidupan Anda. Agar dapat menjalani kehidupan yang sehat dan panjang umur, kita harus mampu mengendalikan stres.

            Menurut Zen Zainul (2007) ada beberapa cara dalam mengendalikan stres, yaitu:

  1. Harmonisasi

Yaitu menjalankan hidup dengan harmonis dan seimbang. Hal ini berkaitan dengan tingkat kecerdasan Anda dalam menjalankan pola kehidupan Anda sendiri. Biasanya, orang sering menyebut hal ini sebagai gaya hidup (life style). Gaya hidup yang over beban, over acting, dan over dosis akan memicu orang mudah masuk ke area stres. Sebaliknya, aturlah gaya hidup  Anda agar lebih disiplin dan bersahaja serta makanlah secara halal, baik, seimbang, dan tidak berlebihan. Makanan dan minuman pemicu stres sebaiknya dihindarkan, seperti alkohol, kopi, gula, dan garam. Juga kecanduan pada rokok apalagi narkoba adalah jurang stres yang terdalam. Dengan hidup seimbang dan normal akan mengembalikan kestabilan kondisi fisik Anda dan akan mengurangi akibat negatif stres.

  1. Eksaminasi

Adalah olah gerak yang disiplin dan teratur. Anda akan sangat kesulitan mengatasi hidup yang penuh dengan stres jika Anda sendiri tidak sehat secara lahir. Dengan melakukan olah gerak yang efektif maka stres dapat dihindarkan.

  1. Relaksasi

Dalam hal relaksasi ada dua bagian, yaitu (1) relaksasi lahir yang berupa aktivitas untuk kelenturan tubuh serta melemaskan kembali otot yang tegang dan (2) relaksasi fikir, yaitu guna menurunkan frekuensi gelombang otak. Selain itu, penyaluran hobi serta melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan hati, seperti berjalan-jalan di alam terbuka, seperti pegunungan, laut, dan taman atau berdarma wisata merupakan cara relaksasi atau sebagai ‘ventilasi’ dari tekanan stres. Kecerdasan emosi dan spiritual juga merupakan bagian dari kemampuan menyelaraskan hidup dan sebuah langkah relaksasi sebagai penangkal timbulnya stres.

  1. Stabilisasi

Dalam hal ini, stabilisasi emosi dan pola piker membawa Anda kepada keadaan fisik yang prima. Cara berpikir yang minus, seperti terlalu banyak berpikiran kotor, berprasangka buruk (suudzon), rasa takut berlebihan, pesimistis, dan asumsi-asumsi irasional dalam banyak hal merupakan ‘pupuk’ bagi stres itu sendiri. Janganlah Anda hidup terlampau jauh berangan-angan. Terimalah segala sesuatu itu sebagai bagian dari romantika dan dinamika hidup, dan jangan lari dari realitas sosial adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka memperbaiki sikap Anda.

  1. Evaluasi

Kita harus mampu menurunkan tingkatan stres yang kita alami sehari-hari melalui pemberian skala prioritas kegiatan dan evaluasi. Jangan seringkali melakukan kesalahan dengan bekerja di luar kapasitas diri, justru ini akan terus memicu stres. Susun dan pilihlah pekerjaan atau kegiatan yang efektif dan efisien. Misalnya, apabila ada alternatif jalan yang tak macet, kenapa Anda harus memaksakan diri bermacet ria. Atau kalau ada pekerjaan yang sama, tetapi salah satunya tidak menguras energi dan pikiran lebih banyak, maka pilihlah itu. Anda juga secara periodic harus mengecek kondisi tubuh Anda, baik fisik maupun psikis, apakah ada tanda-tanda Anda bebas stres secara terukur. Misalnya, idealkah berat badan dan detak jantung Anda? Bagaimana gula darah Anda? Apakah Anda masih sering pusing? Dan lain sebagainya.

—————

Daftar Referensi

Aamondt, M.G. (2010). Industrial/organizational psychology: An applied approac, 6th edition. Wadsworth, United State of America.

Hartono dan Boy. (2012). Psikologi konseling: Edisi revisi. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Hartono LA. (2007). Stres & Stroke. Kanisius.

Losyk Bob. (2007). Kendalikan Stres Anda! Cara Mengatasi Stres dan Sukses di Tempat Kerja. PT Gramedia Pustaka Utama.

Subur Jumadi. (2011). Employee Revolution. Raih  Asa Sukses.

Zainul Zen. (2007). Kekuatan Metode LAFIDZI. QultumMedia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s